Kerja Sambil Kuliah Jadi Pilihan, 90% Mahasiswa UT Tercatat Sudah Bekerja Menjelang Lulus

Sekitar 90% mahasiswa Universitas Terbuka (UT) tercatat sudah bekerja menjelang lulus. Fenomena ini menunjukkan tren kerja sambil kuliah.

Diterbitkan 30 September 2026, 22:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Tangerang Selatan - Hari wisuda mungkin hanya berlangsung beberapa jam, tetapi perjalanan untuk sampai ke titik tersebut berlangsung jauh lebih panjang. Bagi 2.052 wisudawan Universitas Terbuka (UT) Jakarta, toga yang dikenakan menjadi simbol dari proses belajar yang dijalani di tengah beragam kesibukan dan tanggung jawab.

Pengalaman itu pula yang menjadi bekal ketika mereka kembali ke dunia masing-masing. Sebab, di tengah perubahan teknologi dan tuntutan dunia kerja yang semakin cepat, kemampuan untuk terus belajar dan menyesuaikan diri menjadi bagian dari perjalanan setelah gelar akademik diperoleh.

Semangat tersebut mengemuka dalam Wisuda UT Jakarta Periode II Tahun 2026 yang digelar di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Minggu (27/9/2026). Mengusung tema “Membangun Mentalitas Adaptif dalam Menghadapi Tatanan Dunia Baru”, kegiatan ini diikuti 2.052 wisudawan.

Berdasarkan data lulusan yang dilaporkan, terdapat 4.488 lulusan yang terjaring dalam SK 698: 4.397 Tahun 2026 dan SK 1099: 91 Tahun 2026. Mereka berasal dari berbagai jenjang pendidikan dan bidang keilmuan.

Mayoritas Mahasiswa UT Sudah Bekerja Menjelang Lulus

Rektor UT Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si. mengatakan, keberadaan para lulusan menjadi bagian dari kontribusi UT dalam memperluas dampak pendidikan bagi masyarakat. Salah satu gambaran tersebut terlihat dari proporsi mahasiswa yang telah bekerja sebelum maupun menjelang menyelesaikan pendidikan.

“Dampak yang paling nyata adalah kalau secara statistik mahasiswa UT saat bergabung rata-rata jumlahnya adalah 80% sudah bekerja. Pada saat menjelang lulus itu 90%, itu survei internal ya, 90% telah bekerja,” kata Prof. Ali.

Sementara itu, sekitar 10 persen lainnya belum mencantumkan informasi mengenai status pekerjaan. Sebagian di antaranya memilih aktivitas lain, termasuk menjadi ibu rumah tangga.

Bagi mahasiswa yang belum bekerja, UT menyiapkan penguatan kompetensi melalui pembekalan dan sertifikasi. Kebijakan tersebut diarahkan agar lulusan memiliki keterampilan yang lebih terukur ketika memasuki dunia profesional.

“Salah satu pembekalan yang kita berikan, jadi semenjak tahun ini kita berikan kewajiban, mungkin wisuda sekarang belum, tapi setelah ini adalah mahasiswa yang akan lulus itu setidaknya memiliki empat kompetensi, ya memiliki empat sertifikasi,” tuturnya.

Upaya tersebut berjalan beriringan dengan pengembangan ekosistem pembelajaran UT. Di UT Jakarta yang kini memiliki hampir 100.000 mahasiswa, layanan “Jakarta 2” dikembangkan dengan pendekatan full digital untuk menjawab kebutuhan generasi muda sekaligus memperluas kenyamanan akses layanan pendidikan.

Pengembangan itu merupakan bagian dari transformasi UT dari Open and Distance Learning (ODL) menuju Open Distance Digital Flexible Learning (ODDFL). Sistem pembelajaran diperkuat melalui kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) yang terhubung dengan kebutuhan industri, Learning Management System sejak registrasi hingga ujian, bahan ajar modular yang terintegrasi micro-credential, serta ujian online berbasis mobile.

“Moga-moga bagi gen-z ini merasa nyaman dan cocok untuk pendidikan jarak jauh yang full digital. Semoga dengan cara ini kita terus berlari-lari sehingga masa depan itu kita yang menghadirkan, bukan menunggu masa depan itu hadir,” ujar Prof. Ali.

Ribuan Lulusan Berasal dari Beragam Program Studi

Dari 2.052 wisudawan yang hadir, sebanyak 38 merupakan lulusan Pascasarjana, terdiri atas dua doktor dan 36 magister. Sementara itu, FEB menyumbang 1.841 lulusan, FHISIP 1.412 lulusan, FST 280 lulusan, FKIP 558 lulusan, dan Sekolah Vokasi 359 lulusan yang terdiri atas 48 lulusan D4 serta 311 lulusan D3.

Di antara ribuan lulusan tersebut, sejumlah nama mencatat prestasi akademik. Juliani dari Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemahan meraih IPK 3,87, Nurul Safitri dari Akuntansi memperoleh IPK 3,78, Melvin Marthin Pattinaya dari Sistem Informasi meraih IPK 3,71, sedangkan Diah Mustika Ratih dari Pendidikan Guru Sekolah Dasar Masukan Guru Dalam Jabatan (In Service) mencatat IPK 3,84.

Direktur UT Jakarta Drs. Moh. Muzammil, M.M. mengatakan, pengalaman selama menempuh pendidikan di UT menjadi bagian penting dalam membentuk kemampuan mahasiswa untuk menghadapi dinamika profesional. Fleksibilitas perkuliahan sekaligus menuntut mahasiswa mampu mengelola proses belajarnya secara bertanggung jawab, sebuah pengalaman yang dapat mereka bawa ke lingkungan kerja dan kehidupan sehari-hari.

Kini, ribuan lulusan tersebut kembali ke lingkungan masing-masing dengan latar, profesi, dan tujuan yang beragam. Di sanalah perjalanan pendidikan mereka berlanjut dalam bentuk yang berbeda: melalui pekerjaan, karya, maupun pengabdian. Pendidikan yang ditempuh tidak berhenti pada pencapaian gelar, tetapi diharapkan memberi nilai tambah bagi kehidupan dan masyarakat.

Semangat tersebut sejalan dengan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas yang menempatkan akses pendidikan serta pembelajaran sepanjang hayat sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan.

 

(*)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6