Sukses

Unggah Kuesioner Ukuran Kelamin ke FB, Nurlina Dipaksa Minta Maaf

Nurlina, salah seorang wali murid SMP Negeri I, Sabang, Aceh, dipanggil pihak sekolah. Lantaran orang tua Muhammad Faziz (12) itu mengunggah foto kuesioner pengukuran alat kelamin di akun facebooknya.

"Kemarin saya dipanggil pihak sekolah ditanya soal kuesioner itu," kata Nurlina saat berbincang dengan Liputan6.com, Jumat (6/9/2013).

Menurutnya, dalam pertemuan itu, dihadiri Kepala Sekolah SMP Negeri I, Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Dinas Kesehatan, dan pihak puskesmas. Pertemuan juga dihadiri seluruh wali murid SMP Negeri I. "Saya disudutkan dalam pertemuan itu karena saya memasang status di facebook saya dan menampilkan kuesioner itu," tutur Nurlina.  

Menurutnya, dalam pertemuan itu, pihak sekolah marah. Menurut mereka seharusnya soal kuesioner itu ditanyakan langsung ke pihak seoklah. "Saya jawab, kuesioner itu kan diberikan pihak sekolah, berarti legar. Makanya saya angkat ke permukaan agar mendapat perhatian pihak luar. Karena pihak Dinas Pendidikan juga sudah bilang hal itu tidak boleh," ujarnya.

Saat itu, lanjut Nurlina, pihak sekolah lantas meminta dirinya meminta maaf karena memuat status dan gambar di facebooknya. "Saya disuruh minta maaf di koran Serambi Indonesia dan di status facebook. Saya dianggap telah mencemarkan nama baik sekolah, Sabang, Aceh di tingkat nasional hingga dunia," ujarnya.

Nurlina menegaskan, dirinya tidak akan melakukan apa yang diminta pihak sekolah. Dia menyatakan tak merasa mencemarkan nama baik sekolah maupun daerahnya di tingkat nasional maupun internasional.

"Saya rasa tak bersalah, karena kuesioner itu tak etis diberikan kepada siswa SMP kelas I dan disuruh menggambar alat kelaminnya. Saya juga tidak mencemarkan nama baik sekolah. Ini demi dunia pendidikan kita," ujarnya.

Dihubungi terpisah, Kepala SMPN 1 Sabang menolak disalahkan atas beredarnya kuesioner yang memuat gambar alat kelamin, yang sebelumnya disebut untuk mengetahui ukuran kelamin siswa dan siswi. Kuesioner itu, bukan pihak sekolah yang mengeluarkan.

"Itu kuesionder milik dinas kesehatan," kata Kepala SMPN 1 Sabang Syarifah Nur saat dikonfrmasi Liputan6.com.

"Brosur itu milik dinas kesehatan, sudah ada sejak tahun lalu, bukan milik sekolah. Yang bertanggung jawab harusnya dinas kesehatan," dia menambahkan.

Syarifah membantah pihak sekolah telah melakukan pengukuran kelamin para siswa dan siswinya. Sebab, gambar dalam kuesioner itu bukan soal ukuran kelamin, melainkan soal perkembangan alat reproduksi. (Ary)
Loading