Sukses

2 Faktor Utama Pemantik Banjir Bandang di Garut Versi Pemerintah

Liputan6.com, Garut - Pemerintah daerah (Pemda) Garut, Jawa Barat mencatat beberapa faktor pemicu terjadinya musibah banjir bandang yang menerjang di dua kecamatan Garut Utama sore kemarin.

“Faktornya pertama karena curah hujan yang sangat tinggi, ini memang beberapa hari ini bukan hanya di daerah sini, tapi Garut secara keseluruhan,” ujar Wakil Bupati Garut, Helmi Budiman, saat pengecekan lapangan di lokasi bencana Karangtengah, Ahad (28/11/2021).

Menurut Helmi, musibah banjir bandang yang melululuhlantakkan beberapa kampung di beberapa desa di dua kecamatan pada Sabtu akibat intensitas hujan yang terbilang tinggi.

“Hampir semua sungai juga mengalami pendangkalan, ada yang dari lumpur-lumpur dan sebagainya,” kata dia.

Faktor kedua ujar dia, terjadinya penyempitan sungai di beberapa desa, sehingga volume air yang turun tidak seluruhnya tertampung dengan baik, hingga menyapu wilayah di sekitarnya.

Ia mencontohkan, salah satu sungai Ciloa di Kecamatan Sukawening yang telah menyempit menjadi tiga meter, dari lebar sebelumnya di kisaran 12 meter.

“Ini mungkin harus ada perbaikan sodetan, sehingga saat normal tetap berjalan (menampung) walaupun itu hanya 3 meter,” kata dia.

Kondisi itu ujar dia, bertambah parah seiring banyaknya material alam seperti lumpur, batang dan ranting pohon yang terbawa saat musibah banjir bandang berlangsung. “Banyak pohon tumbang, terseret hingga akhirnya nyumbat,” ungkap dia.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

 

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

2 dari 2 halaman

Status Tanggap Darurat

Dalam rapat koordinasi gabungan seluruh instansi siang tadi, rencannya dalam waktu dekat Pemda Garut segera menetapkan status tanggap darurat musibah banjir bandang di Kecamatan Karangtengah dan Sukawening tersebut.

“Saya kira sebentar lagi bapak bupati akan segera tandatangani (status), ataupun mungkin saya yakin sudah ditandatangani,” kata dia.

Sebelumnya banjir bandang dengan material lumpur, pasir, bebatuan, batang dan ranting pohon menyapu puluhan rumah warga serta ratusan hektare sawah milik warga rusak.

Tidak hanya itu, sapuan banjir dengan hingga ketinggian 50 hingga satu meter lebih tersebut menyebabkan beberapa kendaraan baik roda empat ataupun roda dua, rusak.

Bahkan sebanyak 8 jembatan yang menyambungkan akses transportasi warga di beberapa desa di dua kecamatan ikut rusak, setelah musibah banjir bandang tersebut.

Hingga Minggu tampak ratusan warga di dua kecamatan mulai membersihkan rumah mereka dengan peralatan seadanya. Warga terdampak kini membutuhkan pasokan air bersih, air minum hingga kebutuhan pokok lainnya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.