Istana Tanggapi Kabar Keluarga Bocah SD Bunuh Diri di NTT Tak Dapat Bansos

Pihak Istana Negara menanggapi kabar keluarga bocah SD yang bunuh diri di NTT tak tersentuh bantuan sosial pemerintah akibat masalah administrasi kependudukan.

Diterbitkan 05 Februari 2026, 00:25 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Pemerintah berkomitmen mencegah insiden bunuh diri anak SD dengan perbaiki pendataan bansos.
  • Kepala desa/dusun diminta aktif memonitor dan melaporkan warga yang berhak bantuan sosial.
  • Presiden Prabowo memberi atensi khusus, meminta jajaran antisipasi kejadian serupa.

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mewakili pihak Istana menyatakan, pemerintah berkomitmen untuk mencegah terulangnya insiden bocah SD bunuh diri di Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diduga dikarenakan masalah ekonomi. Salah satunya adalah dengan memperbaiki pendataan penerima manfaat bantuan sosial (bansos).

Hal ini disampaikan Prasetyo menanggapi kabar bahwa keluarga korban tidak tersentuh bantuan sosial pemerintah akibat persoalan administrasi kependudukan (adminduk).

"Ya, itu bagian dari yang harus kita evaluasi secara menyeluruh gitu. Masalah pendataan, masalah laporan, termasuk tadi kepedulian sosial kita," kata Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (6/2/2026).

Dia meminta kepala desa atau kepala dusun untuk rutin melakukan monitoring dan melaporkan apabila ada warganya yang belum terdata sebagai penerima bansos. Terlebih, apabila warga tersebut sangat berhak mendapat bantuan dari pemerintah.

"Barangkali kalau misalpun tidak atau belum masuk di dalam daftar penerima manfaat dari pemerintah, mestinya ada mekanisme-mekanisme secara struktural," ujarnya.

"Misalnya melalui kepala desa atau kepala dusun yang terus-menerus melakukan monitoring dan melaporkan manakala ada warganya yang belum termasuk atau belum tercatat sebagai penerima manfaat dari program-program pemerintah gitu," sambung Prasetyo.

 

Jadi Atensi Prabowo

Prasetyo menyampaikan dirinya telah berkoordinasi dengan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah terkait insiden siswa SD di NTT. Dia menilai faktor keluarga, lingkungan, dan sekolah harus menjadi perhatian, termasuk kesehatan mental anak.

"Bagaimana pun selain di faktor keluarga, faktor lingkungan, juga di sekolah menjadi sangat penting edukasi dan terutama berkenaan dengan masalah mental adik-adik kita supaya jika mengalami sebuah tekanan atau mengalami sebuah permasalahan untuk dapat menyampaikan kepada guru-guru mereka di sekolah," jelas Prasetyo.

Adapun Presiden Prabowo Subianto juga memberikan atensi khusus terkait kasus tersebut. Kepala Negara meminta jajarannya untuk melakukan upaya agar insiden serupa tak terjadi kembali

"Bapak Presiden menaruh atensi dan melalui kami, meminta kami untuk berkoordinasi supaya ke depan hal-hal yang semacam ini dapat kita antisipasi," pungkas Prasetyo.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6