Sukses

Bahaya, Mercusuar Pemandu Kapal di Selat Madura Digerogoti Karat

Liputan6.com, Bangkalan - Lokasi wisata mercusuar di Dusun Sembilangan, Desa Pernajuh, Kecamatan Kota, Kabupaten Bangkalan, Madura, ditutup untuk umum. Pengunjung kecewa karena penutupan itu tanpa pemberitahuan atau pengumuman sebelumnya.

"Saya sekeluarga jauh-jauh datang kemari dari Surabaya, tapi sampai sini ditutup," kata Habib (28), Senin, 2 Januari 2016.

Pantauan di lokasi, pintu masuk ke dalam mercusuar setinggi 8 lantai itu dirantai dan digembok. Penjaga mercusuar pun tak ada di lokasi sehingga pengunjung sulit mencari tahu penyebab ditutupnya menara yang dibuat pada 1879 tersebut.

Aminah, warga di sekitar mercusuar menuturkan, penutupan itu dilakukan sejak libur Idul Fitri lalu. Menurut cerita penjaga, tutur dia, penutupan dilakukan karena kontruksi mercusuar bikinan Belanda itu mulai rapuh.

Bila terlalu banyak warga yang naik, dikhawatirkan membuat konstruksi kian rapuh sehingga membahayakan pengunjung. "Begitu yang saya tahu," tutur dia.

Penutupan itu, kata Aminah, tidak mengurangi jumlah pengunjung. Pada hari libur, pengunjung selalu membludak. "Pengunjung ke sini cuma foto-foto, terus pulang," ungkap dia.

Mercusuar setinggi 78 meter itu dibuat pada zaman ZM Willem III, salah seorang raja Belanda. Namanya terpahat pada dinding di atas pintu masuk.

Di bawah nama tercantum tahun pembuatannya yaitu 1878. Hingga kini, menara ini masih difungsikan sebagai navigasi bagi lalu lintas kapal-kapal yang akan masuk ke Selat Madura.

Di Bangkalan, Mercusuar Sembilangan lebih masyhur disebut 'lampu'. Sebab pada malam hari, lampu mercusuar akan menyala dan daya jangkaunya mencapai 45 mil.

Bila ingin berkunjung, jangan tanya mercusuar karena warga Bangkalan akan bilang tidak tahu. Tetapi bila menyebut 'lampu', warga akan menunjukkan arahnya.

Loading