Sukses

Kaki Ganda Durian Bawor Siap Tandingi Popularitas Montong

Liputan6.com, Semarang - Gerakan mengembalikan masyarakat Tanah Air ke selera lokal, didahului dengan upaya membangun kebanggaan terhadap produk lokal. Gerakan ini mulai tampak dalam bidang pertanian dan perkebunan.

Jika selama ini masyarakat diarahkan percaya pada branding durian montong, kini muncul varietas baru durian lokal yang siap menandingi keiistimewaan durian montong asal Thailand.

Di Kabupaten Semarang, PT Sido Muncul Tbk memprakarsai pembentukan desa wisata buah di Desa Diwak, Kaliori, dan Bergas Kidul. Perusahaan jamu dan farmasi ini mencoba mengembangkan 3 varietas durian lokal masing-masing dengan keunggulan berbeda.

Varietas durian bawor, durian pelangi, dan durian matahari ini diyakini mampu menandingi popularitas durian montong.

Presiden Direktur PT Sido Muncul Tbk Irwan Hidayat menyebutkan jika gerakan desa wisata buah itu didukung pemerintah dan masyarakat, Jawa Tengah akan memiliki taman buah dengan keunggulan khusus.

"Yang dimanfaatkan adalah lahan masyarakat. Kami menyediakan bibit dan pendampingan dari pakar-pakar buah di Ad Glows," kata Irwan kepada Liputan6.com, Minggu (31/1/2016).

Managing Direktur Ad Glows, Aji Fauzi, menyebutkan dipilihnya durian bawor sebagai ikon melawan dominasi durian montong bukan asal-asalan. Selain produk lokal asal Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas, durian bawor juga memiliki segalanya dibanding durian montong.

"Dari sisi ukuran, durian bawor mampu mencapai 12 kilogram, sedangkan montong selama ini terbesar hanya 8 kilogram. Dari sisi rasa lebih legit, serat lebih halus," jelas dia.

Aji mengatakan, budidaya durian bawor di kabupaten Semarang, sebenarnya sudah didahului riset lebih dari setahun. Riset meliputi kecocokan tanah, agroklimat, kepadatan penduduk, hingga gaya hidup masyarakat.

Sejauh ini, harga durian bawor masih berada di bawah durian montong. Itu disebabkan karena permintaan masyarakat memang belum tinggi. Kendati, permintaan ke supermarket dan gerai buah modern belum mampu dipenuhi.

"Jika di supermarket harga durian montong mencapai Rp 300 ribu, durian bawor ini masih berkisar Rp 200 ribuan. Namun jangan harap bisa ditemui di supermarket, karena setiap panen, selalu sudah habis saat masih di pohon," pungkas Aji.


Teknologi Kaki Ganda

(Liputan6.com/Edhie Prayitno Ige)

Pakar durian alumnus taman buah Mekarsari Muhammad Reza Tirtawinata menyebutkan, untuk mempercepat produksi pihaknya mengembangkan teknologi kaki ganda. Teknologi itu sebenarnya teknologi purba yang dipakai masyarakat di Tanah Air.

"Batang utama kita sambung dengan 3 batang lain sebagai penyangga. Batang utama dari biji, sehingga tak mengubah rasa dan gen aslinya," kata Reza.

Fungsi batang tambahan itu, selain sebagai penguat sehingga bisa menahan beban tumbuhan, juga untuk menambah daya serap nutrisi. Masing-masing batang, baik yang utama maupun tambahan, akan mempunyai akar sendiri.

"Dengan teknologi itu, dalam 3 tahun tanaman sudah mampu berbuah. Tentu dengan syarat lingkungan yang mendukung," jelas Direktur Agribisnis dan CSR Ad Glow ini.

Dipilihnya Desa Diwak, Kaliori ini selain gaya hidup masyarakatnya yang masih berorientasi pertanian, juga ketersediaan lahan yang cukup. Bukan hanya luas lahan, namun lahan yang ditanami itu juga harus bebas dari permukiman penduduk, sehingga pertumbuhan optimal.

"Durian bawor ini asli produk lokal Jawa Tengah. Selain itu kami kembangkan juga durian matahari yang meski ukuran lebih kecil, namun rasanya sangat luar biasa. Ada lagi durian pelangi dari Papua yang daging buahnya berwarna merah, itu hanya ada di negara kita," kata Reza.

10 Hektare lahan untuk perkebunan itu disiapkan sebagai daya tarik utama desa wisata buah di Desa Diwak dan Kaliori. Sedangkan infrastruktur lainnya, memang sudah siap, dimana saat ini sudah ada pemandian air panas dan situs purbakala Candi Ngempon.

Sejauh ini, lanjut Reza, yang memiliki tingkat konsistensi tinggi dalam ukuran adalah durian bawor. Sementara durian lokal lainnya memiliki ukuran bervariasi, durian bawor selalu dalam ukuran besar.

"Sejatinya durian montong itu kan durian kita juga. Asli produk Bogor, namun kini dikembangkan di Thailand dan dikembalikan ke sini. Nah, kami tidak mau lagi kecolongan seperti itu," kata Indra Dewi, peneliti di Ad Glow.