Trump Ingin Manfaatkan Karyawan Pabrik Hyundai di AS, Begini Reaksi Pemerintah Korsel

Presiden Donald Trump mengajukan usulan agar lebih dari 300 pekerja asal Korea Selatan, yang sebelumnya ditahan di sebuah pabrik Hyundai di Georgia tetap tinggal di Amerika Serikat dan memberi pelatihan

Diperbarui 16 September 2025, 17:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Donald Trump mengajukan usulan agar lebih dari 300 pekerja asal Korea Selatan, yang sebelumnya ditahan di sebuah pabrik Hyundai di Georgia, tetap tinggal di Amerika Serikat dan memberi pelatihan kepada pekerja lokal Amerika Serikat (AS).

Namun permintaan ini tidak disetujui oleh pemerintah Korea Selatan, yang menegaskan bahwa mereka harus kembali pulang.

Disitat dari Carscoops, aksi penahanan muncul setelah otoritas imigrasi AS melakukan razia di joint venture pabrik Hyundai dan LG di Georgia, menahan sekitar 475 orang yang diduga sebagai “unlawful aliens”.

Sebagian besar yang ditahan, adalah pekerja Korea yang dibawa khusus untuk membantu mempersiapkan fasilitas tersebut, namun tidak memiliki visa kerja yang sesuai.

Donald Trump sempat menunda pembebasan para pekerja tersebut dari tahanan, untuk mempertimbangkan apakah mereka bisa tetap di AS guna mengedukasi dan memberikan pelatihan kepada pekerja lokal Negeri Paman Sam.

Tetapi pemerintah Korea Selatan, melalui pertemuan antara Menteri Luar Negeri Cho Hyun, dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, menyatakan bahwa mereka ingin para pekerja kembali ke Korea.

Total 316 orang pekerja Korea dibebaskan dari fasilitas penahanan dan dibawa dengan bus ke Atlanta, kemudian difasilitasi pesawat charter Korean Air untuk kembali ke Tanah Airnya.

Dampak dari Razia Amerika Serikat

Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menyebut bahwa insiden ini bisa berdampak negatif terhadap investasi Korea di AS ke depan.

Dirinya juga menyatakan bahwa banyak perusahaan Korea yang kini sangat bingung karena situasi di lapangan, terutama terkait visi jangka panjang, penelitian, dan pekerjaan yang mungkin menjadi tidak jelas.

Salah satu akar masalahnya adalah penggunaan visa yang tidak sesuai, banyak pekerja Korea masuk ke AS menggunakan visa bisnis B1 atau melalui program visa waiver (ESTA), padahal seharusnya mereka memakai visa kerja khusus seperti H-1B, L1, atau E2.

Proses pengajuan visa tersebut sering memakan waktu yang lama, sehingga perusahaan kesulitan jika membutuhkan pekerja asing dalam waktu cepat.