Sukses

Setelah 21 Tahun, Toyota Prius Hybrid Resmi Pensiun

Liputan6.com, Jakarta - Toyota akhirnya resmi mengumumkan untuk tidak lagi memproduksi Toyota Prius, mobil hybrid mereka yang telah berusia 21 tahun melanglang buana di pasar otomotif Australia.

Dikutip dari Carsales Australia, pengumuman tersebut akhirnya dilakukan setelah mobil ini menjadi pemimpin di pasar lokal untuk segmen hybrid sejak Oktober 2001 silam.

Masih dari laman tersebut, performa penjualan Toyota Prius hybrid ini terbilang moncer. Selama dua dekade, Toyota, berhasil mencatatkan penjualan lebih dari 35.000 unit dari semua varian yang mereka luncurkan.

Namun, untuk Toyota Prius generasi keempat yang waktu itu diluncurkan pada Maret 2016, memang penjualannya tidak sebagus generasi sebelumnya.

Dari data yang mereka rilis, model ini hanya laku sebanyak 26 unit pada awal tahun 2022. Meskipun demikian, jumlah tersebut masih lebih baik jika dibandingkan dengan periode pada 2021 lalu yang hanya terjual sebanyak 18 unit.

"Ketika kami meluncurkan Prius pada Oktober 2001, sulit untuk memprediksi dampak besar yang akan ditimbulkan oleh mobil hybrid Toyota pada lanskap otomotif Australia," jelas Wakil Presiden Operasi Penjualan, Pemasaran dan Waralaba Toyota Australia, Sean Hanley, dalam informasi resminya.

Selanjutnya, ia juga menjabarkan perihal performa penjualan dari model tersebut. Pada tahun 2001, memang belum banyak unit yang mampu mereka niagakan.

Tetapi, hingga pertengahan 2018 lalu, mereka telah menjual sebanyak 100.000 unit dan terus tumbuh sampai 2021 dengan membukukan angka penjualan sebanyak 200.000 unit.

Pertama kali tiba di Australia, Toyota Prius, hadir dengan dukungan jantung pacu hybrid berkubikasi 1.5 liter. Dari mesin tersebut, tenaga yang dihasilkan adalah sebesar 71 tk dan torsi puncak 115 Nm.

**Pantau arus mudik dan balik Lebaran 2022 melalui CCTV Kemenhub dari berbagai titik secara realtime di tautan ini

2 dari 2 halaman

Toyota Tutup 8 Pabrik Selama 6 Hari Karena Lockdown di Cina

Toyota Motor Corp, Selasa (10/5/2022), mengumumkan akan menangguhkan operasi 14 jalur perakitan di 8 pabrik Jepang hingga enam hari pada Mei 2022. Hal tersebut, karena negeri Tirai Bambu ini menerapkan lockdown akibat kasus COVID-19 yang kembali tinggi, dan jenama asal Negeri Matahari terbit ini akan kesulitan mendapatkan pasokan suku cadang.

Disitat Reuters, penghentian pabrik ini akan berlangsung 16 hingga 21 Mei 2022. Dengan penutupan tersebut, akan mempengarui output sekitar 30 ribu unit kendaraan.

Selain itu, dengan penutupan pabrik tersebut akan memangkas target produksi global untuk Mei 2022, sekitar 50 ribu unit menjadi hanya 700 ribu unit.

Pengumuman Toyota ini, merupakan satu dari banyak pabrikan yang harus menutup pabrik akibat lockdown di Shanghai. Sebelumnya, tesla juga telah menghentikan sebagian besar produksinya, untuk mengamankan suku cadang kendaraan listrik.

Produsen asal Amerika Serikat ini, terpaksa hanya akan memproduksi sebanyak 200 unit per hari, sebelum kembali tancap gas mengejar produksi sebanyak 2.000 unit per hari pada pekan depan.

Shanghai sendiri, kini telah memasuki pekan keenam lockdown, karena kasus Covid-19 yang kembali tinggi.

Penjualan mobil di Cina sendiri diperkiran mengalami penurunan yang signifikan, sebesar 48 persen. Sebelum lockdown, penjualan kendaraan listrik di Shanghai tengah booming, dengan penjualan Tesla meningkat 56 persen pada kuartal pertama.