Sukses

Keripik Nangka dan Salak Banjarnegara Memikat Lidah Masyarakat Jerman

Liputan6.com, Banjarnegara - Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo, Jawa Tengah dikenal sebagai daerah penghasil sayur dan buah-buahan yang termasyhur. Dataran tinggi dan udara dingin menyebabkan nyaris semua jenis sayur dan buah-buahan tumbuh subur di wilayah ini.

Dieng misalnya, dikenal dengan kentang Diengnya yang konon, berasa lebih sari. Bentuknya pun jumbo dengan warna yang lebih mengilat.

Buah dan sayuran lainnya pun tak kalah populer. Di antaranya, salak dan nangka. Dua buah ini bahkan kerap dibuat beragam makanan olahan, mulai dari manisan, minuman segar, hingga keripik.

Soal keripik, rupanya nasib petani dan pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di dua wilayah ini tengah moncer. Apa sebab? Keripik nangka dan salak organik asal Banjarnegara dan Wonosobo memikat lidah orang Jerman.

Mulai November 2018 ini, keripik nangka dan salak organik asal Banjarnegara dan Wonosobo diekspor ke Jerman. Ketua Asosiasi Pengusaha Oleh-Oleh (ASPO) Jawa Tengah, Ratiman mengatakan pada ekspor perdana ini, anggotanya mengirim satu kontainer keripik nangka dan salak organik dengan bobot bersih mencapai delapan ton.

Ekspor perdana itu adalah bagian dari kontrak ekspor 12 kontainer keripik nangka dan salak organik, atau kira-kira setara dengan 120 ton keripik. Pengiriman bertahap mulai 2018 hingga 2019 mendatang.

Dia menjelaskan, ekspor keripik ini dilakukan oleh PT BAMS yang dibangun untuk menjadi pemasok keripik nangka dan salak organik. Melalui PT itu, ASPO bermitra dengan petani dan pengusaha UMKM lain yang berada di kawasan Wonosobo dan Banjarnegara.

"Yang terbaru itu ya keripik nangka sama keripik salak itu, ekspor ke Jerman. Setelah kontrak, langsung keluar LC," dia menjelaskan, Senin, 19 November 2018.

Tembusnya keripik nangka dan salak organik ke pasar luar negeri itu adalah harapan di tengah lesunya pasar dalam negeri, khususnya untuk produk UMKM. Ekspor perdana itu sekaligus menambah daftar produk Jawa Tengah yang berhasil menembus pasar ekspor.

"Produk lainnya adalah jenang Kudus," ujarnya.

 

2 dari 2 halaman

Kans Produk UMKM Tembus Pasar Luar Negeri

Menurut dia, sejumlah produk UMKM lain yang juga berhasil menembus pasar luar negeri. Contohnya, sale pisang dan kerupuk tuna Cilacap.

Namun, Ratiman menjelaskan bahwa itu bukan lah ekspor. Pembelian dilakukan secara personal. Hanya saja, pemesan adalah warga negara asing.

Meski begitu, menembus pasar luar negeri dengan cara pemesanan secara personal diakuinya sedikit membantu pemasaran yang kini tengah lesu.

"Kalau yang Cilacap (sale pisang) kirim ke Australia itu bukan ekspor lah. Itu menurut saya hanya ada orang beli, kemudian dipaketkan," dia menerangkan.

Menurut dia, pasar ekspor produk-produk UMKM di Jawa Tengah sebenarnya sangat luas. Akan tetapi, para pengusaha yang rata-rata menengah kecil mikro itu tekendala permodalan.

Dia menyebut, bunga bank di Indonesia masih terlalu tinggi. Padahal, proses ekspor-impor tak bisa dilakukan secepat jual beli di dalam negeri.

Namun, dia pun mengakui pemasaran olahan makanan ke luar negeri saat ini lebih mudah. Hanya berbekal Perizinan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) sebuah produk bisa menembus negara tetangga.

Namun, yang bermasalah justru pada proses standardisasi produk dan kontinyuitas produksi massal. Pasalnya, rata-rata produk UMKM di Jawa Tengah masih berkategori kecil.

Salah satu solusinya adalah ekspor dilakukan secara bersama-sama oleh beberapa pengusaha sekaligus, seperti yang dilakukan oleh ASPO Jawa Tengah dengan produk keripik nangka dan salak ke Jerman. Perusahaan dibangun untuk menyatukan potensi-potensi pertanian dan UMKM mitra.

"Perlu pendampingan dari pemerintah agar produk-produk kita berdaya saing," dia menjelaskan.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Artikel Selanjutnya
Presiden Prancis: Eropa Harus Bersatu untuk Cegah Kekacauan Global
Artikel Selanjutnya
Jerman Gelontorkan Rp 16 Triliun untuk Produksi Baterai Listrik