Sukses

Fakta-Fakta Munculnya Ajaran Sesat Islam Sejati Syeh Hadi di Kebumen

Liputan6.com, Kebumen - Suasana Desa Sumberadi, Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah yang biasanya adem ayem mendadak berubah gerah menyusul meruapnya kabar ada seseorang yang menyebarkan ajaran sesat Islam sejati.

Orang itu, Hadi alias HS (70) diduga memengaruhi sejumlah warga Sumberadi sebagai pengikutnya. Berbekal buku yang lantas ditasbihkan sebagai kitab suci Islam Sejati, Hadi menyebarkan pengaruhnya.

Bahkan, ada informasi yang menyebut bahwa kitab suci ajaran sesat itu diperjualbelikan seharga Rp 1,5 juta. Sebuah angka yang cukup mahal bagi kebanyakan warga Sumberadi.

Untuk menjadi pengikut, Hadi yang belakangan dipanggil Syeh Hadi oleh pengikutnya itu memasang mahar cukup tinggi. Tetapi, entah kenapa, ada saja orang yang kepincut.

Salah satunya, Nur alias NK, warga Sumberadi. Bersama keluarganya, Nur menjadi pengikut aliran baru ini. Sontak, ajaran sesat itu pun membuat warga bergolak.

Dari mulut ke mulut, akhirnya kabar ini merebak luas. Pengurus Cabang Nahdatul Ulama (PCNU) Kebumen secara resmi melaporkan dugaan ajaran sesat ini ke kepolisian.

Polisi bertindak cepat. Pasalnya, munculnya ajaran sesat Islam Sejati di wilayah Kebumen menyebabkan warga Sumberhadi resah. Sebagian besar pengikut Islam Sejati memang tinggal di desa ini.

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 3 halaman

Upaya Polisi Meredam Kemarahan Warga Kebumen

Kasubbag Humas Polres Kebumen, AKP Suparno mengatakan berdasar kajian MUI dan Kementerian Agama, beberapa ajaran yang dianggap melenceng itu yakni, rukun Islam tidak sebagaimana mestinya.

Kemudian, pengikut Aliran Sejati tidak percaya Quran dan Hadis dan bahkan cenderung mencemooh. Tidak percaya adanya Nabi Muhammad SAW.

“Kemudian percaya adanya alam akherat sama seperti dunia, zakat yang sangat memberatkan, dan amalan-amalan lain yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam sesuai Al Quran dan Hadis,” Suparno menjelaskan.

Kepolisian khawatir, ada pihak yang memperkeruh kondisi masyarakat yang tengah bergolak akibat ajaran sesat ini. Karenanya, kepolisian segera berkoordinasi dengan Kementerian Agama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kebumen untuk secepatnya meredam kondisi yang mulai memanas ini.

“Risiko lainnya adalah adanya main hakim dari masyarakat kepada pimpinan Islam Sejati Bapak Hadi,” ucapnya, Kamis, 7 Maret 2019.

Beruntung, kemarahan masyarakat dan Ormas Islam di Kebumen bisa diredam. Kepolisian bersama dengan tokoh agama Desa Sumberhadi pun berupaya mendekati keluarga Nur agar kembali sesuai tuntunan Islam ahlussunah Wal Jamaah.

Tak dinyana, Nur dan keluarganya bersikap terbuka. Ia mengaku telah mengikuti dan menjalankan ajaran Islam Sejati yang diajarkan oleh Syeh Hadi dan mau mengakui pula bahwa ajarannya tidak sesuai dengan ajaran Islam yang ada.

Senin, 4 Maret 2019, Nur bersama keluarganya kembali bersyahadat. Syahadat itu telah mengembalikan Nur bersama dengan keluarganya dalam tuntutan Islam Ahlussunah Wal Jamaah.

 

3 dari 3 halaman

Bertobatnya Pimpinan Ajaran Sesat Islam Sejati

Untuk menunjukkan kebulatan tekadnya, Nur pun menandatangani surat pernyataan bahwa ia telah bertobat dan tak lagi menjadi penganut ajaran sesat Islam Sejati. Warga Sumberhadi pun lega.

Namun, bagi polisi, pekerjaan belum selesai. Sebab, pendiri sekaligus pimpinan Islam Sejati, Syeh Hadi, belum bertobat. Dikhawatirkan Hadi justru menjadi korban persekusi lantaran kabar munculnya ajaran sesat itu telah merebak luas.

“Ajaran Islam Sejati apabila di sebarkan sangat berbahaya dan meresahkan masyarakat sehingga perlu di antisipasi perkembangannya ,” ucap tokoh Agama Desa Sumberhadi, Kiai Haji Shabar Shodiq.

Sebab itu, polisi bersama dengan Kemenag dan MUI Kebumen memfasilitasi 11 penganut Islam Sejati, termasuk sang pimpinan, Syeh Hadi untuk bersyahadat di Mesjid Mapolres Kebumen, Rabu, 6 Maret 2019.

Dipimpin langsung oleh Ketua MUI Kebumen, Kiai Haji Nur Sodiq, Hadi bersama pengikutnya bertobat.

Nur Sodiq mengaku sempat membaca kitab ajaran sesat ini. Namun, waktunya tak cukup untuk mempelajari seluruh buku. Terlebih ada yang ditulis dengan huruf Jawa sehingga butuh konsentrasi lebih.

Akan tetapi, meski sekilas, ia bisa menyimpulkan bahwa buku tersebut memuat ajaran yang melenceng dari kaidah Islam Ahlussunah Wal Jamaah.

Nur Sodiq berharap, masyarakat Kebumen kembali tenang usai bertobatnya pimpinan dan pengikut Islam Sejati. Ia juga berjanji akan mendampingi para pengikut Islam sejati yang telah bertobat ini.

“Bagi pengikut yang yang belum bertobat nanti akan difasilitasi di KUA,” ucap Nur Sodiq.