Liputan6.com, Jakarta - Lansia dan ibu hamil pasti merasakan sebuah perjalanan yang penuh perjuangan, ketika berada di Stasiun Depok Baru. Tak ada jalan pintas. Mereka harus menapaki satu demi satu anak tangga yang tinggi, tanpa lift. Berjalan melalui lorong penyeberangan yang panjang. Pada kondisi ini, penumpang prioritas seolah tak punya hak istimewa.
Setiap pagi, Stasiun Depok Baru menyuguhkan pemandangan yang selalu sama. Derap langkah terburu waktu. Suara laju kereta datang dan pergi. Serta riuhnya petugas Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) di balik ruang operator stasiun. Irama harian yang akrab bagi pengguna KRL Commuter Line.
Sebagai salah satu simpul transportasi penting dari dan menuju ibu kota Jakarta, Stasiun Depok Baru melayani ribuan penumpang setiap harinya. Berdasarkan data KAI, stasiun seperti Depok Baru mencatat 18.605.476 transaksi (gate in–out) sepanjang Januari–November 2025. Fakta yang menggambarkan vitalnya peran stasiun ini bagi mobilitas warga.
Advertisement
Di antara kesibukan itu, ada kelompok penumpang prioritas yang harus berjalan lebih pelan, lebih waspada, dan sering kali menahan napas. Mereka adalah ibu hamil, lansia, dan penyandang disabilitas. Bagi mereka, stasiun bukan sekadar titik transit. Stasiun Depok Baru menjadi ruang penuh tantangan. Sebagian besar mobilitas penumpang bertumpu pada tangga.
Dalam kondisi ramai, arus manusia mengalir deras tanpa banyak ruang untuk melambat. Dari anak-anak tangga penghubung peron, napas penumpang yang terengah-engah saat menaiki pijakan demi pijakan terdengar menderu.
Beberapa berhenti sejenak di bordes untuk mengatur napas. Sebagian lain tetap memaksa melangkah meski bahu mereka naik turun menahan lelah.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5515653/original/062965700_1772183971-kondisi_Stasiun_Depok_Baru.jpg)
Rasa Cemas Ibu Hamil
Liputan6.com bertemu dengan Silvi. Seorang pelanggan commuter line yang mengenakan pin prioritas ibu hamil. Hampir setiap hari harus melintasi tangga penghubung antarperon. Baginya, setiap anak tangga bukan sekadar pijakan, melainkan hitungan kewaspadaan yang tak boleh luput.
“Naik tangga sambil pegang perut, kiri kanan orang buru-buru semua. Kadang enggak sempat pegangan,” ujarnya yang rutin menggunakan stasiun ini untuk berangkat kerja tersebut.
“Kalau sudah jam ramai, rasanya campur aduk antara takut jatuh dan bingung harus lewat mana,” curhatnya.
Pada jam sibuk berangkat kerja, situasi semakin mencekam baginya. Penumpang berebut mendahului. Suara langkah berkejaran dengan pengumuman kedatangan kereta. Dalam kondisi seperti itu, ruang aman bagi penumpang prioritas terasa menyempit.
Silvi hampir selalu dihantui rasa cemas. Dia harus mengatur ritme langkah sendiri, memastikan pijakan aman, sambil menjaga keseimbangan tubuhnya.
"Kalau ada lift, eskalator atau jalur landai yang benar-benar berfungsi, pasti jauh lebih tenang,” harapnya.
Baginya, keberadaan fasilitas tersebut bukan sekadar kenyamanan, melainkan kebutuhan dasar untuk menjamin rasa aman bagi penumpang.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5515654/original/004561700_1772183973-Peron_Stasiun_Depok_Baru.jpg)
Advertisement
Lansia Bergantung pada Uluran Tangan
Cerita lain datang dari Humaidah. Seorang lansia yang mengandalkan tongkat untuk berjalan. Dia pengguna setia kereta commuter. Setiap kali harus berpindah peron, Humaidah dihadapkan pada dua pilihan. Memaksa diri menaiki tangga atau menunggu uluran tangan.
"Kadang mau enggak mau minta tolong orang yang lewat. Kalau lagi sepi, ya nunggu, atau lanjut jalan,” kata Humaidah, seorang lansia pengguna tongkat.
Ketergantungan itu membuatnya tak selalu leluasa. Dia harus membaca situasi, apakah ada orang yang bisa dimintai tolong, atau apakah petugas terlihat di sekitar.
"Kalau ketemu petugas ya dibantu, tapi kan enggak selalu ada di dekat kita,” jelasnya.
Bagi Humaidah, perjalanan dengan kereta seharusnya memberi kemudahan di usia senja, bukan justru menghadirkan rasa waswas.
Janji Perbaikan
Menanggapi kondisi tersebut, VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda menyampaikan permohonan maaf atas belum tersedianya fasilitas lift atau eskalator di stasiun tersebut.
"Kami dari pihak KAI Commuter mohon maaf karena belum tersedianya fasilitas lift atau eskalator di Stasiun Depok Baru, kami tentunya terus berkoordinasi dengan PT KAI dan DJKA terkait kebutuhan pemenuhan atas fasilitas tersebut," kata Karina saat dihubungi Liputan6.com pada Kamis (26/2/2026).
Pihak KAI Commuter juga memastikan bahwa bantuan petugas tetap tersedia bagi pengguna prioritas.
"Tentunya petugas kami siap untuk selalu membantu pengguna disabilitas di Stasiun," janjinya.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5463779/original/049305200_1767670885-Screenshot_2026-01-06_103951.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4919749/original/034086800_1723781524-000_36EC7XK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2892802/original/045596000_1566805482-20190826-Jokowi-sebut-kaltim-jadi-ibu-kota-baru-ANGGA-8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8208033/original/056349800_1781066890-063_2280813255.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3904844/original/ACg8ocLsPSFJsikb0nC1tC3mkI2AaP_f9ycFUDbLnmR4tfJ9q6O8RcDm%3Ds200.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5515652/original/027031200_1772183970-tangga_Stasiun_Depok_Baru.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3884474/original/ACg8ocIVTLofSOnSx3v8CnmrqYqrSv2NM36rW_r4-0PmsiRM22XJWEms%3Ds200.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260379/original/084688000_1781589230-tj_verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259296/original/035877100_1781495343-_____________FIFAWorldCup.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8621898/original/023575700_1782614127-063_2283622576.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5540345/original/069396100_1774710516-jerman.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8560764/original/057361200_1782508647-000_B8GJ8DG.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8618866/original/035352900_1782607831-063_2283624619.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5243047/original/051478600_1749093312-AP25155771563061.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3529388/original/056973400_1627972342-000_9767F7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260382/original/054470700_1781590662-063_2281748273.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261539/original/051141200_1781743137-IMG-20260618-WA0008.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8625922/original/005183100_1782620553-063_2283651686.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8625483/original/070181900_1782619556-000_B8K37NR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5515892/original/014065600_1772209176-2557.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501191/original/029485900_1770889140-Kapolres_Bima_Kota_AKBP_Didik_Putra_Kuncoro.webp)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5516016/original/036433700_1772249239-WhatsApp_Image_2026-02-28_at_00.04.34.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5385413/original/076707400_1760930652-IMG-20251020-WA0003.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5515884/original/049415700_1772202365-2523.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5515869/original/004607800_1772200609-2549.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5515854/original/050092100_1772197478-IMG-20260227-WA0003.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5491530/original/066747600_1770098637-IMG-20260203-WA0025.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5515849/original/082572900_1772196846-Gerakan_Masjid_Bersih_2026__2_.jpg)