Sukses

Gawat, Durian Asli Banyumas Kini Tinggal 2 Pohon

Liputan6.com, Purwokerto - Durian Kusan, durian varietas asli Banyumas kini menunggu kepunahan. Durian yang buahnya mirip kukusan atau tempat menanak nasi itu kini hanya tersisa 2 pohon.

"Buahnya memang mirip kusan, umurnya ditaksir mencapai 125 tahun," kata Ketua Institut Studi Pedesaan dan Kawasan Banyumas, Mulyono Harsosuwito Putra, yang juga pecinta durian ini saat ditemui Liputan6.com, Selasa, 15 Maret 2016.

Buah Durian Kusan yang matang besar dan mengerucut di bagian bawahnya. Buahnya mirip stroberi. Daging buahnya berwarna kuning dan rasanya juga manis.

Menurut Mulyono yang akrab disapa Kang Mul itu, perjuangan melihat durian Kusan tidak mudah. Letak pohon durian yang berada di perbukitan lereng selatan Gunung Slamet hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Pohonnya tinggi menjulang.

Lokasi batang pohon durian berdiameter 1 meter itu tepatnya berada di Grumbul Rabuk, Desa Baseh, Kecamatan Kedungbanteng, Banyumas, Jawa Tengah. Konon, bukit tempat pohon durian langka itu angker dan banyak demit.

Mul sudah setahun ini mendata durian lokal Banyumas. Di antara jenis lainnya, Durian Kusan inilah yang jumlahnya terbilang sangat sedikit, yakni hanya dua pohon.

Selain Durian Kusan, varietas durian lokal Banyumas di antaranya, Durian Kromo, Susu, Podang, Emprit, dan ratusan varietas lainnya yang belum punya nama. "Biasanya namanya diambil dari pemilik pohon seperti Durian Kusrin milik Pak Kusrin," kata Mul.

Ia mengatakan, durian pada zaman dulu merupakan penanda status sosial. Tidak semua orang bisa menikmati buah durian seperti sekarang ini.

Biasanya, kata dia, pemilik pohon durian merupakan tuan tanah kaya atau golongan ningrat di desa. Itulah mengapa durian varietas lokal Banyumas hanya ada di tanah-tanah milik orang kaya.

Tio, seorang pemuda setempat mengatakan, kini sedang mencoba membudidayakan Durian Kusan dengan cara mencangkoknya. "Takutnya sebentar lagi dan tidak ada lagi peninggalannya," kata dia.

Saat kecil dulu, kata dia, Durian Kusan berbuah besar dan daging buahnya sangat enak. Namun, karena sudah berumur ratusan tahun, kini buahnya mulai mengecil dan tak seenak dulu.

Ia berharap, petani lokal mulai peduli dengan varietas lokal yang tak kalah enak dengan durian dari Thailand. "Kita harus bangga dengan produk asli Indonesia," kata Tio.