Sukses

Melodi Kiser dan Empat Fase Tarling Cirebon

Liputan6.com, Cirebon - Jari jemari Sudjana Partanain masih terlihat lihai saat memainkan musik tarling klasik khas Cirebon. Bersama teman sebayanya, kakek yang akrab disapa Mama Djana ini terus bermain musik seraya mengisi waktu luang di usia senjanya.

Sudjana Partanain merupakan satu dari musikus tarling klasik Cirebon generasi kedua yang berhasil menciptakan melodi dalam lantunan lagu khas Cirebon. Melodi tersebut bernama Kiser pada tahun 1940-an.

"Kalau tidak sama teman-teman ya saya petik sendiri gitar saya," kata Sudjana, Sabtu (9/3/2019).

Dari catatan sejarah, Mama Djana berada di posisi penting dalam perkembangan tarling klasik Cirebon. Bahkan, dari hasil karya yang selalu dikembangkan, Mama Djana sering manggung di berbagai daerah di Indonesia pada masa itu.

Ditengah perkembangan musik Pantura, Mama Djana masih konsisten memetik gitarnya. Sesekali ia memetik gitar elektrik hasil dari perjalanan karirnya manggung di berbagai tempat pada masa itu.

"Sekarang manggung hanya sesekali disamping usia tidak banyak orang yang nanggap tarling klasik lagi. Adapun yang banyak manggung ya sudah masuk kategori dangdut pantura," kata dia.

Mama Djana sempat berbagi cerita tentang perjalanannya menggeluti seni tarling klasik Cirebon hingga akhirnya menemukan melodi Kiser. Dia menuturkan, awal mula tarling berkembang pada tahun 1940-an.

Saat itu Cirebon dan Indramayu tengah dijajah oleh Belanda. Salah satu musikus tarling ternama pada era tersebut adalah Sugra dari Indramayu dan Barang dari Cirebon.

"Musik tarling ditemukan berasal dari kemampuan Sugra bermain gamelan. Saat itu Pak Sugra menggabungkan musik dari gamelan ke dalam nada yang ada di senar gitar ditambah suling. Jadilah tarling, yaitu gitar dan suling," tutur dia.

Seiring perkembangan musik tarling, Mama Djana mulai aktif menggeluti musik khas Cirebon itu sejak tahun 1946. Saat itu, Djana yang sering manggung bereksplorasi menggabungkan beberapa unsur musik ke dalam suara gitar, sehingga menjadi melodi kiser.

Melodi kiser tarling klasik yang diciptakan Mama Djana tersebut merupakan campuran lagu yang pada gamelan dan keroncong. Lagu tersebut kemudian digabungkan dengan laras gamelan, pelog, slendro dan prawa khas Cirebon.

"Saya gabungkan banyak unsur musik tradisional Cirebon dan jadilah melodi kiser. Alhamdulillah banyak yang suka. Saya biasanya empat orang kalau manggung," kata dia.

Dari ciptaannya itu, Mama Djana menghasilkan banyak karya musik tarling klasik Cirebon. Namun, hingga berkembangnya zaman, musik tarling pun berubah menjadi musik organ tunggal dan dangdut Cirebonan.

"Kalau lagu-lagu Cirebonan yang terkenal banyak ada kiser, waled, bendrong, barlen. Lagu tarling klasik menceritakan tentang kehidupan sehari-hari masyarakat Cirebon," tutur dia.

2 dari 2 halaman

Empat Fase

Sementara itu, dalam perjalanannya, musik tarling telah melewati empat fase. Budayawan Indramayu, Supali Kasim, menjelaskan fase pertama masuk dalam tahapan Tarling Klasik (1940-1970) di mana notasi musik Tarling Klasik berasal dari gamelan.

Irama lagunya masih lambat dan tidak ada syair atau lirik lagu yang baku.

"Hanya kerangka lagunya saja tempo bisa sampai 4/8 tergantung suara gongnya. Musik tarling klasik ini mirip dengan musik-musik yang biasa dinyanyikan sinden," ucap Supali.

Di fase pertama ini, beberapa pelopor tarling klasik di antaranya Sugra (1940) dari Kelurahan Kepandean, Indramayu serta Jayana dari Karangampel, Indramayu.

Di fase kedua, memasuki fase tarling Kiser Gancang (1960-1980). Di era ini, irama, lagu dalam musik tarling bernada nge-pop. Di fase kedua ini, musik tarling kiser gancang masih memakai notasi daerah yang berasal dari gamelan.

Hanya saja, di fase kedua ini tempo dan iramanya lebih cepat. Beberapa contoh musik tarling klasik Kiser Gancang seperti Warung Pojok ciptaan Abdul Azib dari daerah Mayung Kabupaten Cirebon.

"Para pemusik tarling memberi nama lain tembang anyar. Tarling klasik kiser gancang notasinya masih pakai gamelan, ada kedaerahan dan irama cepat" sebut Supali.

Di fase ketiga, musik tarling mulai bervolusi dengan berbagai musik lain. Pada fase ketiga ini, para seniman menyebutnya Tarling Dangdut (1980).

Di fase ini, musik tarling sudah berkolaborasi dengan irama musik dangdut nasional. Di sini tarling dangdut mulai terpengaruh musik dangdut Roma Irama.

"Tarling kita juga mulai menggunakan gendang dan orkes dangdut, drum, terompet termasuk busananya seperti seniman dangdut," sebut Supali.

Dari sisi lagu, tarling dangdut ini tidak lagi menggunakan notasi tradisional atau gamelan. Irama lagunya pun lebih cepat dari tarling Kiser Gancang.

Memasuki fase keempat, musik Cirebon-Indramayu berevolusi menjadi Tembang Pantura (tahun 2000 sampai sekarang). Ciri musik pantura tentu sudah meninggalkan irama atau notasi tradisional.

"Mereka lebih mengadopsi dangdut modern yang banyak menggunakan bebunyian dari alat musik elektronik," tutur Supali Kasim.

Namun,di fase keempat ini, musik pantura tetap tidak meninggalkan ciri khas bahasa yang masih mempertahankan Cirebon-Indramayu. Dia mengakui, di fase ini terjadi perubahan yang signifikan.

Sebagian besar pencipta dan penyanyi tembang pantura tidak dapat menguasai alat musik ataupun memiliki kelompok musik.

"Jadi penyanyi ya cuma nyanyi saja dan pencipta lagu ya menciptakan lirik atau syair saja. Kalau era sebelumnya seniman tarling itu bisa memainkan alat musik, bahkan main drama, bisa tembang klasik bahkan kiser gancang," tutur Supali.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Rekaman Video Pendeta Ditikam saat Misa
Loading
Artikel Selanjutnya
Satu WN Asal China Bisa Ikut Pemilu 2019 di Cirebon
Artikel Selanjutnya
Dua WNA Masuk DPT Pemilu 2019 di Cirebon