Sukses

65 Poktan di Garut Kembangkan Program Jagung Berbasis Korporasi, Apa Itu?

Liputan6.com, Garut - Untuk meningkatkan produktivitas jagung, kabupaten Garut, Jawa Barat, segera mengembangkan pola pengembangan lahan pertanian berbasis korporasi.

Total sebanyak 65 kelompok tani di empat kecamatan, yakni Bungbulang, Cikelet, Mekarmukti, dan Pakenjeng segara menjalankan pola itu.

Kepala Dinas Pertanian Garut Beni Yoga Gunasantika mengatakan, untuk mendukung program peningkatan produksi jagung nasional, pemerintah pusat mulai mengembangkan program jagung berbasis korporasi.

“Kebetulan dikawasan selatan garut ada lahan luas dan juga ada koperasinya milik PT, Condong,” kata dia, Senin (2/8/2021).

Dalam praktiknya, hasil panen jagung petani dihargai lebih tinggi sekitar 3 persen dibanding saat menjual produksi jagungnya ke tengkulak. “Misalnya jika harga lokal Rp10 ribu per kilogram maka petani menjual dengan harga Rp 10.300 per kilogram,” katanya.

Kondisi itu dipermudah dengan bantuan pinjaman pupuk, benih, dan lainnya yang berasal dari koperasi atau lembaga yang menaungi petani atau kelompoknya, dengan harga lebih murah 3 persen.

“Misal bila harga pupuk 10 ribu  per kg, maka harga beli petani hanya Rp 9.700 per kilogram atau berkurang sekitar 3 persen,” ujar dia.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Simak juga video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Banyak Keuntungan

Dengan upaya itu, bakal banyak keuntungan yang dinikmati dalam upaya meningkatkan kesejahteraan mereka, sekaligus pelecut untuk meningkatkan produksi jagung nasional. “Nanti akan dikembangkan juga di beberapa wilayah Garut,” kata dia.

Tidak hanya itu ujar dia, kemudahan sistem yang dibina antara petani dan koperasi, diharapkan mampu menunjang percepatan pemulihan ekonomi masyarakat, terutama penanganan pelemahan ekonomi warga akibat Covid-19.

Saat ini total lahan garapan jagung yang akan diujicobakan dalam program korporasi itu seluas 2.850 hektar yang tersebar di empat kecamatan wilayah Garut Selatan. “Untuk setiap kecamatan luasnya tidak sama,” ujar dia.

Rata-rata panen jagung yang berhasil dipetik petani berkisar di angka 7,7 ton per hektar atau sekitar 21 ribu ton lebih potensi jagung yang akan dihasilkan dengan pola tersebut.

Beny menyatakan, seiring terus meningkatnya produksi jagung petani, Garut mulai diperhitungkan sebagai salah satu lumbung produksi jagung nasional, dengan sumbangsih hingga 45 persen lebih produksi Jawa Barat.

Dengan upaya korporasi ujar dia, pemerintah pusat semakin gencar mensosialisasikan program pengembangan korporasi berkelanjutan di beberapa sentra ekonomi pangan warga.

“Kementrian pertanian mendorong korporasi petani sebagai model kelembagaan kerja sama ekonomi, seperti yang dibentuk di Garut ini dalam wadah koperasi,” ujarnya.