Belajar dari Ukraina dan Venezuela, Indonesia Diminta Perkuat Pertahanan Darat

Pengalaman perang Ukraina dan kerentanan Venezuela menjadi alarm bagi Indonesia untuk memperkuat pertahanan darat dan industri artileri nasional.

Diterbitkan 27 Januari 2026, 05:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pengalaman konflik di Ukraina dan kerentanan pertahanan Venezuela menjadi pelajaran penting bagi Indonesia untuk memperkuat sistem pertahanan darat dan udara secara terintegrasi.

Lemahnya deteksi dini dan sistem Artileri Pertahanan Udara (Arhanud) disebut menjadi faktor krusial yang membuat kedaulatan suatu negara rentan. Sebaliknya, Ukraina mampu bertahan menghadapi agresi Rusia sejak 24 Februari 2022 berkat pertahanan adaptif dan penggunaan artileri bergerak berpresisi tinggi.

Ukraina diketahui mengoperasikan sistem artileri CAESAR 155 mm produksi KNDS dengan strategi shoot and scoot atau tembak dan lari.

“Sistem CAESAR telah menunjukkan beberapa keunggulan krusial di Ukraina. Sistem senjatanya unggul dalam menembak secara akurat dan aman di semua jarak, terutama pada jarak jauh, sementara arsitekturnya tetap sangat relevan dalam peperangan modern,” ujar Direktur Pemasaran Artileri KNDS, Olivier Fort.

Ia menambahkan, pengalaman perang Ukraina memberikan pembelajaran besar bagi pengembangan sistem artileri modern.

"CAESAR adalah salah satu dari sedikit sistem artileri yang mendapat manfaat dari pelajaran berharga tersebut,” katanya.

Di Indonesia, pemerintah menilai penguatan pertahanan darat menjadi agenda strategis. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 84 Tahun 2025 yang mengatur penambahan 162 komando dan satuan baru serta penataan struktur TNI.

Namun, penguatan organisasi dinilai harus diiringi modernisasi alutsista. Komandan Pusat Kesenjataan Artileri Medan TNI AD Budi Eko Mulyono menegaskan pentingnya transformasi berbasis teknologi.

“Kemenangan ditentukan oleh penguasaan teknologi dan integrasi sistem senjata presisi,” tegasnya dalam Defence Technology Forum.

Untuk mendukung hal tersebut, PT Pindad menjalin kerja sama strategis dengan KNDS dalam pengembangan dan produksi bersama artileri serta amunisi kaliber besar guna mengurangi ketergantungan impor.

Kunci Tutup Celah Pertahanan

Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Pindad Prima Kharisma I.Y. mengatakan fokus pengembangan mencakup amunisi kaliber 90 mm hingga 155 mm serta sistem mortir 120 mm.

“PT Pindad menjalin mitra strategis dengan KNDS karena komitmen transfer of manufacture, peningkatan TKDN, dan menempatkan Indonesia sebagai hub industri pertahanan di kawasan,” ujarnya.

Kerja sama tersebut telah dituangkan dalam nota kesepahaman dan dilanjutkan dengan kunjungan teknis ke fasilitas manufaktur Eropa. Dalam waktu dekat, insinyur KNDS dijadwalkan mengunjungi fasilitas produksi amunisi PT Pindad di Turen, Malang, Jawa Timur.

Pemerintah menilai modernisasi artileri dan penguatan industri pertahanan nasional menjadi kunci untuk menutup celah pertahanan dan menjaga kedaulatan Indonesia di tengah dinamika keamanan global.

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6