Sukses

Plastik Bisa Jadi Bahan Bakar Mobil, Bagaimana Caranya?

Liputan6.com, Yogyakarta - Sekelompok mahasiswa UGM mencetuskan ide plastik bisa diubah menjadi bahan bakar alternatif. Gagasan ini tidak sekadar wacana karena tahap pertama sudah dilakukan lewat pembuatan mobil pintar yang berfungsi sebagai sarana mengolah limbah plastik menjadi bahan bakar rendah emisi.

Tidak tanggung-tanggung, empat mahasiswa Jurusan Teknik Kimia, Herman Amrullah, Sholahuddin Alayyubi, Thya Araujo, dan Naufal Muflih, berhasil menjuarai kompetisi Shell Ideas360 pada awal Juli di London. Mereka tergabung dalam Tim Smart Car MCS UGM dan menyabet dua kategori lomba sekaligus, yakni Judges Choice dan Audience Voice.

Dalam jumpa pers di UGM, mereka menjelaskan gagasan yang mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional itu. Mobil pintar ini menerapkan teknologi Microalgae Cultivation Support (MCS) yang digunakan untuk mengurangi jumlah CO2 gas buang pada kendaraan.

Cara kerjanya, plastik dirajang sampai kecil sekitar enam sampai delapan milimeter. Lalu, sampah plastik dimasukkan ke dalam tabung yang sudah dipasang di dalam mobil.

Memasukkan plastik tidak perlu membongkar mobil, melainkan cukup lewat pintu bensin. Daya tampung tabung yang berfungsi sebagai reaktor pyrolisis adalah dua kilogram sampah plastik.

"Jenis plastik yang tidak bisa dimasukkan adalah PVC karena plastik ini mengadung Chlorida jika dikonversi dan berbahaya untuk manusia,”ucap Herman, Senin (23/7/2018).

Selanjutnya, proses konversi lewat suhu. Plastik yang sudah di dalam tabung diberi panas dari gas buang kendaraan atau knalpot dengan suhu 400 sampai 500 derajat Celcius. Hasilnya, berupa gas dan menjadi minyak setelah dingin. Satu kilogram sampah plastik bisa menghasilkan satu liter minyak bahan bakar alternatif.

Meskipun demikian, bahan bakar alternatif itu tidak secara otomatis bisa menggerakan mesin karena perlu proses lanjutan untuk membuatnya menjadi bahan bakar seperti premium, pertamax, dan sebagainya.

"Ini masih perlu separasi denan angka oktan dan sebagainya untuk benar-benar menjadi bahan bakar, yang pasti plastik bisa dijadikan bahan bakar alternatif karena plastik merupakan turunan dari minyak bumi," ujarnya.

 

 

2 dari 2 halaman

Menyisihkan 3.000-an Tim dari Seluruh Dunia

Tim Smart Car MCS UGM berhasil meraih juara pertama setelah mengalahkan empat finalis dunia, yakni American University of Sharjah, University of Texas at Austin, University of Bordeaux Perancis, dan University of Melbourne Australia. Mereka berkompetisi dalam beberapa tahap dengan 3.336 tim mahasiswa dari seluruh dunia.

Herman tidak menyangka bisa memenangkan kategori Judge Voice, terlebih formasi tim merupakan mahasiswa program sarjana.

"Tiga finalis lainnya mahasiswa program master," kata Herman.

Menurutnya, jika melihat latar belakang pendidikan timnya masih di bawah lawan, sehingga lawan terlihat sangat berat. Tim Smart Car MCS UGM ini dibimbing oleh Hanifrahmawan Sudibyo dan Yano Surya Pradana.

Ide ini berawal dari keprihatinan mereka terhadap sampah plastik di lingkungan. Untuk mengubah plastik menjadi bahan bakar membutuhkan energi yang tidak sedikit.

Loading
Artikel Selanjutnya
Tahukah Anda Lokasi Pertama Gereja Katedral Jakarta Ternyata Bukan Dekat Gambir?
Artikel Selanjutnya
10 Pertanyaan Pekerja Kreatif untuk Jurnalis