Sukses

Menelusuri Asal Anak Buaya Muara yang Terjerat Pemancing di Sungai Serayu

Liputan6.com, Banjarnegara - Seekor anak buaya muara (Crocodylus porosus) terjerat mata kail pemancing Sungai Serayu di Desa Pucang Kecamatan Bawang, Banjarnegara, Jawa Tengah, akhir April lalu.

Buaya itu lantas diserahkan ke Taman Rekresasi Marga Satwa (TRMS) Serulingmas. Oleh TRMS, penyerahan buaya sepanjang 80 sentimeter berbobot 3 kilogram itu pun dilaporkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah.

Keberadaan anakan buaya di hulu bendungan raksasa Mrica itu memantik spekulasi muasal anakan buaya. Pasalnya, Sungai Serayu, terutama di Banjarnegara, bukanlah habitat buaya jenis terbesar di dunia ini.

Jika ia berasal dari alam liar, pertanyaan yang kemudian muncul adalah, di mana induknya. Akan tetapi, bisa terjadi pula, buaya itu hanya reptil yang dilepas oleh pemilik sebelumnya.

Tertangkapnya anakan buaya muara itu memicu kegelisahan, terutama pada warga yang saban hari beraktivitas di Sungai Serayu. Penambang tradisional, misalnya.

Tiap hari mereka menyelam dan menciduk pasir di kedalaman sungai. Spekulasi keberadaan buaya di Sungai Serayu membuat mereka tak tenang. Mereka khawatir bertemu dengan induk buaya.

2 dari 3 halaman

Mungkinkah Bendungan PLTA Mrica Jadi Habitat Buaya?

Pekan lalu, Tim BKSDA mulai mengkaji keberadaan anakan buaya muara ini. Tentu, yang pertama kali dilakukan adalah menemui orang yang menangkapnya, yakni Bakhtiar Yoga Pratama, warga Desa Pucang RT 3/11 Kecamatan Bawang, Banjarnegara.

Polisi Hutan BKSDA Jateng, Endi Suryo, mengemukakan lokasi tertangkapnya buaya di Sungai Serayu Desa Pucang memang layak menjadi habitat buaya muara. Lokasi itu berdekatan dengan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Mrica yang meliputi tujuh desa di tiga wilayah Kecamatan, yaitu Kecamatan Bawang, Wanadadi, dan Banjarmangu.

Area genangan PLTA Mrica, Banjarnegara, yang luas, dalam, dan berarus tenang bisa menjadi habitat buaya. Apalagi, di pinggiran bendungan terdapat semak tetumbuhan air yang bisa menjadi tempat berlindung buaya.

Tetapi selama ini, BKSDA belum pernah menerima laporan penampakan buaya yang pernah hidup di Sungai Serayu bagian hulu. Sebab itu, untuk menarik kesimpulan muasal buaya masih butuh keterangan lebih lengkap.

Fakta penting keberadaan buaya di aliran Sungai Serayu Desa Pucang juga didapat dari masyarakat setempat. Mereka menyebut, empat tahun lalu, ada warga yang pernah menjumpai seekor buaya besar yang sedang berada di air.

 

3 dari 3 halaman

Imbauan untuk Pecinta Reptil dan Masyarakat Aliran Serayu

Namun, keterangan dari penangkap buaya dan warga Pucang belum bisa menjadi pedoman untuk menarik kesimpulan. Masih ada enam desa lain di sekitar Sungai Serayu yang akan jadi target survei selanjutnya agar informasi lebih lengkap.

"Kami masih mengumpulkan bahan dan keterangan dari warga desa-desa sekitar agar informasi yang didapatkan lebih jelas," ucapnya, Jumat, 18 Mei 2018.

Kemungkinan lainnya, anakan buaya itu lepas atau dilepaskan oleh sang pemilik. Namun, Endi enggan berspekulasi. Ia hanya meminta agar para pemilik reptil dilindungi segera melaporkan hewan peliharaannya. Kalau pun sudah bosan atau tak sanggup memelihara, mereka dilarang melepasnya ke alam liar.

Sebab, saat dewasa, buaya muara yang terkenal ganas bisa amat membahayakan manusia. Konflik antara manusia dengan buaya muara sudah sering terjadi, meski di belahan lain Indonesia.

Banyak korban jatuh akibat konflik antara buaya dan manusia ini. Karenanya, ia menyarankan agar pemilk buaya menyerahkannya ke BKSDA.

"Hewan ini juga dilindungi," dia menambahkan.

Meski muasalnya masih menjadi teka-teki, BKSDA juga mengimbau agar masyarakat sekitar sungai Serayu untuk lebih berhati-hati saat beraktivitas di sungai. BKSDA telah berkoordinasi dengan Muspika Bawang dan pemerintah desa untuk menyosialisasikan imbauan ini.