Dampak Banjir Lumpur Gunung Slamet, Pasokan Air Bersih di Banyumas Sempat Terganggu

Banjir lumpur di kaki Gunung Slamet, Jateng sebabkan pelayanan air bersih Perumdam Tirta Satria Banyumas terhambat.

Diterbitkan 29 Januari 2026, 20:31 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Banjir lumpur di kaki Gunung Slamet, Jawa Tengah (Jateng) pada Sabtu, 24 Desember 2025 berdampak pada sejumlah sumber mata air. Kondisi ini menyebabkan pelayanan air bersih di beberapa Kabupaten Banyumas sempat terganggu.

Pelaksana Tugas Direktur Utama Perumdam Tirta Satria Banyumas Wipi Supriyanto mengatakan, air yang keruh akibat campuran lumpur menyebabkan lambatnya sistem pelayanan air bersih.

"Beberapa sumber mata air di kaki Gunung Slamet terdampak banjir lumpur, sehingga air bercampur material lumpur masuk ke brown capturing kami dan otomatis memengaruhi proses pengolahan serta pelayanan kepada pelanggan," ujar Wipi, dilansir dari Antara, Kamis (29/1/2026).

Penyebab hambatan ini, kata Wipi, karena Perumdam Tirta Satria harus melakukan pembuangan lumpur dan air keruh di jaringan distribusi terlebih dulu sebelum diolah. Sehingga, pelayanan air bersih membutuhkan waktu yang lebih lambat.

Ia mengatakan, sebelumnya kondisi sempat membaik dan air mulai kembali jernih, namun hujan kembali turun dan memicu banjir lumpur susulan.

"Secara pelan-pelan sudah mulai membaik dan jernih kembali, tetapi tiba-tiba datang lumpur lagi karena banjir (di wilayah Gunung Slamet) sore kemarin, sehingga kembali berdampak," terang Wipi.

Sebagai penanganan, Perumdam Tirta Satria terus melakukan pembersihan instalasi serta pemantauan kualitas air secara berkala. 

Wipi memastikan pihaknya berupaya mempercepat normalisasi layanan agar kebutuhan air bersih masyarakat kembali terpenuhi, dan kebutuhan air bagi masyarakat dapat terpenuhi kembali.

Debit Air Mengecil

Sejumlah sumber air dikabarkan sempat mengalami penyumbatan akibat lumpur yang menumpuk.  Penyumbatan tersebut menyebabkan debit air mengecil sehingga pelayanan belum sepenuhnya berjalan normal, khususnya di wilayah selatan Banyumas. 

Bahkan, lanjut dia, tingkat kekeruhan air baku sempat mencapai 20 ribu Nephelometric Turbidity Unit (NTU), jauh di atas ambang normal sekitar 600 NTU.

Di sisi lain, ia mengatakan dalam kondisi tertentu, Perumdam Tirta Satria terpaksa tetap mengolah air dengan tingkat kekeruhan hingga 3.000 NTU agar pelayanan tetap berjalan meskipun tidak maksimal.

"Kalau sudah di atas standar tentu butuh bahan lebih banyak dan itu pemborosan, tetapi mau tidak mau tetap kami upayakan agar pelanggan tetap mendapatkan air," katanya.

Selain itu, proses pengolahan air dengan tingkat kekeruhan tinggi juga berisiko menurunkan kualitas peralatan instalasi. 

Oleh karena itu, Perumdam Tirta Satria terus melakukan evaluasi teknis serta berkoordinasi dengan pihak terkait guna meminimalkan dampak gangguan dan mempercepat pemulihan layanan.

Pendistribusian Air Menggunakan Mobil Tangki

Perumdam Tirta Satria juga melakukan pendistribusian air bersih menggunakan mobil tangki ke wilayah-wilayah terdampak sebagai langkah terakhir.

Ia mengatakan, langkah ini ditempuh untuk mengoptimalkan kebutuhan masyarakat, meskipun distribusi tersebut belum dapat menjangkau seluruh pelanggan secara merata.

Wipi juga menyebutkan, berdasarkan laporan terbaru, kondisi air di sejumlah titik kini sudah mulai kembali jernih.

Akan tetapi, lanjut dia, pemerataan tekanan air diperkirakan masih membutuhkan waktu beberapa hari ke depan.

"Sekarang sudah mulai normal, beberapa titik sudah jernih. Untuk tekanan mungkin dua hari lagi baru bisa terasa lebih normal," ungkapnya.

Terkait keterlambatan itu, Wipi menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pelanggan atas gangguan layanan tersebut.

Ia berharap, masyarakat dapat bersabar karena gangguan dipicu oleh faktor alam yang berada di luar kendali pengelola.

Sementara itu, sekretaris RT di desa setempat Woto mengatakan, aliran air Perumdam Tirta Satria di perumahan itu diketahui mati sejak Minggu, 25 Desember 2026 dini hari.

"Info yang kami dapat, hal itu karena instalasi pengolahan air dari Sungai Serayu di Desa Pegalongan mengalami gangguan akibat banjir lumpur. Alhamdulillah dalam dua hari ini, warga kami mendapatkan bantuan air bersih dari Perumdam," kata Woto.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6