Sukses

Bencana Kekeringan dan Krisis Air Bersih Warnai Idul Fitri di Cilacap

Liputan6.com, Cilacap - Sebagaimana umat Muslim lainnya, warga Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah telah bersiap menyambut Lebaran Idul Fitri 1439 Hijriyah. Namun, tampaknya, persiapan lebaran tahun ini harus dilakukan lebih ekstra. Mereka mulai terdampak krisis air bersih.

Di awal musim kemarau ini, enam desa di dua kecamatan, yakni Kecamatan Kawunganten dan Bantarsari, mulai dilanda bencana kekeringan. Ribuan orang tak lagi bisa mengonsumsi air dari sumber air bersih yang dimiliki.

Sawah-sawah retak kekurangan air. Sumur-sumur mengering usai sebulan tak turun hujan. Krisis air bersih pun menerpa di kala kesibukan persiapan Lebaran Idul Fitri.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap pun telah bersiap dengan kondisi ini. Armada air bersih dan petugas dipersiapkan tanpa jeda untuk mengirimkan air bersih.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Cilacap, Martono mengatakan hingga saat ini sudah mendistribusikan bantuan air bersih ke daerah terdampak. Droping air bersih dimanfaatkan oleh sebanyak 586 kepala keluarga yang terdiri dari 2.482 Jiwa.

Hingga Selasa (12/6/2018), BPBD sudah mengirimkan sebanyak 13 tangki air ke enam desa. Rinciannya, yakni Desa Binangun empat tangki, Bringkeng dua tangki, Ujungmanik dua tangki, Desa Bojong dua tangki, Grugu satu tangki, dan Sidaurip dua tangki air bersih.

“Karena warga sudah mulai membeli air untuk kebutuhan konsumsi. Sementara ini, baru Kecamatan Kawunganten dan Bantarsari yang terparah. Kita tiap hari jadwalkan keiling untuk mendistribusikan air bersih ke desa yang membutuhkan,” dia menjelaskan, Rabu, 13 Juni 2018.

Mengantisipasi bencana pada Lebaran 2018 ini, BPBD juga tetap menyiagakan Posko tanggap darurat bencana pada libur dan cuti bersama lebaran 2018 ini. Salah satunya untuk menanggulangi krisis air bersih yang mulai terjadi di Cilacap.

1 dari 2 halaman

Persiapan Bantuan Air Bersih Sepanjang Kemarau 2018

Untuk memperoleh bantuan air bersih, kepala desa di wilayah terdampak mengirimkan surat permohonan bantuan air bersih ke BPBD. Selanjutnya, BPBD menjadwal pengiriman air bersih, disesuaikan dengan kesiapan armada.

Berdasarkan pemetaan BPBD Cilacap, terdapat 48 desa di Kabupaten Cilacap termasuk zona rawan kekeringan. Sebagian besar terletak di wilayah dataran rendah atau pesisir selatan Cilacap.

Kecamatan yang rawan krisis air bersih di antaranya Patimuan, Bantarsari, Kawunganten, Sidareja, Gandrungmangu dan Patimuan. Di enam kecamatan itu terdapat puluhan desa yang nyaris selalu terdampak air bersih tiap tahun.

Pada musim kemarau ini, BPBD telah menyiapkan 100 tangki air bersih untuk desa-desa yang mengalami krisis air bersih. Tetapi jumlah itu masih bisa ditambah menyesuaikan kondisi di lapangan.

Jika stok air tak menyukupi, BPBD akan kembali mengajukan penambahan ke pemerintah. Bantuan air bersih juga berasal program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan swasta, BUMN mapun bantuan lembaga non-profit.

Berkaca dari tahun 2017 lalu, distribusi air bersih selama kemarau di Cilacap mencapai 200 tangki. Sebelumnya, saat terjadi kemarau panjang pada 2015, kebutuhan air bersih Cilacap mencapai 500 tangki.

Dia pun mengakui, bantuan air bersih yang dikirimkan BPBD Cilacap tak bisa memenuhi seluruh kebutuhan air bersih warga. Pasalnya, BPBD hanya memiliki dua armada tangki untuk pengiriman air bersih. Sebab itu, BPBD menerapkan sistim giliran di desa-desa yang mengalami krisis air bersih.

“Kita sifatnya hanya mengurangi, membantu. Jadi kita terkendala oleh armada tanki BPBD yang hanya dua unit, jadi harus tetap bergilir,” dia menerangkan.

Saksikan video pilihan beriktu ini:

 

Artikel Selanjutnya
Persiapkan 5 Hal Ini Saat Malam Takbiran
Artikel Selanjutnya
Jelang Salat Idul Fitri 1439 H, Masjid Istiqlal Disterilisasi