Sukses

Komitmen Asuransi Manulife bagi Korban Bencana di Palu

Liputan6.com, Jakarta Gempa dan tsunami melanda Wilayah Sulawesi Tengah (Sulteng), khususnya Kota Palu dan Donggala pada 2018. Bencana tersebut menelan korban jiwa lebih dari 3.700 orang, sekitar 55.000 bangunan hancur, dan kerugian materi mencapai sekitar Rp 18,4 triliun.

Tragedi itu menggugah kepedulian perusahaan asuransi PT Manulife Indonesia di Palu. Dengan tetap memastikan kondisi agen dan layanan ke nasabah, di tengah keterbatasan dan kesusahan yang diderita masyarakat.

Direktur and chief Marketing Manulife Indonesia Novita Rumgangun menjelaskan, pihaknya memahami kebutuhan solusi perencanaan keuangan keluarga Indonesia yang beragam, termasuk kebutuhan nasabah yang mengalami musibah bencana alam. salah satunya di Palu.

Menurut dia, nasabah tidak perlu khawatir akan dipersulit dalam mengajukan klaim. Terbukti hingga November 2019 (un-audited), Manulife Indonesia telah membayarkan klaim sebesar Rp 5,3 triliun atau setara Rp 15 miliar per hari atau Rp 608 juta per jam.

Sebelumnya, pada tahun 2018, Manulife membayar klaim ke nasabah Rp 5,5 triliun atau Rp 15 miliar setiap harinya, dan Rp 626 juta setiap jamnya.

Tahun 2017, Manulife Indonesia membayar klaim ke nasabah sebesar Rp 6,6 triliun atau sekitar Rp 18 miliar per hari atau berkisar Rp 753 juta per jam. Tahun 2016, jumlah klaim yang dibayar sebesar Rp 6,8 triliun, sedangkan pada tahun 2015 mencapai Rp 5,6 triliun.

Tercatat, peristiwa gempa bumi itu merenggut nyawa dua agen perusahaan asuransi jiwa PT Manulife Indonesia yakni Reni Juaningsih dan M Rusli. Kantor pusat Manulife Indonesia di Jakarta kemudian mengirim pasokan bantuan, termasuk memberikan informasi-informasi penting untuk penanganan bantuan terhadap nasabah.

“Kantor kami rusak, bahkan kami yang saat itu berada di kantor nyaris tertimpa reruntuhan, beruntung kami selamat. Tetapi, kendaraan kami hancur tertimpa reruntuhan,” ujar Manajer Distrik Manulife Indonesia Palu Seprina Fifian Mangitung, Kamis (6/2/2020).

Seluruh agen mendapat bantuan, termasuk biaya untuk merenovasi rumah yang rusak akibat gempa. Bahkan, ada beberapa agen yang mendapat dana hingga puluhan juta Rupiah untuk memperbaiki kendaraan mereka yang rusak saat terparkir di kantor Manulife di Palu.

Staf Kantor Manulife di Palu, Rosalina Hariyanti mengisahkan, kantor pusat di Jakarta meminta para staf dan agen terlebih dulu memprioritaskan keluarga dan nasabah.

“Inilah yang membuat kami semangat untuk bangkit, di tengah kesusahan, kami tetap berupaya membantu nasabah-nasabah,” tutur Lina.

Ketika itu, kantor pusat di Jakarta, mengirim data informasi seluruh nasabah. Manulife ingin memberi kemudahan dalam proses klaim, termasuk dokumen-dokumen yang diminta. Pencairan juga dipercepat.

Tak hanya itu, seluruh nasabah yang terdampak bencana juga mendapat keringanan berupa pembebasan pembayaran premi selama satu tahun. Seluruh premi selama satu tahun itu ditanggung Manulife Indonesia.

Adi G Yusuf, nasabah Manulife asal Palu mengisahkan, kedua orangtuanya, beserta empat pegawai, dan satu pengunjung tewas saat bangunan restoran “Dunia Baru” milik keluarga Adi runtuh.

Ia selamat karena ketika itu berada di lantai dua. Tak lama setelah kejadian, pihak Manulife datang dan mengurus proses pencairan asuransi.

“Kami diberitahu bahwa semua dipermudah pengurusan pencairan dan semacamnya, termasuk dokumen-dokumennya. Jujur, kami tenang. Apalagi habis gempa, kami butuh dana tambahan, soalnya apa-apa serba mahal, dan tidak bisa membuka rekening dan segala macam.

"Ternyata penanganan Manulife cepat, sekitar dua minggu, sudah cair,” kisah Adi yang mengaku memperoleh dana sekitar Rp 550 juta dari Manulife untuk dua polis yang dimiliki mendiang ibunya.

 

2 dari 2 halaman

Agen

Hal senada dikatakan Sufiaty Sonrang, pensiunan pegawai Pemprov Sulteng yang suaminya, Suparman Hasan, tewas tertimpa pagar beton saat gempa terjadi.

Ia menjelaskan, semua proses dibantu pihak Manulife. Semuanya tidak ada yang dipersulit. Hanya lima hari kerja, ternyata sudah cair. “Jumlahnya membuat kami kaget, karena mencapai Rp 600 juta. Jelas itu sangat membantu, apalagi saya hanya pensiunan,” kenang Sufiaty.

Tidak hanya itu, ia juga mendapat fasilitas dibebaskan dalam membayar premi selama satu tahun. Pihak Manulife yang membayar preminya itu.

Sejumlah agen Manulife di Palu mengakui, kepedulian Manulife itu mendapat sambutan positif bagi masyarakat Palu.

Hal itu ternyata sangat berkesan di hati mereka. Makanya, saat ini, agen tidak kesulitan ketika berkisah tentang pentingnya proteksi bagi keluarga.

Magi Maya, salah satu agen Manulife mengakui, kunjungan masyarakat ke kantor Manulife bertambah sekitar 20 persen dari sebelum terjadi tragedi gempa bumi.

“Walaupun memang banyak dari mereka belum bersedia membeli polis karena memang perekonomian masih belum mendukung. Tetapi setidaknya, dengan mereka datang saja itu sudah cukup bagus bagi kami,” ujar dia.

Tak hanya itu, kepedulian Manulife terhadap para agen juga membuat jumlah agen bertambah yang sebelumnya hanya 79 orang, kini menjadi sekitar 90 orang.

Loading
Artikel Selanjutnya
OJK Bakal Wajibkan Perusahaan Asuransi Lapor Kinerja Tiap Bulan
Artikel Selanjutnya
Asuransi Jasindo Siap Jawab Program Reformasi OJK di 2020