Sebanyak 250 caleg perempuan dari 12 partai politik di DIY berkumpul. Para calon wakil rakyat ini sepakat menolak money politics alias politik uang dalam Pileg 9 April 2014 mendatang.
"Kami dari 12 partai politik bersama-sama dengan satu komitmen tidak akan menggunakan money politics dalam pemilu 2014," kata perwakilan Forum Komunikasi Perempuan Politik DIY, Dwi Rusjiyati Agnes di gedung DPRD DIY, Rabu (08/01/2014).
Komitmen ini dideklarasikan dalam ikrar pemilu yang bersih, efisien dan aspiratif di gedung DPRD DIY. Deklarasi ini sebagai bentuk gerakan 250 perempuan calon legislatif se-DIY agar tidak menggunakan politik transaksional.
Para caleg perempuan ini berasal dari DPRD Kota/Kabupaten, DPRD Provinsi dan DPR. Para caleg perempuan ini melihat banyak tantangan dan peran dari caleg perempuan yang bisa memberikan kontribusi bagi daerah.
"Kesehatan, pendidikan, kekerasan pada perempuan, dan penindasan kepada minoritas masih terjadi. Itu menjadi alasan perempuan lintas partai untuk turut mengambil bagian," jelas Agnes.
Keterwakilan perempuan di DPR sebanyak 30% masih menjadi catatan penting baginya. Agnes akan berusaha kuota 30% keterwakilan perempuaan tidak hanya pada daftar caleg tetap, tapi juga sampai di parlemen.
Jumlah keterwakilan perempuan di DIY hanya 26,42%. Kabupaten Kulon Progo sebesar 12,5%, Bantul 13,64%, Gunungkidul 11.11%, Sleman 18%, dan Jogja 15%. Caleg termuda, Tina Chadarsi(23) mengaku baru terjun ke dunia politik, namun ia mengaku tidak ada transaksi dengan partai jika nantinya menjadi anggota Dewan. (Ism/Mut)
"Kami dari 12 partai politik bersama-sama dengan satu komitmen tidak akan menggunakan money politics dalam pemilu 2014," kata perwakilan Forum Komunikasi Perempuan Politik DIY, Dwi Rusjiyati Agnes di gedung DPRD DIY, Rabu (08/01/2014).
Komitmen ini dideklarasikan dalam ikrar pemilu yang bersih, efisien dan aspiratif di gedung DPRD DIY. Deklarasi ini sebagai bentuk gerakan 250 perempuan calon legislatif se-DIY agar tidak menggunakan politik transaksional.
Para caleg perempuan ini berasal dari DPRD Kota/Kabupaten, DPRD Provinsi dan DPR. Para caleg perempuan ini melihat banyak tantangan dan peran dari caleg perempuan yang bisa memberikan kontribusi bagi daerah.
"Kesehatan, pendidikan, kekerasan pada perempuan, dan penindasan kepada minoritas masih terjadi. Itu menjadi alasan perempuan lintas partai untuk turut mengambil bagian," jelas Agnes.
Keterwakilan perempuan di DPR sebanyak 30% masih menjadi catatan penting baginya. Agnes akan berusaha kuota 30% keterwakilan perempuaan tidak hanya pada daftar caleg tetap, tapi juga sampai di parlemen.
Jumlah keterwakilan perempuan di DIY hanya 26,42%. Kabupaten Kulon Progo sebesar 12,5%, Bantul 13,64%, Gunungkidul 11.11%, Sleman 18%, dan Jogja 15%. Caleg termuda, Tina Chadarsi(23) mengaku baru terjun ke dunia politik, namun ia mengaku tidak ada transaksi dengan partai jika nantinya menjadi anggota Dewan. (Ism/Mut)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317507/original/011159500_1786016808-cek_fakta_gibran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310889/original/017316800_1785380146-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-30T095434.257.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312077/original/024885800_1785478974-indomaret.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316854/original/006178900_1785992062-Screenshot_2026-08-06_113022.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/537998/original/caleg-wanita-tolak-uang-140108b.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5441019/original/048939900_1765450508-WhatsApp_Image_2025-12-11_at_17.24.41.jpeg)