Liputan6.com, Lampung: Pencarian jejak-jejak keberadaan gajah liar di kawasan Provinsi Lampung masih berlangsung. Setelah mengunjungi kawasan Konservasi Gajah Way Kambas, perjalanan menuju konservasi gajah Way Canguk diteruskan. Saat hari menjelang malam, rombongan yang terdiri dari Tim Potret SCTV dan polisi hutan tiba di kawasan Sumberejo. Sebuah kawasan yang harus dilalui saat menuju kawasan Way Canguk. Kawasan yang juga kerap dilalui gajah-gajah liar untuk mencari makan sambil menghindari kejaran para pemburu liar. Bak permainan anak-anak, binatang bertubuh besar ini kerap berpetak umpet dengan orang-orang yang tak pernah memikirkan kehidupan bebas habitat makhluk hidup tersebut.
Way Canguk terletak sekitar enam kilometer dari Posko Sumberejo di Lampung Barat. Tak mudah untuk masuk ke sana. Pasalnya, hutan belantara dan beberapa sungai serta ngarai siap menghadang. Tak heran, medan berat ini menyebabkan jarak yang hanya enam kilometer itu harus ditempuh dalam waktu lebih dari sehari. Way Canguk adalah lokasi habitat gajah liar terbesar di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Topografinya yang agak landai membuat banyak gajah menyinggahi tempat ini. Tak heran, jika lokasi ini menjadi tempat favorit bagi pemburu gading gajah [baca: Melacak Jejak Gajah di Lampung].
Pemburuan gajah memang tak mengenal waktu. Saat baru tiba di Sumberejo, suara tembakan senapan api yang diletuskan para pemburu gajah terdengar. Situasi ini membuat komandan polisi hutan segera memberlakukan kondisi siaga. Mereka dikerahkan untuk memblokir jalan dan mencari sumber suara tembakan. Mereka terus menelusuri tempat-tempat yang dicurigai, terutama lokasi ditemukannya beberapa jejak gajah liar.
Hujan yang turun malam itu membuat suasana kian mencekam. Suara gerakan gajah sayup-sayup terdengar di sela bunyi air hujan. Tapi, tak ada yang berani turun untuk memastikan keadaan mereka. Situasinya terlalu sensitif dan berbahaya. Alhasil, selama beberapa jam tim akhirnya cuma menunggu. Karena tak membuahkan hasil, para polisi hutan ini kembali ke base camp semula di Sumberejo. Mereka harus beristirahat agar besok bisa berangkat Way Canguk dengan kondisi tubuh yang lebih segar.
Hari pun berganti. Tapi, rasa penat akibat tak tidur semalaman masih melekat di badan. Dengan tubuh yang masih menahan kantuk, langkah menuju Way Canguk sesuai rencana kembali dilanjutkan. Tapi, kepenatan ini segera terusir dengan suasana di perjalanan yang menyenangkan. Apalagi, tim polisi hutan kali ini dipimpin langsung Tamen Sitorus, Kepala Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang berpenampilan jenaka dan suka bercanda. Tak heran, gayanya yang polos dan kocak ini membuat Tamen Sitorus dijuluki Naga Bonar oleh anak buahnya.
Ketika hari merambat petang, tim tiba di Way Pemerihan. Tenda untuk menginap pun didirikan di tepi sungai. Untuk kesekian kalinya tim bermalam di tengah kegelapan rimba sambil diiringi bunyi jangkrik dan belalang hutan. Pagi harinya, perjalanan menuju Way Canguk diteruskan. Setelah dua jam perjalanan, onggokan bangkai gajah ditemukan. Tak jauh dari lokasi pertama, beberapa bukti pembantaian gajah lainnya juga ditemukan. Dua bangkai gajah ini sudah cukup membuktikan betapa ganasnya para pemburu dan juga para kolektor gading gajah. Pengalaman menyaksikan bangkai-bangkai gajah yang menjadi korban pembantaian para pemburu gading membuat perjalanan untuk melihat kawanan gajah liar di Way Canguk tak diteruskan.
Selama ini, bukan berarti tak ada pemburu gajah yang berhasil ditangkap. Tengok saja di Lembaga Pemasyarakatan Krui di Tanggamus. Di LP ini, sebagian di antara penghuni adalah orang-orang yang dihukum karena telah melanggar undang-undang konservasi sumberdaya alam. Di antaranya perambahan hutan, illegal logging, dan perburuan satwa liar, termasuk para pembantai gajah. Di antara para terpidana ini adalah Kamto dan Badri. Kamto adalah salah seorang terpidana yang mendapat hukuman terberat yakni empat tahun delapan bulan. Yang menarik, Kamto ternyata juga pernah membunuh badak dan harimau Sumatra yang populasinya jauh lebih sedkit dari gajah liar.
Klasik memang jika alasan ekonomi yang selalu menjadi kambing hitam. Tapi, alasan sebenarnya adalah adanya peluang bisnis yang diberikan para penadah. Sayangnya, hingga saat ini belum ada seorang pun penadah yang berhasil ditangkap. Tak heran, jika timbul pertanyaan sampai kapankah gajah yang sebenarnya bisa menjadi binatang yang lembut dan bersahabat ini bisa bertahan dari kejaran manusia?(ORS/Tim Potret)
Way Canguk terletak sekitar enam kilometer dari Posko Sumberejo di Lampung Barat. Tak mudah untuk masuk ke sana. Pasalnya, hutan belantara dan beberapa sungai serta ngarai siap menghadang. Tak heran, medan berat ini menyebabkan jarak yang hanya enam kilometer itu harus ditempuh dalam waktu lebih dari sehari. Way Canguk adalah lokasi habitat gajah liar terbesar di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Topografinya yang agak landai membuat banyak gajah menyinggahi tempat ini. Tak heran, jika lokasi ini menjadi tempat favorit bagi pemburu gading gajah [baca: Melacak Jejak Gajah di Lampung].
Pemburuan gajah memang tak mengenal waktu. Saat baru tiba di Sumberejo, suara tembakan senapan api yang diletuskan para pemburu gajah terdengar. Situasi ini membuat komandan polisi hutan segera memberlakukan kondisi siaga. Mereka dikerahkan untuk memblokir jalan dan mencari sumber suara tembakan. Mereka terus menelusuri tempat-tempat yang dicurigai, terutama lokasi ditemukannya beberapa jejak gajah liar.
Hujan yang turun malam itu membuat suasana kian mencekam. Suara gerakan gajah sayup-sayup terdengar di sela bunyi air hujan. Tapi, tak ada yang berani turun untuk memastikan keadaan mereka. Situasinya terlalu sensitif dan berbahaya. Alhasil, selama beberapa jam tim akhirnya cuma menunggu. Karena tak membuahkan hasil, para polisi hutan ini kembali ke base camp semula di Sumberejo. Mereka harus beristirahat agar besok bisa berangkat Way Canguk dengan kondisi tubuh yang lebih segar.
Hari pun berganti. Tapi, rasa penat akibat tak tidur semalaman masih melekat di badan. Dengan tubuh yang masih menahan kantuk, langkah menuju Way Canguk sesuai rencana kembali dilanjutkan. Tapi, kepenatan ini segera terusir dengan suasana di perjalanan yang menyenangkan. Apalagi, tim polisi hutan kali ini dipimpin langsung Tamen Sitorus, Kepala Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang berpenampilan jenaka dan suka bercanda. Tak heran, gayanya yang polos dan kocak ini membuat Tamen Sitorus dijuluki Naga Bonar oleh anak buahnya.
Ketika hari merambat petang, tim tiba di Way Pemerihan. Tenda untuk menginap pun didirikan di tepi sungai. Untuk kesekian kalinya tim bermalam di tengah kegelapan rimba sambil diiringi bunyi jangkrik dan belalang hutan. Pagi harinya, perjalanan menuju Way Canguk diteruskan. Setelah dua jam perjalanan, onggokan bangkai gajah ditemukan. Tak jauh dari lokasi pertama, beberapa bukti pembantaian gajah lainnya juga ditemukan. Dua bangkai gajah ini sudah cukup membuktikan betapa ganasnya para pemburu dan juga para kolektor gading gajah. Pengalaman menyaksikan bangkai-bangkai gajah yang menjadi korban pembantaian para pemburu gading membuat perjalanan untuk melihat kawanan gajah liar di Way Canguk tak diteruskan.
Selama ini, bukan berarti tak ada pemburu gajah yang berhasil ditangkap. Tengok saja di Lembaga Pemasyarakatan Krui di Tanggamus. Di LP ini, sebagian di antara penghuni adalah orang-orang yang dihukum karena telah melanggar undang-undang konservasi sumberdaya alam. Di antaranya perambahan hutan, illegal logging, dan perburuan satwa liar, termasuk para pembantai gajah. Di antara para terpidana ini adalah Kamto dan Badri. Kamto adalah salah seorang terpidana yang mendapat hukuman terberat yakni empat tahun delapan bulan. Yang menarik, Kamto ternyata juga pernah membunuh badak dan harimau Sumatra yang populasinya jauh lebih sedkit dari gajah liar.
Klasik memang jika alasan ekonomi yang selalu menjadi kambing hitam. Tapi, alasan sebenarnya adalah adanya peluang bisnis yang diberikan para penadah. Sayangnya, hingga saat ini belum ada seorang pun penadah yang berhasil ditangkap. Tak heran, jika timbul pertanyaan sampai kapankah gajah yang sebenarnya bisa menjadi binatang yang lembut dan bersahabat ini bisa bertahan dari kejaran manusia?(ORS/Tim Potret)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302730/original/042892700_1784605254-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-21T103804.683.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7669455/original/089727000_1780463646-Ahok_cek_fakta_dana_bantuan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302208/original/030738800_1784536511-Screenshot_2026-07-20_150334.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5507012/original/063330600_1771481312-baznas_ramadan_-_klaim.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/413346/original/180404bPotret.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302473/original/030559500_1784555002-Spain_s_Gavi__left__falls_as_he_scuffles_with_Argentina_s_Leandro_Paredes__5__and_Thiago_Almada.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302386/original/025200300_1784544811-argentina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301730/original/072758800_1784514690-scaloni.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301628/original/002576500_1784505654-ar7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301814/original/084260800_1784520494-simeone.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301640/original/047977900_1784506281-messi_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301617/original/065063300_1784505165-ar1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301608/original/075036800_1784503489-TORRES_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301667/original/044600200_1784511418-messi_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258400/original/000932100_1781342638-063_2281325777.jpg)