Sukses

Anjing Gila Serang 22 Orang di Kolaka Utara

Liputan6.com, Kendari - Serangan anjing gila menakutkan warga Kolaka Utara dan sekitarnya. Sejak merebak pada pertengahan Januari, korban gigitan hewan liar ini sudah mencapai 22 orang hingga Sabtu (23/2/2019).

Karena peristiwa yang dianggap luar biasa ini, Pemkab Kolaka Utara menetapkannya sebagai daerah siaga I Rabies. Penetapan status ini dilakukan sejak Kamis (22/2/2018).

"Beberapa korban sudah dirawat intensif. Kami naikkan daerah ini sebagai lokasi siaga I rabies," ujar Kepala Dinas Kesehatan (Kadis) Kolaka Utara, Irham.

Pantauan di lokasi, korban terdiri dari orang dewasa, remaja, dan balita. Data terbaru dari Dinas Kesehatan, ada 3 orang korban usia balita dan anak-anak, 2 remaja, dan 18 orang dewasa.

Korban gigitan menyebar pada 6 kecamatan di Kolaka Utara. Ketiganya yakni, Poreghu, Lapai, Ngapa, Tiwu, Lasusua, dan Katoi. Korban terbanyak berada di Kecamatan Lasusua dengan 7 korban, sisanya tersebar di 5 kecamatan lainnya.

Anjing dengan virus rabies sudah menjadi endemik di Kolaka Utara. Setiap tahun, hampir selalu ada gigitan dengan jumlah signifikan. Namun, awal tahun 2019 jumlahnya sangat mencolok.

"Dari tahun ke tahun selalu muncul. Jumlahnya naik turun," kata Irham.

Pihaknya sudah berkeliling pada sejumlah kecamatan melakukan Vaksin Anti Rabies (VAR) kepada hewan ternak. Hal ini untuk mempersempit pola persebaran virus rabies.

"Kita menemui pemilik ternak dan memberi VAR. Vaksin hingga saat ini masih cukup, apalagi dibantu Kementerian Kesehatan dan Pertanian," katanya.

Munculnya virus rabies di Kolaka Utara diawali dengan gigitan yang terjadi di wilayah Kecamatan Ngapa. Sampai Sabtu (23/2/2019), ada lima korban gigitan anjing di wilayah ini.

2 dari 2 halaman

Asal Mula Anjing Gila

Kepala Desa Tadaumera Kecamatan Ngapa Kabupaten Kolaka Utara, Ahmad Yani bercerita, gigitan pertama kali, berasal dari salah seekor induk anjing milik warganya.

"Induk anjing itu melahirkan 2 ekor anak, nah oleh pemiliknya, dua ekor anaknya diberi sama tetangga rumah," ujar Ahmad Yani memulai ceritanya.

Dia melanjutkan, mengetahui anaknya diberikan kepada orang lain, induk anjing menyerang orang yang membawa anak anjing itu. Berhasil menghindar, orang yang membawa anak anjing itu tetap memaksa membawa pulang kedua ekor anak anjing ke rumahnya.

"Mulai saat itu, induknya mulai bertingkah aneh. Dia menyerang dan menggigit warga atau pejalan kaki yang melintas di sekitar lokasi," ujarnya.

Karena beberapa kali mengancam nyawa, induk anjing berhasil diburu dan dibunuh warga. Polisi dari Polsek Ngapa Kecamatan Kolaka Utara bahkan ikut serta dalam perburuan anjing.

Maride (49) warga Desa Tadaumera mengatakan was-was hendak keluar rumah. Petani yang sehari-hari bekerja di sawah ini bahkan membawa senjata tajam untuk menjaga diri.

Sejumlah warga di Kolaka Utara sempat mengalami perawatan di Puskesmas. Tercatat, ada 19 orang yang sempat masuk puskesmas dan mendapatkan perawatan intensif.

"Hanya ada beberapa yang sempat rawat inap. Sisanya, diobati lukanya lalu diberikan vaksin anti rabies, kemudian dibolehkan pulang ke rumah," ujar Kadis Kesehatan Kolut, Irham.

Puluhan warga Kolaka Utara yang bermukim di sekitar wilayah Kecamatan Lasusua, Ngapa dan Lapai yang khawatir langsung menuju puskesmas terdekat untuk mendapatkan vaksin.

"Pengunjung bervariasi, mulai dari orang besar sampai anak kecil. Sampai hari ini, Insya Allah stok VAR untuk masyarakat bisa mencukupi," pungkasnya.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Kongres PAN Ricuh, Pemilihan Ketua Umum Tetap Dilanjutkan
Artikel Selanjutnya
Waspada, Rabies Jadi Ancaman Serius Warga Dompu NTB