Dari Elektronik ke Mobil Listrik, Ini Transformasi Polytron

Polytron Fest 2026 tidak hanya menjadi ajang perayaan ulang tahun perusahaan, tetapi juga menghadirkan berbagai aktivitas bagi masyarakat

Diterbitkan 20 September 2026, 14:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Polytron menggelar Polytron Fest sebagai bagian dari perayaan ulang tahun ke-51 perusahaan. Acara tersebut berlangsung di Parkir Selatan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta Pusat, pada 19-20 September 2026.

Melalui Polytron Fest 2026, produsen elektronik dan kendaraan listrik asal Indonesia tersebut kembali menegaskan upayanya untuk mempertahankan relevansi produk di tengah perubahan gaya hidup serta kebutuhan konsumen yang terus berkembang.

General Manager Corporate Communications Polytron, Diantika, mengatakan perusahaan menerapkan strategi 3I yang terdiri dari invention, innovation, dan improvement secara berkelanjutan.

Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya Polytron dalam memastikan produk yang dihadirkan tetap sesuai dengan kebutuhan konsumen dari berbagai generasi.

"Dengan strategi 3I, kami membuat produk Polytron tetap relevan melewati berbagai generasi," ujar Diantika saat pembukaan Polytron Fest 2026, Sabtu (19/9/2026).

Menurut Diantika, pengembangan produk dilakukan dengan mendengarkan kebutuhan sekaligus melihat perubahan perilaku konsumen. Masukan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam teknologi dan fitur yang dinilai dapat menjawab kebutuhan sehari-hari.

Polytron Fest 2026 tidak hanya menjadi ajang perayaan ulang tahun perusahaan, tetapi juga menghadirkan berbagai aktivitas bagi masyarakat.

Sejumlah kegiatan yang digelar antara lain fun run & fun walk, compact hybrid race, kompetisi basket 3 on 3, zumba, kompetisi tari, bazar, festival kuliner, hingga pertunjukan musik.

Polytron juga menghadirkan kampanye "Bangga Terus Melangkah" melalui kolaborasi dengan grup musik Maliq & D'Essentials.

Diantika mengatakan, kolaborasi tersebut memiliki benang merah berupa perjalanan panjang, kemampuan menjaga eksistensi, terus relevan, serta menginspirasi lintas generasi.

"Kolaborasi ini dipilih karena kedua pihak memiliki benang merah berupa perjalanan panjang, kemampuan menjaga eksistensi, terus relevan, serta menginspirasi lintas generasi," katanya.

Melalui kampanye tersebut, Polytron ingin mengajak masyarakat untuk terus bergerak maju, terlepas dari besar atau kecilnya langkah yang dilakukan.

"Tidak penting langkah besar atau langkah kecil, yang penting melangkah. Karena semangat itu paling penting. Kalau ada harapan, kita bisa maju," ujar Diantika.

Dari Elektronik Rumah Tangga hingga Kendaraan Listrik

 

Polytron berdiri di Kudus pada 1975 dan selama lebih dari lima dekade dikenal sebagai salah satu produsen elektronik rumah tangga di Indonesia.

Portofolio perusahaan berkembang dari produk televisi, lemari es, mesin cuci, dan perangkat audio hingga pendingin udara, oven listrik, dispenser, laptop, serta monitor.

Seiring perubahan kebutuhan masyarakat, Polytron kemudian memperluas bisnisnya ke sektor kendaraan ramah lingkungan atau Electric Vehicle (EV).

Transformasi tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan memanfaatkan pengalaman panjang di bidang teknologi untuk menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat.

Langkah awal dilakukan melalui pengembangan kendaraan listrik roda dua. Polytron menghadirkan sejumlah model, seperti Fox-R, Fox-S, Fox-350, hingga Fox-200 yang menyasar kebutuhan mobilitas masyarakat, termasuk penggunaan di kawasan perkotaan.

Salah satu strategi yang diterapkan Polytron pada bisnis motor listrik adalah skema Battery-as-a-Service (BaaS) atau baterai sewa.

Melalui skema tersebut, konsumen membayar biaya berlangganan baterai setiap bulan. Besarannya bergantung pada model motor listrik yang dipilih, yakni berkisar Rp125 ribu hingga Rp200 ribu per bulan.

Head of Group Product EV 2W Polytron, Ilman Fachrian Fadly, mengatakan mayoritas konsumen motor listrik Polytron memilih skema baterai sewa.

"Secara persentase itu 98 persen banyaknya yang Battery as a Service, baterai sewa. Karena di sana user itu lebih tenang kalau misalnya ada khawatir baterai drop," kata Ilman.

Menurutnya, skema tersebut memberikan rasa aman bagi konsumen yang memiliki kekhawatiran terhadap penurunan performa baterai seiring dengan penggunaan kendaraan.

Selain konsumen individu, penggunaan motor listrik Polytron juga berkembang ke segmen korporasi atau business to business (B2B).

 

Motor Listrik Polytron Hampir 70.000 Unit

Ilman mengungkapkan, total penjualan motor listrik Polytron saat ini telah mendekati 70.000 unit.

"Penjualan motor listrik Polytron sampai saat ini sudah hampir 70.000. Selain masyarakat retail, individu, ada juga business to business," kata Ilman.

Salah satu perusahaan yang menggunakan motor listrik Polytron adalah Rentokil. Perusahaan jasa pengendalian hama tersebut tercatat telah menggunakan sekitar 325 unit motor listrik Polytron.

Human Resources Director Rentokil, Budi Santoso, mengatakan kebutuhan kendaraan operasional menjadi salah satu pertimbangan perusahaan dalam menggunakan motor listrik.

Rentokil memiliki jaringan bisnis di lebih dari 48 cabang di Indonesia sehingga membutuhkan armada untuk mendukung mobilitas teknisi dalam melayani pelanggan.

Menurut Budi, penggunaan motor listrik juga membantu memangkas biaya bahan bakar sehingga pengeluaran kendaraan operasional menjadi lebih efisien.

Selain efisiensi, Rentokil mempertimbangkan sejumlah aspek ketika memilih motor listrik Polytron, mulai dari jarak tempuh, daya tahan, desain fisik yang sesuai dengan kebutuhan teknisi, hingga layanan purnajual.

"Yang paling penting juga after sales service. Ini memberikan peace of mind bagi kami. Kalau sekadar electric vehicle tetapi nantinya susah untuk servis dan sebagainya, itu juga merepotkan," ujar Budi.

Selain Rentokil, PT PLN (Persero) juga menggunakan sekitar 600 unit motor listrik Polytron untuk mendukung aktivitas operasional di sejumlah wilayah.

Setelah mengembangkan kendaraan listrik roda dua, Polytron kemudian memperluas bisnisnya ke kendaraan roda empat.

Momentum perayaan 50 tahun perjalanan perusahaan ditandai dengan masuknya Polytron ke pasar mobil listrik melalui Polytron G3 dan G3+.

Kedua kendaraan tersebut dikembangkan dengan kemampuan jarak tempuh hingga ratusan kilometer. Polytron juga menyebut tingkat komponen dalam negeri (TKDN) produknya telah mencapai 40 persen.

Langkah tersebut memperlihatkan perkembangan bisnis Polytron dari produsen elektronik rumah tangga menjadi perusahaan yang juga menggarap sektor kendaraan listrik.

Dengan strategi 3I yang mencakup invention, innovation, dan improvement, Polytron menempatkan pengembangan produk serta adaptasi terhadap kebutuhan konsumen sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan bisnisnya di tengah perubahan industri dan gaya hidup masyarakat.