Liputan6.com, Jakarta Memahami bagaimana cara melestarikan tumbuhan merupakan langkah krusial dalam menjaga keseimbangan ekosistem yang menjadi fondasi kehidupan di Bumi. Setiap jenis tanaman, mulai dari pepohonan di hutan hujan tropis hingga rerumputan di padang savana, memiliki peran ekologis yang tak tergantikan bagi lingkungan sekitarnya.
Berbagai strategi pelestarian seperti reboisasi, konservasi di kawasan lindung, pemanfaatan bank benih, hingga pertanian berkelanjutan menjadi jawaban konkret atas pertanyaan bagaimana cara melestarikan tumbuhan secara efektif. Sinergi antara individu, komunitas lokal, dan kebijakan pemerintah akan menentukan keberhasilan perlindungan keanekaragaman hayati untuk generasi mendatang.
Dilansir dari laporan State of the World's Plants and Fungi oleh Royal Botanic Gardens, RBG Kew yang berbasis pada data International Union for Conservation of Nature (IUCN), sekitar 40 persen spesies tumbuhan di seluruh dunia saat ini terancam kepunahan. Ancaman utama berasal dari degradasi habitat, perubahan iklim, dan aktivitas manusia yang tidak berkelanjutan. Data ini menegaskan bahwa pelestarian tumbuhan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak yang harus ditindaklanjuti seluruh lapisan masyarakat.
Advertisement
1. Melindungi Tumbuhan Melalui Konservasi In-Situ dan Ex-Situ
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5565025/original/001755800_1777009220-foto_3_-_24_apr.jpeg)
Salah satu jawaban mendasar untuk pertanyaan bagaimana cara melestarikan tumbuhan adalah pendekatan konservasi. Konservasi tumbuhan merujuk pada metode dan strategi untuk melestarikan keanekaragaman hayati tanaman serta memastikan kelangsungan hidup spesies di habitat aslinya, yang mencakup pendekatan in-situ dan ex-situ.
-
Mendirikan dan Menjaga Kawasan Lindung: Konservasi in-situ melibatkan pemeliharaan tumbuhan di lingkungan aslinya, sehingga membantu mempertahankan relung ekologi dan menjaga ekosistem alam tetap utuh. Contohnya meliputi taman nasional, cagar alam, dan kawasan lindung. Di Indonesia, puluhan hutan konservasi berperan sebagai rumah bagi ribuan spesies tumbuhan endemik yang tidak ditemukan di tempat lain.
-
Membangun Kebun Raya dan Arboretum: Konservasi ex-situ melibatkan pelestarian tumbuhan di luar habitat alaminya dan vital untuk mencegah kepunahan. Metode ini mencakup kebun raya, bank benih, dan laboratorium kultur jaringan. BRIN mendorong kebun raya untuk memimpin misi konservasi dan pembangunan berkelanjutan, sekaligus menjadi pusat edukasi publik tentang pelestarian flora.
-
Mendirikan Bank Benih untuk Perlindungan Jangka Panjang: Bank benih memainkan peran esensial dalam konservasi spesies tumbuhan secara global. Fasilitas ini dirancang khusus untuk menyimpan biji dalam kondisi optimal guna menjamin pelestarian keragaman genetik. Merujuk data ScienceDirect, Millennium Seed Bank di Inggris menyimpan sekitar 2,4 miliar biji dari kurang lebih 40.000 spesies, menjadikannya bank benih terbesar di dunia. Sementara itu, Svalbard Global Seed Vault di Norwegia berfungsi sebagai bank benih terbesar yang menyimpan cadangan global untuk melindungi keanekaragaman pertanian.
-
Menerapkan Kultur Jaringan dan Teknologi Cryopreservation: Spesies yang tidak menghasilkan biji yang bertahan dalam penyimpanan konvensional membutuhkan cryobiotechnologies, termasuk penyimpanan kriogenik dalam nitrogen cair dan teknologi in vitro, yang memperluas potensi pelestarian seluruh keanekaragaman hayati tumbuhan. Inovasi ini membuka peluang besar bagi penyelamatan spesies langka yang sulit dilestarikan secara konvensional.
Mengacu pada laporan kolaborasi The North American Collections Assessment bersama United States Botanic Garden, hanya 39 persen spesies tumbuhan terancam punah di kawasan Amerika Utara yang saat ini terlindungi dalam koleksi kebun raya publik. Angka ini menunjukkan bahwa cakupan konservasi ex-situ perlu diperluas secara signifikan, baik di tingkat regional maupun global.
David Attenborough, naturalis legendaris asal Inggris, dikutip dari trvst.world menyatakan, "Ini adalah pertanyaan moral tentang apakah kita berhak memusnahkan spesies."
Center for Plant Conservation menegaskan, "Setiap spesies tumbuhan mewakili serangkaian strategi unik dan sumber informasi yang tak tergantikan tentang kelangsungan hidup di planet Bumi."
Baca juga: Memahami Konservasi sebagai Upaya Pelestarian Alam
Advertisement
2. Menerapkan Reboisasi dan Pengelolaan Hutan Secara Lestari
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4820344/original/019369500_1714705225-WhatsApp_Image_2024-05-03_at_07.44.48__2_.jpeg)
Reboisasi atau penanaman kembali pohon di lahan gundul merupakan salah satu cara paling nyata untuk melestarikan tumbuhan. Program penghijauan tidak hanya memulihkan populasi tanaman, tetapi juga mengembalikan fungsi ekosistem hutan sebagai penyerap karbon, pencegah erosi, dan habitat bagi berbagai organisme termasuk ekosistem mangrove yang kaya manfaat.
-
Melaksanakan Program Reboisasi di Lahan Kritis: Reboisasi adalah penanaman kembali hutan yang sebelumnya telah ditebang menggunakan jenis pohon asli dari wilayah geografis tersebut. Proses ini membantu memulihkan ekosistem yang rusak, melestarikan spesies flora dan fauna yang terancam, serta menyerap karbon dioksida dari atmosfer secara efektif.
-
Menerapkan Sistem Tebang Pilih: Sistem tebang pilih adalah metode penebangan yang hanya mengambil pohon-pohon tertentu berdasarkan kriteria usia, ukuran, atau jenisnya. Metode ini memberikan kesempatan bagi pohon-pohon muda untuk terus tumbuh dan menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Dengan menghindari penebangan massal, populasi tumbuhan tetap terjaga keberlanjutannya dalam jangka panjang.
-
Menjalankan Prinsip Tebang Tanam Kembali: Setiap pohon yang ditebang untuk kebutuhan industri atau domestik sebaiknya segera diganti dengan penanaman bibit baru. Prinsip ini memastikan bahwa pemanfaatan sumber daya hutan tidak melampaui kemampuan alam untuk memulihkan diri. Reboisasi menjadi usaha penting untuk melestarikan hutan dan seluruh ekosistem yang bergantung padanya.
-
Menghijaukan Lingkungan Perkotaan: Penghijauan juga sangat relevan di area urban. Menanam pohon di taman kota, jalur pedestrian, dan pekarangan rumah membantu meningkatkan kualitas udara serta menurunkan suhu lingkungan. Langkah sederhana ini menjadi bagian dari bagaimana cara melestarikan tumbuhan yang bisa dilakukan siapa saja di lingkungan terdekatnya, termasuk melalui konsep kebun produktif di pekarangan rumah.
Mengacu pada laporan Global Forest Resources Assessment oleh Food and Agriculture Organization (FAO), dunia telah kehilangan jutaan hektare hutan alam akibat deforestasi dalam beberapa dekade terakhir. Fakta ini memperkuat urgensi reboisasi skala besar dan pengelolaan hutan lestari agar kekayaan hayati yang tersisa tidak turut punah.
Baca juga: Pencemaran Lingkungan dan Cara Mengatasinya
3. Mengadopsi Pertanian Berkelanjutan dan Menanam Tumbuhan Asli
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1977939/original/040761200_1520588212-Jagung-5.jpg)
Sektor pertanian memiliki pengaruh besar terhadap kelestarian tumbuhan, baik secara positif maupun negatif. Pertanyaan tentang bagaimana cara melestarikan tumbuhan juga erat kaitannya dengan praktik bercocok tanam yang diterapkan sehari-hari, karena penerapan praktik pertanian berkelanjutan membantu mengurangi dampak terhadap habitat alami melalui teknik seperti pertanian organik, rotasi tanaman, dan agroforestri yang meringankan tekanan lingkungan serta mendukung keanekaragaman hayati.
-
Menanam Tumbuhan Asli (Native Plants): Salah satu cara terbaik dalam pelestarian tumbuhan adalah dengan menanam tanaman asli setempat, karena budidaya tanaman asli tidak memerlukan banyak air dan upaya perawatan yang intensif. Tumbuhan asli juga mendukung ekosistem lokal secara lebih optimal karena telah beradaptasi dengan kondisi tanah dan iklim di wilayah tersebut selama ribuan tahun.
-
Menerapkan Rotasi Tanaman dan Agroforestri: Rotasi tanaman mencegah penipisan unsur hara tanah dengan cara mengganti jenis tanaman yang ditanam secara berkala. Sementara itu, agroforestri menggabungkan budidaya tanaman pertanian dengan pepohonan dalam satu lahan, sehingga menciptakan sistem pertanian yang lebih beragam dan ramah lingkungan. Kedua metode ini menjaga kesuburan lahan sekaligus mendukung keragaman hayati.
-
Menggunakan Pengendalian Hama Alami: Mengganti pestisida kimia dengan metode alami merupakan langkah penting, seperti menggunakan serangga bermanfaat seperti kepik atau minyak neem yang efektif mengendalikan hama sambil menjaga kelestarian tumbuhan dan ekosistem secara keseluruhan.
-
Menerapkan Sistem Irigasi Efisien: Teknik irigasi yang tepat dapat mencegah banyak pemborosan air. Irigasi tetes misalnya, menyalurkan air langsung ke bagian akar sehingga tumbuhan mendapatkan pasokan sesuai kebutuhan. Pendekatan ini sejalan dengan upaya konservasi lingkungan dan mendukung keberlanjutan.
-
Mengurangi Penggunaan Pestisida Kimia: Penggunaan pestisida sintetis secara berlebihan tidak hanya membunuh hama, tetapi juga merusak mikroorganisme tanah yang penting bagi pertumbuhan tumbuhan. Beralih ke budidaya tanaman yang menggunakan pupuk organik dan metode pengendalian hama terpadu (PHT) menjadi solusi untuk melestarikan tumbuhan sekaligus menjaga kesehatan tanah.
Jennifer Neale, Direktur Riset dan Konservasi Denver Botanic Gardens, dikutip dari National Native Plant Month menyatakan, "Tanaman asli memainkan peran vital dalam menjaga kesehatan dan ketahanan lingkungan kita."
Sebagaimana dilaporkan oleh Endangered Species Coalition, krisis iklim dan kehilangan habitat menjadi kontributor utama hilangnya keanekaragaman hayati. Laporan tersebut mencatat bahwa saat ini sekitar sepertiga dari spesies asli di kawasan Amerika Serikat berada dalam risiko kepunahan. Statistik ini mempertegas pentingnya setiap langkah kecil dalam praktik pertanian dan kehidupan sehari-hari untuk mencegah meluasnya krisis kepunahan flora di tingkat global.
Baca juga: Konservasi sebagai Upaya Pelestarian Alam untuk Masa Depan
Advertisement
Peran Komunitas, Teknologi, dan Kebijakan dalam Pelestarian Tumbuhan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5574884/original/077579700_1777990280-1200x800_923255624381.jpg)
Pelestarian tumbuhan tidak bisa bergantung pada satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi aktif antara komunitas lokal, lembaga penelitian, sektor swasta, dan pemerintah untuk menciptakan dampak yang berkelanjutan. Suaka tumbuhan membantu menumbuhkan spesies tanaman yang terancam, mendukung penyerbukan lokal, dan mengelola keselamatan setiap tanaman. Setiap orang bahkan dapat menjadikan halaman atau kebun pribadinya sebagai suaka tumbuhan lokal guna melindungi spesies yang terancam secara langsung. Langkah seperti ini menjadi bagian penting dari bagaimana cara melestarikan tumbuhan yang dimulai dari skala terkecil.
Lahan-lahan masyarakat adat terbukti mampu menjaga koneksi yang kuat dengan perlindungan tumbuhan selama berabad-abad. Kawasan ini memiliki jumlah spesies terlindungi yang lebih tinggi dibandingkan taman negara, cagar alam, dan kawasan konservasi lain yang dikelola pemerintah. Perlindungan lahan adat sangat vital bagi pelestarian spesies tumbuhan yang terancam punah, karena para pengelola lahan adat memiliki pemahaman lebih mendalam tentang fungsi dan kebutuhan tanah mereka. Peringatan seperti Hari Lingkungan Hidup Nasional menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran kolektif terhadap pelestarian alam dan kearifan lokal.
Andrew Tilker, koordinator konservasi spesies Re:wild, dikutip dari Eco Friendly Homestead menyatakan, "Konservasi satwa liar, membiarkan spesies memainkan peran fungsionalnya dalam ekosistem, menawarkan potensi yang belum tergarap sebagai solusi perubahan iklim."
Dari sisi teknologi, bank benih komunitas menjadi platform penting dalam mendukung pengelolaan keanekaragaman hayati berbasis masyarakat dan sistem benih informal. Bank benih komunitas dapat diorganisir menjadi jaringan yang terhubung dengan lembaga penelitian nasional maupun internasional. Sementara dari sisi kebijakan, pemerintah berperan melalui pembentukan regulasi perlindungan tumbuhan langka, penegakan hukum terhadap penebangan liar, dan alokasi anggaran untuk program konservasi.
Upaya konservasi dapat mencakup perlindungan dan restorasi habitat, penerapan kebijakan regulasi pengumpulan dan perdagangan spesies tumbuhan langka, serta pembentukan kawasan lindung. Kawasan ekowisata mangrove misalnya, membuktikan bahwa konservasi dan perekonomian masyarakat bisa berjalan berdampingan secara harmonis.
Pada akhirnya, setiap tindakan kecil memiliki makna besar. Mulai dari menanam satu pohon di pekarangan, menghindari pembelian produk hasil penebangan liar, hingga mendukung organisasi konservasi, semua berkontribusi terhadap pelestarian tumbuhan. Kebutuhan akan konservasi tumbuhan sangat jelas, terutama mengingat terus berlanjutnya deforestasi dan perubahan iklim yang mengancam keberlangsungan hidup jutaan spesies di seluruh dunia.
Baca juga: Mengenal Lebih Dalam Upaya Pelestarian Alam dan Budaya
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Pelestarian Tumbuhan
Apa perbedaan konservasi in-situ dan ex-situ dalam pelestarian tumbuhan?
Konservasi in-situ adalah upaya melestarikan tumbuhan di habitat aslinya, misalnya melalui taman nasional dan cagar alam. Sementara itu, konservasi ex-situ dilakukan di luar habitat alami, seperti melalui kebun raya, bank benih, dan laboratorium kultur jaringan. Keduanya saling melengkapi dan sama-sama dibutuhkan untuk menjaga keanekaragaman hayati secara menyeluruh.
Mengapa bank benih penting untuk melestarikan tumbuhan?
Bank benih menyimpan biji dari berbagai spesies tumbuhan dalam kondisi terkontrol sehingga keragaman genetiknya tetap terjaga dalam jangka panjang. Fasilitas ini berfungsi sebagai cadangan apabila terjadi bencana alam, perubahan iklim ekstrem, atau kepunahan spesies di habitat aslinya. Bank benih seperti Svalbard Global Seed Vault dan Millennium Seed Bank menjadi benteng terakhir bagi ribuan spesies tumbuhan dunia.
Apa yang bisa dilakukan individu untuk turut melestarikan tumbuhan?
Setiap orang dapat berkontribusi dengan cara sederhana seperti menanam pohon di pekarangan, memilih produk ramah lingkungan, mengurangi penggunaan pestisida kimia, serta mendukung organisasi konservasi. Menjadikan halaman rumah sebagai kebun tanaman asli lokal juga sangat membantu menjaga ekosistem setempat. Tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten oleh banyak orang akan menghasilkan dampak besar bagi kelestarian tumbuhan dan lingkungan hidup.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262299/original/014349800_1781777647-Tugas__37_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5226996/original/003118400_1747799527-Putin.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8528276/original/060137100_1782459682-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-26T143742.924.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/2608262/original/030108300_1666512422-pexels-ibrahim-hasan-3944317.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5563984/original/065188900_1776922526-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1812235/original/087792300_1550019778-1709255D-BDFF-4E25-B45D-78CC996796BF.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8584006/original/084196900_1782546499-AP26178201151443.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8583299/original/047451600_1782545178-AP26178061252747.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8526854/original/004442800_1782457565-Hong_Myung-bo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8384804/original/025311600_1782263854-kroasia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8581680/original/086573300_1782542126-AP26178050808259.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8208033/original/056349800_1781066890-063_2280813255.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8293308/original/041888100_1782155517-AP26173640031261.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8322380/original/064889600_1782191323-063_2282870058.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578726/original/087210500_1782537285-063_2283517405.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578725/original/075292300_1782537284-063_2283517529.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8513111/original/058658300_1782436597-063_2283345627.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261509/original/095684300_1781725548-RD_Kongo_s_Yoane_Wissa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8573292/original/098492400_1782528470-gendut.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8472983/original/024742200_1782381700-Ce9Bn1eF3Ngm5Z5T91Xzx3RfRQw4IKburTcffQwz.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3045344/original/084383200_1581243384-rebecca-matthews-6pagvvy09eI-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8571704/original/089080700_1782526310-hl.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3621494/original/032606800_1635922529-20211103-KAMPUNG-SENTRA-KREATIF-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8474330/original/013538800_1782384046-HtopnNcjMCgs6LvyMwBEEq62it8m4Dm1Z060rgNY.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8399769/original/068959900_1782281255-hl_kandang.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8326845/original/076685000_1782196461-delima2.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8516308/original/094416800_1782441741-a9WhQQhksQBGrge099bkVRgG1S2qhs0iiNWycVc0.jpg)