Mendagri Ungkap Alasan Prabowo Dorong Program Gentengisasi

Gentengisasi berawal dari keprihatinan Presiden Prabowo karena masih banyak rumah warga menggunakan atap seng atau asbes.

Diterbitkan 03 Oktober 2026, 07:23 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mengatakan program Gentengisasi merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong penggunaan genteng pada rumah warga. Program tersebut sekaligus diharapkan dapat menghidupkan sentra produksi genteng dan memberdayakan UMKM lokal.

Tito menyampaikan hal itu saat menghadiri pelepasan 125 truk yang mengangkut 500 ribu genteng bersama Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait di Plered, Jawa Barat, Jumat (2/10/2026).

Menurut Tito, program Gentengisasi berawal dari keprihatinan Presiden Prabowo karena masih banyak rumah warga menggunakan atap seng atau asbes.

"Jadi program gentengisasi ini ialah perintah Bapak Prabowo memang. Saya mendampingi beliau waktu itu. Karena prihatin melihat rumah-rumah yang banyak menggunakan atap seng, yang dari sisi keindahan kurang begitu indah kalau seng, dan panas," ujar Tito di Plered, Jumat (2/10/2026).

Tito menjelaskan, genteng tanah liat dipilih karena dinilai lebih sesuai untuk hunian. Menurutnya, material tersebut membuat rumah lebih sejuk dan tidak menimbulkan suara bising ketika hujan seperti atap seng.

"Dia (genteng tanah liat) lebih dingin, karena di tengah-tengahnya itu ada aliran air, aliran udara, aliran udara. Jadi kalau seng, dia enggak ada aliran udara, panas. Yang kedua, kalau seng itu kalau hujan, dia bising suaranya, kalau genteng tanah lihat enggak, dia krik-krik-krik-krik-krik gemericik air," papar Tito.

Selain faktor kenyamanan, Tito menyebut genteng memiliki nilai estetika dan menjadi bagian dari karakter bangunan di Indonesia.

"Di negara-negara lain tuh pakai beton, macam-macam. Nah, di kita ini, genteng ini memang asli dari zaman dulu. Khasnya Indonesia itu adalah genteng tanah liat, betul enggak?" kata Tito.

 

Cari Genteng Ringan untuk Daerah Rawan Gempa

Tito menyebut berdasarkan data yang dimilikinya, sekitar 57 persen rumah di Indonesia menggunakan genteng. Sementara hampir 37 persen menggunakan seng dan sebagian lainnya menggunakan asbes.

"Nah, asbes itu kurang bagus buat kesehatan, mohon maaf kalau untuk produsen asbes, ya, faktanya begitu datanya. Yang berikutnya lagi kurang dari 1 persen yang gunakan bahan alami seperti papan, atap sirap dari bambu. Kurang dari 1 persennya lagi menggunakan atap yang lain dari daun-daunan, dari ijuk, dari pelepah misalnya, dari jerami," ucapnya.

Menurut Tito, genteng yang digunakan masyarakat memiliki beragam material, mulai dari tanah liat, baja, hingga beton. Namun, ia menilai genteng tanah liat memiliki sejumlah keunggulan karena relatif sejuk dan murah.

"Nah, tapi yang bagus adalah memang genteng dari tanah lihat. Dingin, kemudian relatif murah, ya, dan asli Indonesia," ucapnya.

Meski demikian, Tito mengakui tidak semua wilayah cocok menggunakan genteng tanah liat, terutama daerah yang rawan gempa. Karena itu, pemerintah tengah mencari alternatif material genteng yang lebih ringan.

"Saya muter daerah-daerah rawan gempa mereka pilihnya yang ringan. Makanya mereka pilih seng. Tapi sebetulnya enggak indah. Bapak Presiden sedang mengupayakan untuk mencari bahan genteng tapi dari bahan yang ringan, ya, misalnya dari serabut kelapa yang dijadikan genteng. Itu salah satu solusi, sedang dikerjakan," tutur Tito.

Tito mendorong daerah yang relatif aman dari gempa untuk menggunakan genteng tanah liat. Menurutnya, peningkatan penggunaan genteng juga dapat menggerakkan sentra produksi dan UMKM lokal, termasuk di Plered.

"Jadi untuk daerah-daerah yang relatif aman dari gempa, kita dorong untuk menggunakan genteng tanah liat. Kalau seandainya seluruh Indonesia di daerah yang aman menggunakan genteng tanah liat puluhan juta, maka akan bisa menghidupkan sentra produksi genteng termasuk di Plered," tandas Tito.

 

500 Ribu Genteng Dikirim

Sebelumnya, Menteri PKP Maruarar Sirait bersama Tito melepas 125 truk yang membawa 500 ribu genteng untuk program Gentengisasi di Plered, Jawa Barat.

Maruarar atau Ara mengatakan pengiriman tersebut merupakan tahap pertama penyaluran genteng. Tahap berikutnya dijadwalkan berlangsung pada November 2026 dengan pengiriman 2,4 juta genteng menggunakan 600 truk.

"Nanti November 2.400.000 pieces genteng, (dikirim dengan) 600 truk," ujar Ara.

Menurut Ara, program Gentengisasi juga diarahkan untuk memberdayakan UMKM lokal di Plered dan Majalengka. Program tersebut sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi sopir dan kernet yang terlibat dalam distribusi genteng.

"Mudah-mudahan ini gentengisasi yang arahan Pak Prabowo bisa bermanfaat bagi UMKM, bagi supir kerek, bagi genteng, dan bisa berkualitas," kata dia.

Ara juga mengatakan program tersebut mendorong UMKM perajin genteng untuk meningkatkan kualitas produknya hingga memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI).

Menurutnya, proses pembinaan perajin skala kecil membutuhkan pendampingan dan tidak dapat dilakukan secara instan.

"Memang kalau kita mau memberdayakan kita harus sabar, ada prosesnya. Kalau yang mau cepat-cepat siap, beli saja di pabrik-pabrik besar semuanya. Tapi bagaimana keberpihakan kita kepada pemilih, kepada rakyat kecil, ada prosesnya. Memang mesti lebih sabar mendidiknya," kata Ara.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6