[VIDEO] Meski Sakit, Nenek Marsini Harus Digotong Terima BLSM

Nenek tua yang sakit-sakitan terpaksa dibawa ke kantor pos untuk mencairkan BLSM yang tidak bisa diwakilkan

Diterbitkan 30 Juni 2013, 19:28 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Penyaluran BLSM masih kurang tepat sasaran. Antrean BLSM diwarnai warga yang terlihat mampu, padahal warga yang sangat membutuhkan justru tidak mendapatkannya. Adapula nenek tua yang sakit-sakitan terpaksa dibawa ke kantor pos untuk mencairkan BLSM yang tidak bisa diwakilkan.

Dalam tayangan Liputan 6 SCTV, Minggu (30/6/2013), pencairan BLSM yang tidak bisa diwakilkan merepotkan Karsinah di Jombang, Jawa Timur. Dia bermaksud mengambil jatah BLSM, mewakili ibunya, Nenek Marsini yang sakit namun ditolak.

"Nggak boleh diwakilkan jadi harus dibawa ke sini meski sakit," keluh Karsinah.

Nenek Marsini (75) yang terbaring lemah pun susah payah dibawa ke Kantor Pos Plandil, Jombang. Begitu beratnya perjuangan Nenek Marsini demi memperoleh uang Rp 300 ribu, dana kompensasi kenaikan harga BBM, per 21 Juni  lalu.

Di Purwakarta, Jawa Barat, pembagian BLSM sepi. Melihat profil sejumlah penerima, diduga BLSM tidak tepat sasaran karena sejumlah warga mampu ikut menikmatinya. Sebagian penerima datang ke kantor pos dengan sepeda motor, ada pula yang mengenakan perhiasan emas.

Kekecewaan meliputi sejumlah warga Kelurahan Jogoyudan di Lumajang, Jawa Timur. Di tengah antrean ratusan warga untuk mengantongi BLSM, nama sejumlah warga yang benar-benar membutuhkan dana itu justru tidak terdaftar.

"Yang mampu dapat, tapi yang miskin malah nggak dapat," kata Ketua RT setempat, Buadin dengan nada marah kepada petugas BLSM.

Menko Kesra Agung Laksono mengakui kemungkinan terjadinya ketidaksesuaian data dengan fakta di lapangan sebesar 5 hingga 7 persen. Namun, hal ini bisa diperbaiki.

Sejak harga BBM dinaikkan, pemerintah menyalurkan dana BLSM sebesar Rp 300 ribu untuk 2 bulan pertama. Pembagian selanjutnya akan dilakukan September mendatang. (Adi/Frd)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6