Sama-Sama dari Amazon, Ini Beda Sapu-Sapu dengan Piranha

Ikan sapu-sapu dikenal sebagai spesies invasif yang mampu bertahan hidup di lingkungan ekstrem, termasuk air tercemar.

Diterbitkan 13 April 2026, 17:46 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Fenomena ikan sapu-sapu yang memenuhi sejumlah aliran sungai di Jakarta belakangan ramai diperbincangkan. Video dan foto yang memperlihatkan banyaknya ikan berwarna gelap itu memenuhi dasar sungai viral di media sosial.

Bahkan, sebagian warga mulai khawatir karena populasi ikan sapu-sapu dianggap semakin mendominasi dan mengancam keberadaan ikan lokal.

Di tengah ramainya perbincangan tersebut, muncul pula perbandingan dengan ikan lain yang sama-sama berasal dari Amazon, yakni ikan piranha. Keduanya memang berasal dari kawasan yang sama, tetapi memiliki karakter dan dampak yang sangat berbeda.

Ikan sapu-sapu dikenal sebagai spesies invasif yang mampu bertahan hidup di lingkungan ekstrem, termasuk air tercemar. Ikan ini memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi, sehingga populasinya cepat berkembang di perairan seperti Ciliwung.

Selain itu, ikan sapu-sapu juga memiliki kebiasaan menggali lubang di tebing sungai untuk berkembang biak. Aktivitas tersebut dapat mempercepat erosi bantaran sungai dan meningkatkan risiko longsor.

Meski tidak berbahaya bagi manusia, keberadaan ikan sapu-sapu tetap menjadi masalah bagi ekosistem. Ikan ini bersaing dengan ikan lokal dalam mencari makanan, bahkan mengganggu rantai makanan alami di sungai. Akibatnya, sejumlah ikan asli mulai berkurang jumlahnya.

Berbeda dengan sapu-sapu, ikan piranha dikenal sebagai predator ganas. Ikan ini memiliki gigi tajam dan kebiasaan berburu secara berkelompok. Di habitat aslinya, piranha memang berada di puncak rantai makanan dan memangsa ikan lain maupun hewan kecil yang masuk ke dalam air.

Meski terkenal berbahaya, piranha sebenarnya jarang ditemukan di perairan Indonesia. Selain itu, ikan ini juga tidak mudah berkembang seperti sapu-sapu, karena membutuhkan kondisi lingkungan tertentu untuk bertahan hidup. Karena itulah, ancaman piranha di sungai Indonesia relatif kecil dibandingkan dengan ikan sapu-sapu.

Kesamaan keduanya terletak pada asal usulnya. Baik sapu-sapu maupun piranha berasal dari perairan Amazon di Amerika Selatan. Namun, keduanya masuk ke Indonesia melalui jalur berbeda, umumnya dari perdagangan ikan hias atau pelepasan oleh pemilik yang tidak lagi memeliharanya.

Masuknya spesies asing seperti sapu-sapu menjadi tantangan tersendiri bagi ekosistem sungai di Indonesia. Tidak adanya predator alami membuat populasinya berkembang pesat. Kondisi ini berbeda dengan piranha yang meski berbahaya, populasinya lebih sulit berkembang di luar habitat aslinya.

Pramono Perintahkan Tangkap Ikan Sapu-Sapu

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta operasi pembersihan ikan sapu-sapu diperluas ke seluruh wilayah ibu kota. Dia ingin wilayah dengan populasi ikan sapu-sapu terbanyak dibersihkan tanpa terkecuali.

"Saya akan meminta tidak hanya di Jakarta Pusat, di semua wilayah yang ikan sapu-sapunya banyak untuk kita adakan operasi," kata Pramono di Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Minggu (12/4/2026).

Pada Jumat 10 April 2026, Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Pusat berkolaborasi bersama dengan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta melakukan kerja bakti penangkapan ikan sapu-sapu di kali Cideng, depan Plaza Indonesia (PI).

"Jadi kita mulai apa yang di PI kemarin sebagai awal. Memang sudah cukup banyak, tapi tidak mungkin langsung bisa selesai. Tetapi ini menurut saya merupakan sesuatu yang bermanfaat dan memberikan kontribusi positif," ucap Pramono.

Dia menyampaikan bahwa meledaknya populasi ikan sapu-sapu di wilayah Jakarta menyebabkan kerusakan tanggul lingkungan. Hal ini berdampak pada kelestarian ekosistem perairan lokal.

"Kalau tidak dilakukan segera penangkapan dan juga mengurangi jumlah ikan sapu-sapu ini pasti ini akan berpengaruh pada kita," ucap Pramono.

Ikan Sapu-Sapu di Aliran Sungai Jakarta

Ikan sapu-sapu ditemukan di berbagai titik, mulai dari Sungai Ciliwung, Kali Pesanggrahan, hingga Kali Angke. Populasi ikan sapu-sapu yang cukup banyak ini mendorong petugas untuk melakukan pembersihan guna menjaga ekosistem sungai.

Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) pun turun langsung membasmi ikan sapu-sapu, termasuk di kawasan sekitar Bundaran HI. Salah satu petugas PPSU Gondangdia, Junaedi (33), mengungkapkan bahwa jumlah ikan sapu-sapu yang berhasil ditangkap terbilang cukup banyak.

Menurutnya, dalam waktu sekitar satu setengah jam, petugas berhasil mengumpulkan lebih dari 80 ekor ikan sapu-sapu. Jumlah tersebut bahkan memenuhi hingga enam karung, meskipun masih banyak ikan yang belum tertangkap karena bersembunyi di sela-sela batu dan membuat air menjadi keruh.

“Dari 8.30 dibersihinnya sampai jam 10 tadi. Sekitar 80 ekor mah lebih kali, sampai 6 karung soalnya. Itu aja enggak ketangkap semua, susah soalnya pada ngumpet di batu-batu, airnya jadi keruh juga gara-gara banyak orang,” ujar Junaedi.

Dia juga menilai kegiatan pembasmian ikan sapu-sapu ini sebagai hal positif. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi pengalaman berbeda bagi petugas PPSU yang biasanya hanya bertugas membersihkan jalan. Selain itu, aktivitas ini juga menarik perhatian warga, terutama saat akhir pekan ketika banyak orang datang untuk memancing atau sekadar melihat kondisi sungai.

“Kegiatan kayak gini termasuk positif sih, soalnya biasanya nyapu-nyapu jalan aja. Soalnya kalau Sabtu-Minggu gitu suka pada datang yang mancing, jadi ramai kan orang-orang pada ingin lihat juga. Padahal di depan sini mah enggak boleh dipancingin harusnya,” kata dia.

Setelah ditangkap, ikan sapu-sapu tersebut kemudian dimatikan terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam karung. Petugas mematikan ikan dengan cara dibanting dan dipukul, sebagai bagian dari upaya pembasmian agar populasi ikan sapu-sapu di aliran sungai Jakarta dapat dikendalikan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6