Menteri PPPA Akui Keselamatan Seluruh Masyarakat Prioritas Nomor Satu

Menteri PPPA Arifah Fauzi menegaskan bahwa keselamatan seluruh penumpang transportasi publik harus menjadi prioritas utama tanpa memandang gender.

Diterbitkan 29 April 2026, 22:55 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Menteri PPPA usulkan gerbong KRL perempuan di tengah pasca kecelakaan.
  • Usulan tersebut bertujuan menekan risiko korban perempuan saat insiden.
  • Menteri Arifah Fauzi meminta maaf dan mengakui pernyataannya kurang tepat.

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mengakui pernyataannya yang mengusulkan gerbong perempuan dipindah ke tengah rangkaian KRL commuter line pasca kecelakaan kereta di Bekasi kurang tepat.

Menurut dia, keselamatan dalam transportasi publik tak memandang gender dan prioritas utama.

"Kita semua sepakat bahwa keselamatan seluruh masyarakat adalah prioritas nomor satu baik perempuan maupun laki-laki," kata Arifah melalui unggahan video dari akun Instagram KemenPPPA, Rabu (29/4/2026).

Dia menegaskan, fokus utama dalam insiden kecelakaan KRL tersebut adalah bagaimana seluruh korban dapat ditangani dengan baik dan maksimal.

"Saat ini prioritas utama pemerintah adalah memastikan penanganan terbaik bagi seluruh korban baik yang meninggal dunia maupun yang mengalami luka-luka," jelas Arifah.

Dia pun meminta maaf terkait pernyataannya yang membuat gaduh publik.

"Untuk itu saya memohon maaf sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat, khususnya kepada para korban dan keluarga korban yang merasa tersakiti atau tidak nyaman atas pernyataan tersebut," ungkap Arifah.

 

Alasan Menteri PPPA Usul Gerbong Perempuan di Tengah Usai Tragedi Kecelakaan Kereta

Sebelumnya, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mengusulkan gerbong perempuan dipindah ke tengah rangkaian KRL commuter line. Usulan itu disampaikan setelah terjadinya insiden kecelakaan antara KRL dengan KA Argo Bromo di Stasiun Bekasi Timur, Senin malam, 27 April 2026. 

“Kalau bisa yang perempuan jangan di depan dan belakang,” kata Arifah Fauzi di kawasan Kemayoran Jakarta Pusat, Selasa (28/4/2026).

Fauzi mengaku menyampaikan usulan ini secara langsung ke Direktur Utama (Dirut) PT Kereta Api Indonesia saat menjenguk korban luka akibat insiden ini di RSUD Bekasi. Dia menyampaikan alasannya mengusulkan itu.

Menurutnya, posisi tengah lebih aman saat terjadi insiden. Dia menyebut langkah ini untuk menekan risiko korban perempuan.

"Kalau bisa yang perempuan jangan di depan dan belakang. Jadi kalau bisa di posisi di tengah, jadi posisi paling tengah, untuk gerbongnya ya. Supaya juga lebih safe dan aman," ucap dia.

Selain itu, Arifah menyoroti dampak psikologis korban. Pemulihan, katanya, tidak cukup hanya fisik, tapi juga trauma. Dia juga meminta perusahaan memberi kelonggaran bagi pekerja korban.

"Kami mengupayakan bagi mereka yang sebagai pekerja, mohon dari perusahaannya untuk memberikan keringanan, memberikan perhatian khusus, sampai betul-betul sembuh dan kembali kerja, tanpa ada potongan apapun, haknya bisa terpenuhi. Ini yang sedang kami upayakan," tutupnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6