Sukses

Mengingat Kembali Jimat Panglima Besar Jenderal Sudirman

Liputan6.com, Yogyakarta - Bicara tentang Tentara Nasional Indonesia (TNI) tak bisa lepas dari sosok Jenderal Sudirman. Panglima Besar TNI itu membukukan jejak kepahlawanan dan teladan luar biasa. Inspirasinya juga terus relevan di era kekinian.

Jenderal Sudirman memimpin perang gerilya melawan Belanda sejak Desember 1948 hingga Juli 1949. Selama berperang, ia tidak pernah tertangkap tentara Belanda. Hal itu seringkali menimbulkan pertanyaan apakah Pak Dirman memiliki pegangan tertentu atau jimat.

"Asumsi itu muncul karena Sudirman memimpin gerilya dalam keadaan sakit, ditandu, dan berjalan lebih dari 1.000 kilometer," ujar Sardiman, sejarawan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dalam perbincangan dengan Liputan6.com.

Gatot Nurmantyo saat masih menjabat sebagai panglima TNI juga kerap menjabarkan rahasia kesaktian Sudirman selama perang gerilya.

Terkait soal itu, Sudirman pernah ditanya oleh anak buahnya soal kesaktiannya. Sudirman menjawab sambil tersenyum bahwa dia tidak pernah "gantung wudu". Artinya, dia selalu berwudu.

Di lain waktu, setiap bertemu dengan penduduk desa, dia selalu minta air di dalam kendi. Menurut Sardiman, hal itu menerbitkan anggapan jika kekuatan Sudirman terletak pada kendi yang diberikan. Namun, hal itu tidak pernah dikatakan apalagi dibenarkan oleh Sudirman.

Dia juga berprinsip tidak pernah meninggalkan salat dalam keadaan apa pun. Jika tidak bisa berdiri, ia salat dalam keadaan duduk. Jika tidak bisa duduk, salat dilakukan dengan berbaring.

"Prinsip lain Sudirman adalah dia selalu ikhlas berjuang untuk rakyat," tutur Sardiman.

Ia juga mengungkapkan ada versi lain soal kesaktian Sudirman, yakni dia selalu membagikan perbekalannya kepada penduduk desa yang kekurangan. Perhiasan istrinya habis terjual untuk dijadikan modal bergerilya.

Semasa muda, kata Sardiman, Sudirman juga rajin berpuasa. Sikap prihatinnya juga tampak ketika dia menghadapi masalah. Segenap laku ibadah Jenderal Sudirman itu melebur dalam dirinya. Maka, jimat sang jenderal itu adalah sosoknya sendiri.