Sukses

Nanas Gambut, Si Manis Berair dari Pagaruyung Riau yang Diakui Jokowi

Liputan6.com, Pekanbaru - Tahun 2015 menjadi hal tak terlupakan oleh masyarakat Desa Pagaruyung, Kecamatan Tapung Raya, Kabupaten Kampar, Riau. Kala itu, hampir 700 hektare lahan tidur berstruktur gambut hangus terbakar akibat diterpa musim kemarau panjang.

Kini, hamparan luas sejauh mata memandang itu sudah berjejer rapi nanas jenis moris. Berbeda dengan bekas lahan terbakar di Kota Dumai, nanas di Pagaruyung bukan menjadi tumpang sari tapi unggulan. Kelompok tani juga lebih suka menyebut nanas moris sebagai nanas gambut.

Masyarakat juga berinovasi membuat produk turunannya nanas seperti keripik nanas beragam rasa mulai dari balado, asam manis, original, dan bakar. Ada pula yang diolah menjadi dodol dengan rasa berbeda-beda.

Menurut warga bernama Roliya, usaha turunan nanas ini sudah dimulai sejak pertengahan 2018. Kala itu, nanas di lahan bekas terbakar sudah mulai panen. Beberapa nanas lalu disortir untuk diproduksi rumahan agar meningkatkan ekonomi.

"Masyarakat di sini dibantu oleh Badan Restorasi Gambut (BRG), anak saya juga ikut mengolah nanas ini," katanya kepada wartawan, Jum'at petang, 5 April 2019.

Roliya menjelaskan, olahan nanas ini sudah dipasarkan ke berbagai daerah. Kota Pekanbaru menjadi tujuan utama hingga akhirnya menjadi oleh-oleh khas Riau. Desanya lalu terkenal dengan nanas manisnya, selain Desa Kualu Nanas di Kecamatan Tambang, Kampar.

Untuk menarik perhatian pembeli, turunan nanas dikemas menarik. Sementara dodol masih berbungkus biasa dan ke depannya akan dikembangkan hingga bisa menjadi produk unggulan Desa Pagaruyung.

"Jadi masyarakat memang terbantu, apalagi di sini memang warganya banyak ikut kerajinan rumahan. Ada menenun juga," sebut Roliya.

2 dari 3 halaman

Bersahabat Dengan Gambut

Sementara itu, Ketua Kelompok Masyarakat Nanas Jaya Pagaruyung, Mukidin, menyebut ada 300 hektare lahan di desanya ditanam nanas. Diapun menyatakan gambut sangat cocok ditanam nanas dibanding sawit.

Mukidin membandingkan nanas di desanya dengan yang ditanam di Kabupaten Siak. Karena ditanam di tanah mineral, nanas di Siak sedikit airnya dan rasanya kurang manis meski berukuran lebih besar.

"Bahkan nanas di sini sudah sampai ke Medan, Sumatra Utara. Di sini petani juga bisa menjaga lahan gambut, selalu dibasahi, kalau ada api langsung dipadamkan," jelas Mukidin.

Mukidin menjelaskan, satu hektare lahan gambut bisa ditanami 20 ribu batang nanas. Masa panennya tergantung besaran bibit, kalau batangnya besar bisa dipanen umur delapan bulan dan batang kecil hingga setahun.

Nanas moris berkarekteristik sama dengan pohon pisang. Ketika pohon induk mulai muncul buah, sisi batang lainnya mulai bertunas memunculkan bibit nanas baru sehingga ketika panen petani tak mengulang penanaman.

"Bisa berkali-kali berbuah jadinya dengan satu induk, itu keuntungannya juga. Tiba masa panen, tengkulak yang datang ke sini karena nanas di gambut dikenal dengan kemanisannya," ujar Mukidin.

Keuntungan nanas gambut juga tergantung permintaan di pasaran. Kalau lagi musim, harganya bisa turun drastis, dan kalau permintaan banyak sementara persediaan kurang maka harganya bisa tinggi.

Penjualan nanas dikenal dengan sistem gandeng. Satu gandeng terdapat dua buah nanas dengan harga Rp 7 ribu. Nilai ini sudah memberi keuntungan kepada petani berkisar antara Rp 3 ribu hingga Rp 4 ribu.

"Kemudian ada yang disortir atau misalnya gak laku di pasaran, maka diolah menjadi keripik ataupun dodol. Jadi petani gak kebingungan karena pasti terjual juga jadinya," kata Mukidin.

Untuk bibit nanas, Mukidin menyebut dibantu oleh BRG. Petani juga dibimbing membersihkan lahan tanpa membakar, begitu juga tata kelola air dengan sekat kanal hingga sumur bor.

"Pupuknya juga, begitu juga obat yang membantu nanas cepat berbuah," ucap pria berumur 63 tahun ini.

3 dari 3 halaman

Rasanya Diakui Jokowi

Terpisah, Kepala BRG Nazir Foead menyebut manisnya nanas moris di gambut sudah diakui Presiden Joko Widodo. Nanas ini dicicip Jokowi dalam pekan hasi pertanian di Jakarta, beberapa waktu lalu.

"Jadi saat Presiden memakan nanas gambut ini, kata Presiden ini manis, beda rasanya. Saat itu saya bilang ini nanas gambut dari Riau," kata Nazir.

Nazir menjelaskan, program menanam nanas di gambut merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap masyarakat. Masyarakat diajar membuka lahan pertanian di gambut tanpa membakar, membuatnya produktif dan membantu perekonomian.

Masyarakat juga diajari membuat tata kelola air di gambut agar tidak kering ketika kemarau menyapa. Beberapa di antaranya membuat kanal dan sekat pengatur ketinggian air serta sumur bor sebagai cadangan air.

"Jadi sejak ditanam nanas lahan di sini tak pernah terbakar lagi, ada 300 hektare ditanam. Program ini tak hanya di Tapung, di beberapa kabupaten lainnya juga," jelas Nazir.

Untuk mengembangkan produk turunan nanas, BRG sudah mengontak salah satu perusahaan di Jakarta. Nantinya masyarakat Pagaruyung akan diajari membuat kemasan keripik nanas lebih menarik, begitu juga dengan kehigienisannya.

"Diusahakan juga agar terdaftar di kementerian kesehatan agar keripik nanas menjadi pilihan konsumsi masyarakat kota, begitu juga dengan nanasnya karena sangat manis," imbuh Nazir.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Jokowi Diminta Tunjuk Plt atau Segera Lantik Pimpinan Baru KPK
Artikel Selanjutnya
Proyek Infrastruktur RI Jadi yang Terbesar di 20 Tahun Terakhir