Liputan6.com, Gunung Sitoli: Pelabuhan Gunung Sitoli, Kabupaten Nias, Sumatra Utara, dipenuhi warga korban gempa bumi. Penduduk yang kebanyakan berasal dari Kota Gunung Sitoli ini sudah berada di pelabuhan sejak kemarin. Saat ini, kondisi mereka sangat memprihatinkan. Sebab, mereka bertahan dalam kondisi dan lokasi yang jauh dari kriteria higienis. Demikian pantauan SCTV di Gunung Sitoli, Selasa (5/4).
Kebanyakan warga menunggu kapal yang akan membawa mereka pergi jauh dari pulau yang dihantam gempa berkekuatan 8,7 skala Richter, pekan silam. Para korban gempa khawatir pulau mereka akan diguncang gempa susulan. Bahkan, mereka juga cemas dengan isu bahwa pulau yang terkenal dengan kedahsyatan gelombang laut ini akan tenggelam [baca: Gempa Susulan Membuat Warga Panik].
Warga juga mengeluhkan distribusi bantuan dan proses evakuasi yang lelet. Hingga hari kedelapan pascagema, masih banyak daerah yang belum menerima bantuan. Tidak sedikit warga yang masih terkubur dalam reruntuhan bangunan.
Tim evakuasi dari Marinir TNI Angkatan Laut, misalnya belum berhasil mengeluarkan Melani dan keluarganya yang tertimpa reruntuhan. Melani sempat memberi kabar melalui SMS (layanan pesan singkat), Kamis pekan silam. Tim Marinir dengan personel yang lebih banyak dari kemarin masih berusaha mengeluarkan perempuan ini.
Saat ini, bau busuk menyengat tercium dari rumah Melani. Lalat juga beterbangan di antara celah-celah reruntuhan. Diperkirakan, regu penolong sudah berada dekat dengan sumber bau yang berasal dari cairan manusia. Setelah mengeluarkan spring bed, diharapkan para penghuni rumah bisa dikeluarkan. Regu penolong berharap bisa mengeluarkan Melani dalam kondisi hidup [baca: Melani Belum Juga Ditemukan].
Kondisi Kota Gunung Sitoli pada hari kedelapan pascagempa berangsur pulih. Ini ditandai dengan aktivitas di sejumlah pasar tradisional. Para pembeli dan penjual sudah mulai tampak di sejumlah pasar. Namun, para pembeli mengeluhkan harga bahan makanan pokok yang mencekik kantong. Beras misalnya sudah naik Rp 12 ribu per kilogram. Bahkan, ada wilayah yang menjual beras hingga Rp 30 ribu per kilogram. Harga cabai juga melonjak Rp 3.000 sampai Rp 4.000 per ons. Harga minyak tanah mencapai Rp 1.500 sampai Rp 2.000 per liter.
Para pedagang juga tidak nyaman karena mendapatkan barang dengan harga yang mahal pula. Sebagian bahan kebutuhan pokok tidak ada karena menunggu pasokan barang dari Sibolga, Tapanuli Tengah, Sumut. Sejauh ini, kapal-kapal dari Sibolga memprioritaskan mengangkut bahan-bahan bantuan.
Kondisi di Kecamatan Lolofitu Moi, 32 kilometer dari Gunung Sitoli juga menyedihkan. Meski gubuk-gubuk penduduk tidak rusak, warga setempat merasakan kesengsaraan akibat gempa. Tidak ada makanan dan uang.
Para penduduk yang rata-rata bekerja sebagai petani karet, kopra, dan cokelat ini tidak punya uang. Mereka kesulitan menjual barang-barang dalam kondisi jalan yang rusak berat. Selain itu, para pembeli kebanyakan telah meninggal tertimpa reruntuhan bangunan.
Sejauh ini, warga bertahan dengan makan apa saja. Untuk membeli beras juga harus pikir-pikir dulu. Sebab, harga beras per dua liter yang biasa Rp 5.000 menjadi Rp 16 ribu. Warga lapar dan membutuhkan perhatian pemerintah.(TNA/Tim Liputan 6 SCTV)
Kebanyakan warga menunggu kapal yang akan membawa mereka pergi jauh dari pulau yang dihantam gempa berkekuatan 8,7 skala Richter, pekan silam. Para korban gempa khawatir pulau mereka akan diguncang gempa susulan. Bahkan, mereka juga cemas dengan isu bahwa pulau yang terkenal dengan kedahsyatan gelombang laut ini akan tenggelam [baca: Gempa Susulan Membuat Warga Panik].
Warga juga mengeluhkan distribusi bantuan dan proses evakuasi yang lelet. Hingga hari kedelapan pascagema, masih banyak daerah yang belum menerima bantuan. Tidak sedikit warga yang masih terkubur dalam reruntuhan bangunan.
Tim evakuasi dari Marinir TNI Angkatan Laut, misalnya belum berhasil mengeluarkan Melani dan keluarganya yang tertimpa reruntuhan. Melani sempat memberi kabar melalui SMS (layanan pesan singkat), Kamis pekan silam. Tim Marinir dengan personel yang lebih banyak dari kemarin masih berusaha mengeluarkan perempuan ini.
Saat ini, bau busuk menyengat tercium dari rumah Melani. Lalat juga beterbangan di antara celah-celah reruntuhan. Diperkirakan, regu penolong sudah berada dekat dengan sumber bau yang berasal dari cairan manusia. Setelah mengeluarkan spring bed, diharapkan para penghuni rumah bisa dikeluarkan. Regu penolong berharap bisa mengeluarkan Melani dalam kondisi hidup [baca: Melani Belum Juga Ditemukan].
Kondisi Kota Gunung Sitoli pada hari kedelapan pascagempa berangsur pulih. Ini ditandai dengan aktivitas di sejumlah pasar tradisional. Para pembeli dan penjual sudah mulai tampak di sejumlah pasar. Namun, para pembeli mengeluhkan harga bahan makanan pokok yang mencekik kantong. Beras misalnya sudah naik Rp 12 ribu per kilogram. Bahkan, ada wilayah yang menjual beras hingga Rp 30 ribu per kilogram. Harga cabai juga melonjak Rp 3.000 sampai Rp 4.000 per ons. Harga minyak tanah mencapai Rp 1.500 sampai Rp 2.000 per liter.
Para pedagang juga tidak nyaman karena mendapatkan barang dengan harga yang mahal pula. Sebagian bahan kebutuhan pokok tidak ada karena menunggu pasokan barang dari Sibolga, Tapanuli Tengah, Sumut. Sejauh ini, kapal-kapal dari Sibolga memprioritaskan mengangkut bahan-bahan bantuan.
Kondisi di Kecamatan Lolofitu Moi, 32 kilometer dari Gunung Sitoli juga menyedihkan. Meski gubuk-gubuk penduduk tidak rusak, warga setempat merasakan kesengsaraan akibat gempa. Tidak ada makanan dan uang.
Para penduduk yang rata-rata bekerja sebagai petani karet, kopra, dan cokelat ini tidak punya uang. Mereka kesulitan menjual barang-barang dalam kondisi jalan yang rusak berat. Selain itu, para pembeli kebanyakan telah meninggal tertimpa reruntuhan bangunan.
Sejauh ini, warga bertahan dengan makan apa saja. Untuk membeli beras juga harus pikir-pikir dulu. Sebab, harga beras per dua liter yang biasa Rp 5.000 menjadi Rp 16 ribu. Warga lapar dan membutuhkan perhatian pemerintah.(TNA/Tim Liputan 6 SCTV)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6591576/original/029814400_1779430905-cek_fakta_-_sertifikat_tanah_gratis.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328649/original/001837900_1787203589-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-20T122532.000.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9318670/original/097009500_1786124467-efb30e6b-7dc4-4c13-a54b-d81aacb7f640.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5173559/original/021886800_1742872977-cek_fakta_jemput.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/435493/original/050405bWargaSitoli2.jpg)