Sukses

Kisah Dramatis Gadis Purbalingga Terjebak di Wuhan hingga Karantina di Natuna

Liputan6.com, Purbalingga - Michelle Yemima kini bisa berkumpul bersama keluarga di Purbalingga. Michelle melewati pengalaman berharga yang membuatnya tersadar betapa berharganya hidup. Dia adalah penyintas yang sempat terjebak di Wuhan, China, yang diisolasi karena mewabahnya virus Corona.

Sepekan lalu, Michelle masih dikarantina di Natuna bersama 237 Warga Negara Indonesia yang lain, menjalani sejumlah protokol yang ketat, dan jauh dari keluarga.

Michelle merupakan satu di antara ratusan WNI dari Wuhan, China yang menjalani masa karantina selama 14 hari di Natuna. Michelle bukan mahasiswa perguruan tinggi di Wuhan.

Michelle adalah mahasiswa jurusan Manajemen Pariwisata Jilin International Studies. Michelle ke Wuhan saat libur musim dingin untuk bertemu teman-temannya yang juga pelajar dari Indonesia. Namun ia tentu tak tahu virus Corona akan mewabah di Wuhan.

“Aku sempat ditelepon temen supaya cepet-cepet ninggalin Wuhan karena virus corona mulai menyebar,” kata dia ketika ditemui di rumahnya.

Begitu mendengar kabar itu, Michelle langsung memesan tiket untuk kembali ke Jilin. Ia mendapat tiket dengan keberangkatan tanggal 24 Januari.

“Tapi tanggal 23 Wuhan di-lockdown. Transportasi tidak ada lagi setelah jam 10 pagi,” ujar dia.

Setelah kebijakan isolasi diterapkan, Michelle tak bisa keluar dari Wuhan. Michelle terjebak di tengah wabah bersama teman-temannya di asrama mahasiswa.

“Warga diimbau tidak keluar rumah kalau tidak ada keperluan yang sangat mendesak,” kata dia.

Hidup terisolasi membuat penghuni asrama tertekan. Di antara mereka ada yang ketakutan jika suatu waktu terjangkit virus Corona. Namun dari situasi genting ini, justru tumbuh solidaritas di antara sesama warga perantauan.

“Kami bertahan karena saling menguatkan,” ujar anak kedua dari tiga beraudara ini.

 

2 dari 3 halaman

Tatkala Persediaan Makanan di Asrama Menipis

Tekanan bukan saja muncul dari dalam, tetapi juga dari luar. Semakin lama persediaan bahan pangan semakin menipis. Mereka khawatir jika membeli makan siap saji, makanan itu terkontaminasi virus. Ketika membeli bahan mentah juga muncul kekhawatiran yang sama.

“Akhirnya beli bahan mentah terus dimasak sendiri, jadi yang putra yang keluar membeli bahan mentah, yang putri masak,” kata dia.

Michelle sendiri mengaku bisa tegar berkat dukungan kedua orangtuanya, Agus Slamet Budijanto dan Ana Laurie Ngantung. Ana, sang ibunda mengaku menelepon Michelle setiap hari.

“Kami harus terlihat kuat, kalau kami terlihat cemas justru akan membuat Michelle semakin khawatir, dia bisa stress dan daya tahan tubuhnya bisa turun,” kata dia.

Agus juga meminta Michelle tenang dan terus berdoa agar bisa melewati cobaan ini. Agus juga berupaya memastikan keselamatan Michelle melalui koleganya yang mempunyai jaringan hingga ke Kedutaan Besar Indonesia di China.

“Saya berterima kasih kepada pemerintah yang sudah berusaha luar biasa memulangkan anak kami dan WNI yang lain,” kata dia.

Michelle pulang setelah Kementerian Luar Negeri menjemput WNI yang semula tertahan di Wuhan. Di setiap bandara, Michelle dan WNI yang lain selalu menjalani pemeriksaan suhu tubuh.

Dari Tiongkok, Michelle dan 237 WNI yang lain harus menjalani proses observasi selama 14 hari di Natuna. Di Natuna, Michelle menjalani pola hidup sehat di bawah pengawasan petugas.

Pagi senam kesehatan, mengonsumsi makanan bergizi, meminum vitamin tambahan, dan menjaga kebersihan mulai dari kebersihan badan hingga pakaian.Setelah dinyatakan sehat, Michelle dan yang lain mendapat surat keterangan sehat dari Kementerian Kesehatan RI.

Mereka kemudian dipulangkan ke rumah masing-masing.“Kami menjemput Michelle di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta,” kata Agus.

3 dari 3 halaman

Simak Video Pilihan Berikut Ini:

Loading