Sukses

Mudah dan Murah Cari Jajanan Tradisional di Yogyakarta, Cek Lokasinya

Liputan6.com, Yogyakarta - Mencari jajanan tradisional atau jajanan pasar di Yogyakarta tidak semudah dulu. Sekalipun tidak seperti mencari jarum dalam sekam, tetapi menemukan penjual jajanan tradisional di Yogyakarta yang tepat tidak bisa dibilang gampang.

Tak jarang asal pilih penjual jajanan tradisional, seperti klepon, tiwul, lopis, cenil, dan sebagainya, justru hasilnya mengecewakan. Di Yogyakarta, ada sejumlah penjual jajanan tradisional yang legendaris. Penyuka jajanan tradisional pasti tidak akan kecewa.

Berikut sejumlah pedagang jajanan tradisional di Yogyakarta yang masih bertahan:

1. Klepon Pak Bagyo

Klepon terbuat dari tepung beras ketan yang diberi pewarna hijau atau putih. Kemudian isi klepon dengan gula merah lalu dibentuk bulat seperti bola-bola kecil. Setelah itu, adonan direbus dalam air mendidih. 

Kuliner nusantara ini memiliki tekstur yang sangat lembut dengan perpaduan manis gula merah dan ditaburi parutan kelapa. Ada sensasi menarik saat mengunyahnya. Klepon akan meletup di mulut karena gula merah yang cair di dalamnya akan muncrat ketika digigit. 

Umumnya, klepon berwarna hijau didapatkan dari bahan pewarna daun suji atau daun pandan. Namun berkembangnya zaman membuat para penjual ikut berinovasi menggunakan warna yang lebih menarik lagi misalnya ungu dari ubi ungu. 

Rasa klepon pun kian bervariasi, tidak melulu isinya gula merah, melainkan ada juga cokelat, stroberi, nanas, dan sebagainya.

Salah satu penjual klepon di Yogyakarta yang masih melestarikan penganan ini adalah Pak Bagyo. Lokasinya berada di Pasar Kolombo Yogyakarta. Harga jajanan tradisional di Yogyakarta ini bervariasi mulai dari Rp5.000 sampai Rp10.000 satu porsi dibungkus menggunakan daun pisang.

 

2 dari 3 halaman

Lopis Mbah Satinem

2. Lopis Mbah Satinem

Sebagian besar pencintanya rela antre berjubel demi membeli cemilan lopis bertabur kelapa parut yang dibungkus daun pisang milik Mbah Satinem.

Tidak hanya lopis, Mbah Satinem juga berjualan gatot, tiwul, hingga cenil sejak tahun 1962. Harga per porsi hanya Rp5.000. 

Walau lapak usaha Mbah Satinem di pinggir jalan, tetapi pelanggannya begitu banyak. Banyak pembeli yang rela antre sejak pagi buta. 

Setiap hari, Mbah Satinem membuat adonan lopis sebanyak 10 kilogram. Omzet penjualan lopis bisa mencapai Rp2.000.000. Lopis Mbah Satinem bisa ditemui di depan ruko di Jalan Bumijo, Kecamatan Jetis, Kota Yogyakarta.

3. Nasi Tiwul Mbah Hadi

Pada awal kemunculannya, nasi tiwul tidak memiliki rasa alias tawar. Namun, kini seiring berkembangnya zaman, kuliner ini lantas diberi perasa agar menambah kelezatan, seperti gula pasir, gula jawa, cokelat, hingga keju.

Nasi Tiwul merupakan olahan dari singkong kering yang ditumbuk kasar kemudian direbus. Saat ditiriskan akan berbentuk seperti nasi yang dijuluki Nasi Tiwul.

Di Yogyakarta salah satu penjual Nasi Tiwul yang cukup terkenal adalah Mbah Hadi.

Sejak tahun 1975 sampai sekarang, rasanya tidak pernah berubah. Olahan tiwul sangat pulen dengan warna cokelat khasnya. Tak heran jika masih banyak diburu pelanggan. 

Dalam penyajiannya dibungkus dengan sepucuk daun pisang, sehingga semakin menambah aroma dan nuansa tradisional. 

Harganya pun terjangkau, yaitu mulai dari Rp3.000. Nasi Tiwul Mbah Hadi buka dari pukul 16.30 sampai 20.00 WIB di utara Tugu Yogyakarta, tepatnya di depan Gereja St Albertus Magnus Jetisharjo.

 

Penulis: Evi Nur Afiah

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini: