Sukses

Buku <i>Politik Huru-Hara Mei 1998</i> Diluncurkan

Liputan6.com, Jakarta: Sebuah buku yang mengupas kerusuhan Mei 1998 kembali diterbitkan. Jika tahun silam, Jenderal Purnawirawan TNI Wiranto membeberkan peristiwa berdarah Mei `98 dalam buku Bersaksi di Tengah Badai, kini pengamat politik Fadli Zon menuangkannya kembali dengan meluncurkan buku Politik Huru-Hara Mei 1998. Dalam buku yang dikeluarkan Fadli di Jakarta, Jumat (24/4), banyak menguliti fakta yang diterangkan Wiranto. Misalnya, soal kepergian Wiranto yang ketika itu menjabat Panglima ABRI ke Malang, Jawa Timur, bersama sejumlah jenderal. Menurut Fadli, Wiranto adalah orang yang harus bertanggung jawab atas Tragedi Mei bukan mantan Panglima Komando Cadangan Strategis Mayor Jenderal TNI Prabowo Subianto.

"Dalam peristiwa Mei jelas dia [Prabowo] tidak terlibat, karena di dalam buku ini [Politik Huru-Hara Mei 1998] banyak menjawab isu buku Wiranto yang berjudul Bersaksi di Tengah Badai. Banyak informasi yang tidak akurat, seperti kepergian ke Malang yang hanya tiga jam. Padahal, lebih dari itu," kata Fadli. Pengamat yang memang terkenal dengan Prabowo ini juga menyebutkan bahwa Wiranto mengaku tidak menerima telepon untuk membatalkan keberangkatan ke Malang. "Jadi bisa dibayangkan di tengah kerusuhan semua jenderal dibawa ke Malang sama Panglima ABRI [Wiranto]," lanjut dia.

Kerusuhan Mei 1998 memang merupakan catatan kelabu dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Peristiwa tersebut berbuntut lengsernya Suharto dari tahta yang sudah dikuasai selama 32 tahun. Beberapa buku yang telah menguraikan Tragedi Mei, termasuk kepunyaan Wiranto, dinilai belum menjawab pertanyaan soal hal ihwal peristiwa ini terjadi [baca: Yudhoyono: Partai Demokrat Berkoalisi untuk Memperluas Dukungan]. Meski Wiranto dalam buku setebal 350 halaman juga menyinggung tentang penculikan para aktivis, Kasus Trisakti, isu rivalitasnya dengan Prabowo sampai perjalanannya ke Malang yang bertepatan dengan peristiwa kerusuhan yang membumi hanguskan Kota Jakarta.

Begitu juga dengan buku Huru-Hara Politik Mei 1998 karya Fadli. Kedua buku sama-sama menutupi tabir gelap yang sengaja ditutup-tutupi oleh pihak tertentu. Bahkan pengusutan kasus kerusuhan besar di Ibu Kota juga tak jelas arahnya.(KEN/Nina Bahri dan Satya Pandia)