Sukses

Pelemparan Bom Molotov Warnai Bentrok Buntut dari Demo Penolakan UU Cipta Kerja di Makassar

Liputan6.com, Makassar - Bentrok antara mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM) dan warga di Jalan AP Pettarani, Kota Makassar terus berlanjut hingga pukul 04.00 Wita. Kondisi di sekitar lokasi kejadian terlihat mencekam lantaran kedua kelompok kini tak hanya saling lempar batu, mereka juga saling menembakkan petasan dan melempar bom molotov. 

"Mengerikan, beberapa kali kubu warga melempar molotov ke dalam kampus. Mereka juga menembak petasan," kata salah seorang warga yang menjadi saksi mata bernama Aan, kepada Liputan6.com, Kamis (8/10/2020) dini hari. 

Aan menyebutkan bahwa lemparan bom molotov itu kemudian tembakan senapan angin dari dalam area kampus. Salah seorang warga bahkan menjadi korban tembakan senapan angin tersebut. 

"Kena itu juru parkir pinggangnya tembakan senapan angin, untung tidak tembus," jelas Aan. 

Bentrokan yang terus memanas itu membuat sejumlah pengendara yang hendak melintas di Jalan AP Pettarani terpaksa putar balik. Mereka khawatir menjadi korban lemparan batu atau bom molotov. 

Berdasarkan informasi yang diterima Liputan6.com, ada tujuh pemuda yang diamankan oleh polisi berpakaian preman dalam insiden bentrok buntut dari demonstrasi penolakan UU Cipta Lapangan Kerja itu. 

Ketujuh pemuda adalah mahasiswa berinisial FT (22), MF (18), dan RZ (18). Dua pelajar berinisial RH (17) dan RS (16) serta dua orang warga berinisial AF (20) dan IK (21). Mereka kini tengah menjalani pemeriksaan di Polsek Rappocini.

2 dari 2 halaman

Demo Penolakan UU Cipta Kerja hingga tengah malam

Sebelumnya, bentrok pecah di Jalan AP Pettarani, Kota Makassar pada Kamis (8/10/2020) tengah malam sekitar pukul 00.30 Wita. Aksi saling lempar batu mewarnai kericuhan antara mahasiswa Universitas Negeri Makassar dan warga setempat itu. 

Mulanya puluhan mahasiswa UNM memblokade dua ruas jalan AP Pettarani saat berdemo menolak pengesahan Undang-undang Cipta Lapangan Kerja. Mereka memblokade jalan dengan mobil truk sejak pukul 15.00 Wita hingga kericuhan pecah. 

"Dari sore tutup jalan, sebelum Salat Asar," kata salah seorang warga bernama Eki, kepada Liputan6.com, Kamis (8/10/2020). 

Eki menjelaskan kericuhan kemudian pecah saat tengah malam lantaran ada provokasi dari salah satu kubu. Aksi saling lempar batu dan kejar-kejaran pun terjadi. 

"Saya tidak tau persis siapa duluan yang melempar batu, tiba-tiba saja kericuhan pecah," ucapnya. 

Pantauan Liputan6.com, sejumlah gedung yang ada di sekitar lokasi kejadian turut menjadi sasaran, termasuk gedung Mess Telkom dan Pos Sekuriti Hotel Claro. 

Selain itu, beberapa kendaraan roda dua yang berada di bahu jalan juga dirusak oleh dua kelompok yang terlibat bentrok itu. 

Hingga pukul 02.15 Wita kericuhan masih terus berlanjut. Kericuhan tersebut tak kunjung reda lantaran tidak ada aparat keamanan yang melerai kedua kubu.