Sukses

Kisah Toleransi Relawan Palu di Tengah Pandemi Corona Covid-19

Liputan6.com, Palu - Kisah toleransi inspiratif muncul di tengah upaya relawan memerangi penyebaran corona covid-19 di Kota Palu. Upaya keras yang dilakukan dengan menyingkirkan perbedaan agama dan mengedepankan kemanusiaan. Upaya yang tengah dilakukan Zulfa Ningsih Lestari, perempuan berhijab yang wara-wiri di gereja itu, melakukan penyemprotan disinfektan untuk menekan penyebaran Virus SARS-CoV-2.

Perempuan muda itu bergegas turun begitu mobil bak terbuka yang membawa mereka parkir di halaman Gereja Kebangunan Kalam Allah Jemaat Palu, di Jalan Pattimura, Palu, pada akhir pekan lalu. Setelah mengenakan masker dan pelindung diri lain, bersama relawan lainnya dia ikut mensterilkan tempat ibadah umat Kristiani itu termasuk sekolah taman kanak-kanak yang ada di kompleks gereja.

Sebelumnya, pada Sabtu pagi, 21 Maret 2020, penyemprotan juga telah dilakukan perempuan itu bersama timnya di salah satu masjid di Kota Palu.

Zulfa Ningsih Lestari (22), sejak corona covid-19 menyerang sejumlah daerah, bersama relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Sulawesi Tengah lainnya berinisiatif mengambil peran sebagai penyemprot disinfektan untuk mencegah virus Virus SARS-CoV-2 penyebab penyakit Covid-19 itu singgah di tempat-tempat publik di Kota Palu. Dan Zulfa memilih tempat ibadah, seperti gereja dan masjid sebagai lokasi sterilisasinya.

Setiap harinya, perempuan lulusan Universitas Tadulako itu bergabung bersama 3 relawan ACT lainnya mendatangi tempat-tempat yang meminta dilakukan penyemprotan. Saban hari, 3 sampai 5 titik disambangi Zulfa.

"Semua tempat ibadah kami siap bersihkan kalau diminta. Gratis. Ini upaya kami untuk mencegah penyebaran virus corona covid-19 di tempat-tempat publik," ungkap perempuan lulusan jurusan komuninasi Untad itu kepada Liputan6.com, Rabu (25/3/2020).

2 dari 3 halaman

Kemanusiaan yang Mengalahkan Perbedaan

Zulfa tampak mencolok dalam setiap aksi kemanusiaannya itu. Selain karena di dalam timnya dia satu-satunya perempuan, pilihannya untuk tetap mengenakan jilbab dan tanpa canggung di dalam gereja juga memberi pesan damai yang kuat di tengah kegelisahan orang-orang akan meluasnya pandemi corona Covid-19.

"Ini soal kemanusiaan. Siapa pun dan darimana pun yang meminta bantuan ke kami, selagi bisa pasti kami bantu," kata Zulfa yang juga anggota Remaja Islam Masjid (Risma) Desa Binangga, Sigi itu, Rabu (25/3/2020).

Zulfa bercerita, sebelum bergabung dalam tim relawan untuk pencegahan covid-19, di ACT Sulteng dia juga melibatkan diri dalam penanganan penyintas bencana gempa Palu tidak lama setelah menamatkan kuliahnya. Kebiasaan itulah yang membuatnya juga bergabung dalam upaya penanganan pandemi virus corona.

Tetap beraktivitas di luar rumah pada saat orang-orang mengurung diri di rumah juga bukan tanpa risiko bagi Zulfa. Ancaman terpapar virus dan bahan disinfektan menurut anak pertama dari tiga bersaudara itu selalu menjadi kewaspadaannya.

"Kami sudah dibekali pengetahuan sebelum melakukan penyemprotan. Orangtua juga selalu mengingatkan untuk berhati-hati," ungkap Zulfa lagi.

Kini, di tengah semakin meluasnya penyebaran virus tersebut di Indonesia, Zulfa dan timnya tetap rutin menyinggahi rumah-rumah ibadah di Palu untuk melakukan penyemprotan. Tanpa pandang asal-usul, agama, suku, dan golongan lainnya.

"Kami tidak tanya asal dan darimana yang meminta bantuan kami. Wabah itu (covid-19) sudah jadi ancaman untuk semua orang. Membantu sesama justru menguatkan agama kita," ujar Zulfa.

3 dari 3 halaman

Simak video pilihan berikut ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
PDP Corona yang Meninggal di Aceh Punya Riwayat Perjalanan ke Malaysia
Artikel Selanjutnya
Viktor Laiskodat Gelontorkan Rp60 Miliar Tangani Corona Covid-19 di NTT