Sukses

Penyair Hamid Jabbar Tutup Usia

Dunia sastra di Indonesia tengah berduka. Penyair Hamid Jabbar tutup usia saat memeriahkan acara Dies Natalis Universitas Islam Negeri Jakarta, Sabtu (29/5). Pria kelahiran Koto Gadang, Buktitinggi, Sumatra Barat, 55 tahun lalu ini mengembuskan napas terakhir saat tengah membacakan karyanya yang berjudul Merajuk Budaya Menyatukan Indonesia. Rencananya, almarhum akan dikebumikan di Pemakaman Pondok Ranggon, Jakarta Timur.

Awalnya, para penonton menduga sang penyair sedang berakting saat terjatuh ketika membacakan syairnya. Tapi, ditunggu sejenak ternyata almarhum tak juga bangkit. Penonton baru sadar jika telah terjadi sesuatu. Setelah diperiksa, ternyata penyair yang kerap membacakan puisinya dengan nada canda ini diketahui telah meninggal dunia. Almarhum meninggalkan seorang istri dan dua anak.

Sejumlah sanak saudara dan warga datang melayat ke rumah duka di kawasan Cibubur, Jakarta Timur. Menurut seorang anaknya, satu jam sebelum meninggal almarhum sempat membuat puisi dengan kalimat, satu jam menjelang kau pulang, aku tak tahu musti mulai dari mana, aku syok. Berdasarkan keterangan pihak keluarga, Hamid sudah cukup lama menderita diabetes.

Hamid lahir di Kota Gadang, Bukittinggi, Sumatra Barat, 27 Juli 1949. Di kalangan penyair, Hamid Jabbar terkenal sebagai penyair parodi dan puisi sufi. Karya-karyanya yang terkenal di antaranya Setitik Nur, Zikrullah, dan Ketika Khusyuk Tiba Pada Tafakur Kesejuta. Sedangkan buku kumpulan puisi karya Hamid di antaranya Wajah Kita, terbit 1981, Poco-Poco, 1974, dan Dua Warna, 1975.

Hamid juga berkecimpung dalam dunia jurnalistik sebagai wartawan Indonesia Express, Redaktur Balai Pustaka dan Redaktur Senior Horison, majalah sastra yang didirikan wartawan sekaligus budayawan Mochtar Lubis.(ORS/Tim Liputan 6 SCTV)