Perang 12 Hari Iran-Israel: "Main Course" Tidak Tuntas yang Dimenangkan Trump

Jika serangan Israel terhadap fasilitas-fasilitas nuklir Iran serta pembunuhan para petinggi militer dan ahli nuklir Iran adalah "main course", maka aksi pemboman dan serangan rudal AS terhadap Fordow, Natanz dan Isfahan hanya "dessert".

Diperbarui 25 Juni 2025, 23:37 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Berdasarkan opini dari:
Penulis adalah Managing Director Bening Communication dan pemerhati politik Amerika Serikat yang kini menjadi Kandidat Program Doktor Komunikasi Politik & Diplomasi Universitas SAHID.

Liputan6.com, Jakarta - Benjamin Netanyahu, kata Amin Saikal, Emeritus Professor of Middle Eastern and Central Asian Studies, Australian National University kepada The Conversation, telah lama bertekad untuk menghancurkan "gurita" Iran—jaringan luas yang meliputi Hamas di Gaza, Hezbollah di Lebanon, rezim Bashar al-Assad di Suriah, dan militan Houthi di Yaman. Pengeboman Iran yang dilakukan Israel sejak 17 Juni lalu, kata Saikal, adalah aksi memenggal kepala gurita tersebut.

Israel melakukan tindakan ofensif terhadap Iran melalui perang 12 hari ketika negara ini dalam posisi paling lemah. Operasi militer Israel di Jalur Gaza telah menghancurkan kekuatan Hamas. Rezim Bashar al-Assad tumbang pada 8 Desember 2024. Israel juga sukses menghancurkan 80% arsenal Hezbollah melalui serangan Desember 2024, setelah sebelumnya membunuh Hassan Nasrallah, pemimpin milisi pro-Iran di Lebanon ini. Israel juga telah melumpuhkan kekuatan milisi Houthi melalui serangan bertubi-tubi dari 5 Mei hingga 10 Juni 2025.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, semula menyangkal keterlibatan AS dalam perang Israel-Iran. Tapi Yossi Melman, analis militer dan inteligen Israel kawakan, dikutip The Guardian, mengatakan penarikan mundur personil non-esensial AS dari Timur Tengah dan bocoran sumber anonim di pemerintah AS mengenai rencana serangan Israel ke Iran sudah menjadi template yang mengindikasikan keterlibatan AS. Menurut Melman, serangan Israel terhadap lokasi-lokasi nuklir Iran tidak akan efektif tanpa bantuan AS baik di sisi pertahanan maupun penyerangan.

Enam bom Massive Ordinance Penetrator (MOP) penghancur bunker yang dijatuhkan oleh pesawat pembom siluman B2 Spirit di atas fasilitas pengayaan uranium Fordow dan 40 rudal Tomahawk yang ditembakkan dari kapal selam AS ke dua fasilitas nuklir Iran di Natanz dan Isfahan pada 22 Juni menjadi bukti nyata keterlibatan AS. Penulis sudah memprediksi hal ini dalam tulisan kolom tahun lalu bertajuk: Saling Serang Israel-Iran Saat Ini Hanya "Appetizer", "Main Course" Menunggu Hasil Pilpres AS 2024.

Jika serangan Israel terhadap fasilitas-fasilitas nuklir Iran serta pembunuhan para petinggi militer dan ahli nuklir Iran adalah "main course", maka aksi pemboman dan serangan rudal AS terhadap Fordow, Natanz dan Isfahan hanya "dessert", karena dilakukan setelah infrastruktur penangkal serangan udara Iran nyaris lumpuh total.

Israel berdalih aksi militer terhadap Iran difokuskan pada penghancuran lokasi-lokasi pengembangan kekuatan nuklir negara ini, terutama fasilitas pengayaan uranium di Natanzdan Fordow. Di sana disinyalir lebih dari 14.000 tabung sentrifugal bekerja tanpa henti untuk menghasilkan uranium yang diperkaya untuk bahan baku bom nuklir. Badan tenaga atom internasional IAEA memperkirakan Iran sudah memiliki 400-600 kg uranium dengan pengayaan U-235 mencapai 60%.

Uraniun seberat ini cukup untuk membuat 6 hingga 9 bom nuklir seberat bom atom “Little Boy” yang dijatuhkan di Hiroshima. Meskipun pengayaan U-235-nya masih di bawah “Little Boy”, dengan teknologi 80 tahun lebih maju daya hancur bom nuklir Iran bisa lebih dahsyat dari bom Hiroshima.

 

Nuklir Israel dan Begin Doctrine

Yang seringkali luput dari perhatian media adalah kemampuan persenjataan nuklir Israel yang sudah dibangun sejak tahun 1960-an. Israel tidak pernah mengakui atau menyangkal memiliki senjata nuklir, tapi lembaga-lembaga kajian independen seperti Arms Control Center, Arms Control Association, dan National Security Journal sepakat Israel saat ini memiliki paling tidak 90 hulu ledak nuklir berbahan baku plutonium, serta cadangan plutonium yang cukup untuk 200 hulu ledak nuklir lagi.

Menurut laporan intelijen AS dan IAEA, Iran sebenarnya masih perlu tiga tahun lagi untuk memiliki desain senjata atau sistem peledakan nuklir yang memadai. Tapi Israel tidak peduli. Penyerangan terhadap nuklir Iran sudah agenda Israel berdasarkan “Begin Doctrine.”

Diambil dari nama Menachem Begin, Perdana Menteri Israel yang berkuasa pada 21 Juni 1977 hingga 10 Oktober 1981, doktrin ini menuntut pemimpin Israel untuk mencegah negara-negara musuh memiliki senjata nuklir. Dengan doktrin ini pada 1981 Israel membombardir reaktor Osirak milik Irak, disusul dengan menghancurkan reaktor Al-Kibar milik Suriah pada 2007 dan menyerang fasilitas pengayaan nuklir Iran dengan malware Stuxnet pada 2010.

Selain itu, Iran saat ini menjadi musuh terakhir Israel di Timur Tengah yang belum mau berdamai atau ditaklukkan. Mesir dan Yordania yang bersama Suriah memerangi Israel dan kalah dalam perang 6 hari pada 1967 sudah berdamai mengakui kedaulatan Israel. Saddam Hussein, presiden Irak yang pernah menyerukan kepada warga Muslim dan Kristen di dunia untuk bangkit melawan Israel dan konspirasi Zionis, tumbang pada April 2003.

Moammar Gaddafi, presiden Libya yang menyebut negara-negara Arab yang membangun hubungan dengan Israel sebagai rezim pengecut, jatuh dari kekuasaan dan terbunuh pada 20 Oktober 2011. Rezim Bashar Al-Assad yang selama berkuasa selama 24 tahun berkuasa selalu memusuhi Israel, ambruk pada akhir tahun 2024.

Seperti cerita Herkules dalam mitologi Yunani, Iran bagi Israel bak kepala Hidra terakhir yang dipenggal dan dikubur agar makhluk ini mati selamanya.

Endgame Perang Israel-Iran

Dengan keunggulan dalam kemampuan intelijen dan kekuatan militer dan dukungan langsung dari AS Israel kini berada di atas angin. Dalam wawancara dengan Fox News hari Minggu seperti dikutip DW, Netanyahu secara terbuka mengatakan perubahan rezim bisa menjadi end-game dari operasi militer Israel di Iran karena menurutnya pemerintahan Iran saat ini sangat lemah. Sementara dalam perkembangan terakhir Trump menolak aksi penggulingan pemerintahan Iran. 

Banyak pengamat Iran meragukan bombardemen Israel atas Iran akan mampu menghancurkan rezim yang saat ini berkuasa, kalaupun gencatan senjata permanen gagal dan aksi saling serang berlanjut. Sebagian rakyat Iran memang sudah jenuh dengan penguasa saat ini karena situasi ekonomi yang semakin memburuk, tapi ketika Israel menjadi penggagas perubahan rezim, rakyat Iran yang anti-pemerintah pun enggan mendukung. 

Lebih jauh, upaya Israel untuk menciptakan ketidakstabilan di dalam negeri Iran akan memberi legitimasi baru bagi pemimpin teokrasi Iran, baik Khamenei ataupun penerusnya, untuk kembali bangkit dan mempercepat upaya membangun persenjataan nuklir.

Sikap Israel yang semakin agresif juga berpotensi membuat negara-negara Arab lain, termasuk Saudi Arabia, khawatir dengan ‘duopoli’ Israel dan AS di Timur Tengah. Dalam situasi ini Rusia bisa berperan sebagai mitra penyeimbang dan berkesempatan membangun kembali aliansi pro-Rusia di Timur Tengah setelah Libya, Irak, dan Suriah jatuh.

Keuntungan Bagi AS dan Trump

Pada periode pertama kepresidenan, Trump menggagas “Abraham Accords” yang mengupayakan normalisasi hubungan Israel dengan negara-negara Arab yang tidak mengakui negara Israel. Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko dan Sudan sudah menandatangani kesepakatan ini pada 2020. Kerjasama AS – Israel melumpuhkan Iran mungkin akan membuat banyak negara-negara Arab lain terdorong untuk mengikuti ajakan Trump membuka hubungan diplomatik dengan Israel.

Timur Tengah yang damai akan berdampak positif bagi ekonomi AS karena harga minyak bisa terkendali, lalu lintas berbagai komoditas melalui Selat Homruz aman dan perusahaan-perusahaan AS bisa mengambangkan bisnis di kawasan ini. Tidak ketinggalan, bisnis keluarga Trump bisa semakin lancar.

Seperti dilaporkan NBC News, Trump Organization telah berekspansi ke Saudi Arabia, Qatar, Uni Emirat Arab dan Oman, antara lain dengan membangun Trump International Hotel & Tower di Dubai, resort golf di Doha, Trump Tower di Jeddah, dan Hotel yang masih dalam tahap konstruksi di Muscat.

Serangan enam bom “bunker buster” ke fasilitas nuklir Fordow dan 40 rudal Tomahawk fasilitas nuklir Natanz dan Isfahan merupakan upaya AS agar perang Iran-Israel segera selesai karena banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Data riset menunjukkan ketidakpuasan masyarakat AS terhadap Trump saat ini sangat tinggi, termasuk untuk dua isu unggulan yakni ekonomi dan imigrasi.

Survei YouGov yang dirilis 17 Juni lalu mengungkapkan net approval rating Trump untuk isu ekonomi (inflasi/harga-harga) dan imigrasi sangat buruk, masing-masing mencapai -23% dan-8%. Sementara survei lain dari Ipsos dan YouGov mengungkapkan net approval Trump secara umum anjlok ke -12% dan -13%. Padahal pada saat pelantikan, kedua lembaga survei ini mencatat net approval rating Trump sebesar +6%.

Menurut laporan terakhir dari The Washington Post, fasilitas pengayaan nuklir Iran ternyata tidak sepenuhnya hancur oleh serangan bunker buster AS, tapi hanya mengalami kemunduran beberapa bulan. Uranium diperkaya yang menjadi bahan bom nuklir Iran juga dikabarkan masih aman karena sudah dipindah sebelum serangan AS dilancarkan. Tapi untuk sementara Israel dan AS cukup puas dengan hasil aksi militer mereka, sehingga gencatan senjata permanen sepertinya bisa dicapai.

Meminjam petikan lagi Richard Stepp, “There’s always another day,” “There’s always another way” bagi Israel dan AS untuk menghancurkan kekuatan nuklir Iran!