Liputan6.com, Banda Aceh: Kepala Kepolisian Resor Kota Banda Aceh Ajun Komisaris Besar Polisi Eko Danianto membantah daerahnya rawan penjarahan. Eko mengaku telah mengerahkan 840 polisi untuk menjaga toko-toko yang rusak akibat gempa bumi dan Tsunami pada 26 Desember silam. Sejak tiga hari pasca-Tsunami, personel Polres Banda Aceh bahkan telah membekuk 61 penjarah. "Tapi tanpa didukung masyarakat, kami tidak akan berhasil," kata Eko di Banda Aceh, NAD, Ahad (30/1).
Kendati Eko mengaku demikian, kondisi Banda Aceh memang rawan penjarahan. Sebagian besar toko di pusat kota yang rusak berat, hingga kemarin, masih terbengkalai. Sebagian toko yang masih berdiri, pintunya terlihat rusak karena dibuka paksa. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya kantor-kantor kepolisian sektor yang rusak dan banyak daerah yang harus diawasi polisi [baca: Penjarahan Banyak Terjadi di Banda Aceh].
Roda perekonomian di Pasar Simpang Teuet, Meulaboh, Aceh Barat, juga belum sepenuhnya pulih. Warga di Nagan Raya, Meulaboh, kesulitan membeli daging ayam untuk kebutuhan kenduri menjelang 40 hari pasca-Tsunami. Andaikan ada, harganya lebih mahal hingga tujuh kali dibanding harga normal. Jika hari-hari biasa sebelum Tsunami harga seekor ayam adalah Rp 10 ribu per ekor, kini seekor ayam dihargai mencapai Rp 70 ribu per ekor. Harga cabe merah juga sempat mencapai Rp 15 ribu per kilogram, meski kemarin sudah Rp 7.000 per kg.
Kondisi tak jauh berbeda terjadi di pusat pertokoan Jalan Nasional, pusat Kota Meulaboh. Meski Tsunami sudah lima pekan berlalu, aktivitas di pusat kota ini belum berjalan normal. Pemilik toko masih sibuk membersihkan dan membenahi barang dagangan yang porak-poranda diterjang Tsunami. Beberapa pemilik juga masih trauma dengan musibah yang merenggut nyawa anggota keluarganya sehingga belum beraktivitas. Selain itu, mereka yakin kondisi belum normal mengingat banyak warga kota dan sekitarnya yang menjadi korban.
Kondisi di depan toko juga masih ada sisa-sisa puing yang belum terangkut sehingga menutupi toko. Karena itulah para pedagang berharap ada pembersihan serentak di depan toko agar aktivitas pertokoan mulai menggeliat.
Sementara itu stasiun pengisian bahan bakar umum mulai melayani pelanggan secara normal. Selain pasokan sudah lancar, aliran listrik sudah mengalir sehingga pelayanan tidak lagi dilakukan secara manual. Namun, beberapa SPBU masih dijaga polisi karena khawatir terjadi rebutan pembelian bahan bakar minyak [baca: Meulaboh Krisis BBM].
Hingga Ahad kemarin, bantuan untuk korban Tsunami masih mengalir. Muslim Charity dan Islamic Help, kemarin, menyerahkan bantuan sebesar Rp 183 juta melalui Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Jakarta. Bantuan ini akan dipergunakan PBNU untuk membeli ambulans dan alat pelayanan kesehatan lain yang segera dikirim ke Aceh. Kedua lembaga swadaya masyarakat asal Inggris itu juga berjanji mencari dana untuk membantu sekitar 1.500 anak korban Tsunami yang ditampung di 23 pesantren milik PBNU di NAD.
Saat ini, PBNU hanya memiliki satu unit mobil operasional pelayanan kesehatan bagi korban gempa dan Tsunami. Padahal, terdapat lima pos koordinasi kesehatan NU yang berpusat di Banda Aceh. Kelima posko ini dilengkapi dengan 10 dokter dan enam perawat.(YAN/Tim Liputan 6 SCTV)
Kendati Eko mengaku demikian, kondisi Banda Aceh memang rawan penjarahan. Sebagian besar toko di pusat kota yang rusak berat, hingga kemarin, masih terbengkalai. Sebagian toko yang masih berdiri, pintunya terlihat rusak karena dibuka paksa. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya kantor-kantor kepolisian sektor yang rusak dan banyak daerah yang harus diawasi polisi [baca: Penjarahan Banyak Terjadi di Banda Aceh].
Roda perekonomian di Pasar Simpang Teuet, Meulaboh, Aceh Barat, juga belum sepenuhnya pulih. Warga di Nagan Raya, Meulaboh, kesulitan membeli daging ayam untuk kebutuhan kenduri menjelang 40 hari pasca-Tsunami. Andaikan ada, harganya lebih mahal hingga tujuh kali dibanding harga normal. Jika hari-hari biasa sebelum Tsunami harga seekor ayam adalah Rp 10 ribu per ekor, kini seekor ayam dihargai mencapai Rp 70 ribu per ekor. Harga cabe merah juga sempat mencapai Rp 15 ribu per kilogram, meski kemarin sudah Rp 7.000 per kg.
Kondisi tak jauh berbeda terjadi di pusat pertokoan Jalan Nasional, pusat Kota Meulaboh. Meski Tsunami sudah lima pekan berlalu, aktivitas di pusat kota ini belum berjalan normal. Pemilik toko masih sibuk membersihkan dan membenahi barang dagangan yang porak-poranda diterjang Tsunami. Beberapa pemilik juga masih trauma dengan musibah yang merenggut nyawa anggota keluarganya sehingga belum beraktivitas. Selain itu, mereka yakin kondisi belum normal mengingat banyak warga kota dan sekitarnya yang menjadi korban.
Kondisi di depan toko juga masih ada sisa-sisa puing yang belum terangkut sehingga menutupi toko. Karena itulah para pedagang berharap ada pembersihan serentak di depan toko agar aktivitas pertokoan mulai menggeliat.
Sementara itu stasiun pengisian bahan bakar umum mulai melayani pelanggan secara normal. Selain pasokan sudah lancar, aliran listrik sudah mengalir sehingga pelayanan tidak lagi dilakukan secara manual. Namun, beberapa SPBU masih dijaga polisi karena khawatir terjadi rebutan pembelian bahan bakar minyak [baca: Meulaboh Krisis BBM].
Hingga Ahad kemarin, bantuan untuk korban Tsunami masih mengalir. Muslim Charity dan Islamic Help, kemarin, menyerahkan bantuan sebesar Rp 183 juta melalui Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Jakarta. Bantuan ini akan dipergunakan PBNU untuk membeli ambulans dan alat pelayanan kesehatan lain yang segera dikirim ke Aceh. Kedua lembaga swadaya masyarakat asal Inggris itu juga berjanji mencari dana untuk membantu sekitar 1.500 anak korban Tsunami yang ditampung di 23 pesantren milik PBNU di NAD.
Saat ini, PBNU hanya memiliki satu unit mobil operasional pelayanan kesehatan bagi korban gempa dan Tsunami. Padahal, terdapat lima pos koordinasi kesehatan NU yang berpusat di Banda Aceh. Kelima posko ini dilengkapi dengan 10 dokter dan enam perawat.(YAN/Tim Liputan 6 SCTV)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296017/original/033910000_1784000101-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-14T103335.623.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316388/original/075760100_1785924799-cek_fakta_-_cpns_kementerian_imigrasi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5569782/original/065699500_1777454729-Tugas__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3167349/original/049156100_1593592165-20200701-Iuran-BPJS-Kesehatan-Resmi-Naik--ANGGA-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/431413/original/310105aAceh2.jpg)