Sukses

Setrum Angin dan Surya untuk Menjemput Cahaya Hingga Durian Musangking

Liputan6.com, Blora - Berkah dari sumber daya alam angin dan matahari kian bertambah bagi warga Desa Kedungringin, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Mereka berhasil memanfaatkan potensi itu menjadi sumber energi alternatif untuk pembangkit tenaga listrik.

Imbasnya, kini jalan kampung tidak lagi gelap jika malam hari tiba. Sudah ada penerangan lampu bersumber dari energi alternatif tersebut.

Sumber penerangan lampu itu berasal dari energi angin dan matahari yang dimanfaatkan untuk pembangkit listrik mandiri sejak 2018 silam sampai saat ini. Terobosan itu juga menjawab keluhan masyarakat tentang kurangnya penerangan jalan kampung.

"Ini sudah ada sejak tahun 2018, sekarang jalan kampung sudah terang," kata Kepala Desa Kedungringin, Hadi, ketika ditemui Liputan6.com di rumahnya, Sabtu (28/8/2021).

Tak hanya untuk penerangan jalan, pembangkit listrik mandiri tersebut sering juga dimanfaatkan warga masyarakat untuk kebutuhan sehari-harinya mereka. Misal untuk mengisi daya baterai telepon seluler maupun laptop.

Sekarang kampung ini sudah punya dua unit yang dipasang di area persawahan agar kincir angin pembangkit listrik bisa dengan mudah berputar ketika tertiup angin. Serta solar cell juga lebih bisa mendapatkan panas terik matahari secara maksimal.

"Kolaborasi memanfaatkan tenaga angin dan energi matahari. Karena ada solar cell, daya sinar matahari bisa masuk dan tersimpan ke accu yang terpasang," jelas Hadi.

Tenaga angin yang dihasilkan dari pembangkit listrik mandiri di Desa Kedungringin, jika dalam sehari kecepatannya 4 m/s selama 6 jam, maka akan mampu menghasilkan daya sekitar 622,08 Wh.

"Sedangkan solar cell yang terpasang, masing-masing dayanya adalah 20 Wp. Untuk ukuran maksimalnya energi listrik tergantung panas matahari yang didapatkan," katanya.

Pekerjaan maintenance alias perawatan pembangkit listrik mandiri yaitu berupa pengisian air accu dan memberi pelumas pada laker kincir angin saja.

Jika memungkinkan, Hadi bercita-cita ingin mengembangkan keberadaan pembangkit listrik mandiri di desanya dengan kapasitas yang lebih besar. Nantinya untuk melayani penduduk sekitar 1.200 warga terdiri dari 400 Kepala Keluarga. 

"Karena selain ekonomis, tidak perlu bayar bulanan atau membeli token pulsa. Dengan pembangkit listrik mandiri pengeluaran lebih bisa diminimalkan," ucapnya.

Menurut Hadi, Desa Kedungringin termasuk salah satu desa pelopor yang awal pertama kali terpasang pembangkit listrik mandiri di Blora. Tahun 2020, Desa Kedungringin juga masuk penerima penghargaan desa mandiri energi Jawa Tengah.

Aliran listrik mandiri ini disambut hangat warga. Siti (46), salah satu warga desa setempat, misalnya, mengaku terbantu dengan adanya pembangkit tenaga listrik tersebut.

"Sangat membantu kami, jalan jadi terang," ungkap Siti ketika duduk bersantai di depan rumahnya.

Ia menceritakan dulunya kondisi jalan begitu gelap karena penerangan jalan masuk menuju Desa Kedungringin tidak merata. Namun, sekarang jalan kampung sudah terang.

 

 

Simak Video Pilihan Berikut Ini:

2 dari 2 halaman

Potensi Iradiasi di Blora

Pengamat energi terbarukan dari PEM Akamigas Cepu, Asepta Surya Wardhana, mengatakan bahwa potensi iradiasi di Kabupaten Blora mencapai 4,6kWh/m2/hari pada bulan Agustus ini. Sehingga kondisi itu sangat bagus dimanfaatkan sebagai energi listrik.

"Sehingga konversi menjadi energi listrik sangat menguntungkan," katanya.

Asepta menyampaikan bahwa pemanfaatan energi yang ramah lingkungan sangat mendapat dukungan dari Bupati Blora Arief Rohman. Untuk itu, pada 2020 PEM Akamigas melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) beserta Perhutani Cepu dan LMDH juga telah mengembangkan teknologi panel surya 200 Wp menggunakan pompa submersible DC 180 watt.

"Pompa itu untuk irigasi tanaman di lahan yang tidak produksi atau gersang di Petak 35L, Gardu Sapi Kelurahan Karangboyo Cepu," kata Asepta.

Pada 2021 ini kegiatan PKM dikembangkan untuk mengarah ke potensi agro wisata di Desa Ngumbul, Kecamatan Todanan. Desa tersebut termasuk kategori Desa Merah atau miskin, berdasarkan Surat Gubernur No.460/0004858 tanggal 25 Maret 2021 terkait upaya percepatan penanggulangan kemiskinan.

Secara geografis Desa Ngumbul mempunyai luas 1040,220 ha namun masih ada 53,00 ha lahan kritis dan 362,000 ha lahan kering. Dari sisi penduduk ada 2218 Orang yang termasuk penduduk miskin.

"Program itu nantinya bisa sebagai upaya percepatan penanggulangan kemiskinan," kata Asepta.

Kegiatan itu diiringi pendampingan desa oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Blora. Program lain adalah mengangkat potensi wisata alam yang terdapat di Ngumbul di kawasan bukit Mangir dan Jonggrang berupa bukit batuan karst dengan pandangan puncak yang dari situ terlihat desa-desa sekitarnya.

Pengembangan energi terbarukan melalui pemanfaatan panel surya sebesar 400 Wp dengan pompa submersible 350 watt dapat mengangkat air sumber yang ada di kawasan gunung Manggir, sehingga dimanfaatkan sebagai pengairan lahan dan kebutuhan air minum menggunakan teknologi reverse osmosis (RO).

Beberapa pemuda dan kelompok tani juga siap untuk mendukung kegiatan ini. Salah satunya penggeraknya adalah Udin yang berharap desanya dapat maju melalui agro wisata tanaman matoa, alpukat, klengkeng, blimbing, serta durian musangking yang sekarang sedang dibibit.

"Harapannya dalam 3-4 tahun ke depan hasil andalan durian musangking khas Malaysia ini dapat dirasakan juga di Desa Ngumbul," terangnya.

Menurut Parji selaku lurah Todanan, sumber air yang sudah dapat dipompa menggunakan energi ramah lingkungan ini akan dikembangkan menjadi bumi perkemahan dan wisata anak di Gunung Manggir yang mempunyai view pemandangan indah dilihat dari atas bukit.

"Kami berharap pada tahun 2021 ini PKM dapat terwujud sehingga masyarakat lebih produktif dan sejahtera," katanya.