Liputan6.com, Jakarta - Pendiri SkyBridge Capital Anthony Scaramucci menilai penurunan Bitcoin terbaru di tengah bear market justru menyimpan satu sinyal yang cukup positif. Menurutnya, penurunan Bitcoin kali ini masih lebih kecil dibandingkan kerugian yang terjadi dalam sejumlah siklus sebelumnya.
Dikutip dari CoinMarketCap, Rabu (19/8/2026), berbicara dalam Wyoming Blockchain Symposium pada 18 Agustus, Scaramucci menyebut kondisi pasar saat ini sebagai “clear Bitcoin bear market” atau bear market Bitcoin yang jelas.
Namun, dia menilai kedalaman penurunan harga Bitcoin kali ini dapat menunjukkan bahwa basis pembeli masih cukup kuat.
Advertisement
Scaramucci merujuk pada penurunan Bitcoin sekitar 55% dari level tertinggi ke titik terendah. Setelah mengalami tekanan tersebut, Bitcoin kembali naik ke kisaran US$ 64.000. Dengan demikian, penurunan Bitcoin dari rekor Oktober 2025 kini menyempit menjadi sekitar 49%.
Bitcoin sebelumnya mencetak rekor di kisaran US$ 126.000 pada Oktober 2025. Namun, harga kemudian anjlok di bawah US$ 60.000 saat gelombang likuidasi pada Juni 2026.
Penurunan tersebut mencapai sekitar 53% hingga 55%, tergantung bursa dan harga intraday yang digunakan sebagai acuan.
Scaramucci membandingkan kondisi tersebut dengan penurunan Bitcoin sekitar 75% hingga 80% yang terjadi dalam bear market sebelumnya.
Menurut dia, penurunan yang lebih dangkal kali ini dapat mengindikasikan masih banyak investor yang bersiap menghadapi fase pasar berikutnya.
Gerak Bitcoin
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816485/original/067351800_1714383642-fotor-ai-20240429133817.jpg)
Meski demikian, interpretasi Scaramucci tersebut masih merupakan pandangannya dan belum menjadi sinyal pasar yang terkonfirmasi.
Penurunan yang lebih kecil tidak serta-merta menunjukkan Bitcoin telah mencapai titik terendah atau memastikan pembeli akan mampu mencegah penurunan berikutnya.
Berdasarkan data penurunan terkini, harga Bitcoin di sekitar US$ 64.000 masih berada sekitar 49% di bawah rekor tertingginya. Perbedaan dengan angka penurunan 55% yang disebut Scaramucci terjadi karena Bitcoin telah pulih dari level di bawah US$ 60.000.
Bitcoin sebelumnya berhasil kembali merebut level US$ 64.000 setelah pembeli mempertahankan area support sekitar US$ 62.750. Namun, volatilitas yang mulai menyempit serta tingginya penggunaan leverage masih membuat pasar rentan terhadap pergerakan harga secara tiba-tiba.
Modal Beralih ke AI
Scaramucci juga menilai kinerja Bitcoin yang masih tertekan sebagian disebabkan oleh pergeseran modal menuju investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Saham dan produk investasi yang berkaitan dengan AI mendapatkan permintaan kuat ketika pasar kripto menghadapi aksi likuidasi dan arus dana institusional yang melemah.
Dia juga menyoroti perusahaan penambangan Bitcoin yang mulai mengalihkan infrastrukturnya untuk kebutuhan komputasi AI. Sejumlah perusahaan penambang yang tercatat di bursa diketahui mengejar kontrak pusat data dan high-performance computing ketika kondisi ekonomi penambangan Bitcoin mengalami tekanan.
Manajer aset BlackRock juga melihat adanya persaingan dalam perebutan arus investasi. BlackRock melaporkan dana yang berfokus pada AI menerima lebih dari US$ 46 miliar setelah Bitcoin mencapai puncaknya pada Oktober 2025.
Pada saat yang sama, produk bursa Bitcoin spot mencatat arus dana keluar bersih sekitar US$ 5 miliar.
BlackRock sebelumnya menilai penurunan sekitar 50% tersebut lebih mencerminkan proses pengurangan leverage dan pelemahan arus dana, bukan perubahan terhadap prospek investasi Bitcoin dalam jangka panjang.
Advertisement
Siklus Empat Tahun Bitcoin
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-gray-landscape-new.png,540,20,0)/kly-media-production/medias/1937644/original/001119200_1519626925-1.jpg)
Scaramucci juga mengaitkan bear market saat ini dengan siklus penerbitan Bitcoin yang berlangsung sekitar empat tahun.
Bitcoin menjalani halving terbaru pada April 2024. Peristiwa tersebut memangkas subsidi blok dari 6,25 BTC menjadi 3,125 BTC.
Halving berikutnya diperkirakan berlangsung pada 2028. Namun, tanggal pastinya bergantung pada kecepatan produksi blok. Scaramucci memperkirakan saat berbicara dalam forum tersebut, peristiwa halving berikutnya masih sekitar 18 hingga 19 bulan lagi.
Menurutnya, kembali berkurangnya jumlah Bitcoin baru yang beredar dapat memperketat pasokan dan menopang harga.
Berdasarkan pandangan tersebut, Scaramucci memperkirakan Bitcoin dapat “move back up over 100,000” atau kembali naik menembus US$ 100.000. Meski demikian, dia memperingatkan pasar masih mungkin bergerak mendatar dalam waktu yang cukup lama sebelum kembali menguat.
Prediksi tersebut tidak disertai batas waktu yang pasti. Halving memang mengurangi penerbitan Bitcoin baru, tetapi harga tetap dipengaruhi berbagai faktor, termasuk permintaan investor, leverage, suku bunga, arus dana produk yang diperdagangkan di bursa, serta kondisi ekonomi secara keseluruhan.
Sinyal Historis Belum Menjamin Pemulihan Cepat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816486/original/000456500_1714383664-fotor-ai-20240429133814.jpg)
Riset terbaru VanEck memberikan pandangan yang lebih hati-hati untuk jangka pendek. Pada 12 Agustus, delapan dari 12 indikator kapitulasi Bitcoin yang dipantau VanEck berada dalam kondisi aktif. Seluruh indikator tersebut juga sempat memasuki wilayah kapitulasi dalam tiga bulan sebelumnya.
VanEck memperkirakan transisi siklus Bitcoin dapat terjadi antara September hingga November.
Namun, pengujian historis menunjukkan klaster sinyal kapitulasi serupa tidak menghasilkan kinerja yang lebih baik dibandingkan pergerakan normal Bitcoin dalam tiga atau enam bulan berikutnya. Kinerja yang lebih unggul baru terlihat dalam periode satu tahun, berdasarkan sampel yang relatif kecil dan banyak mengalami tumpang tindih.
Untuk jangka pendek, perhatian pasar kini tertuju pada kemampuan pembeli mempertahankan Bitcoin di atas area US$ 64.000 hingga US$ 65.000. Arus dana produk Bitcoin spot di Amerika Serikat, penggunaan leverage, serta data ekonomi mendatang dapat menentukan arah harga berikutnya.
Dengan demikian, argumen Scaramucci lebih bertumpu pada ketahanan relatif Bitcoin dibandingkan bukti bahwa bear market telah berakhir. Penurunan saat ini memang lebih dangkal dibandingkan sejumlah kejatuhan sebelumnya, tetapi Bitcoin masih berada hampir 50% di bawah rekor tertingginya.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256352/original/040260500_1781154176-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-11T120248.984.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4285001/original/066553900_1673179649-Target_Sektor_Wisata_2023-Angga-7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9327521/original/042881300_1787113384-Screenshot_2026-08-19_110246.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4160798/original/079359000_1663319947-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1937629/original/026426200_1519626771-1.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816483/original/040342400_1714383611-fotor-ai-20240429134010.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816479/original/001937700_1714383474-fotor-ai-2024042913365.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5028257/original/063990300_1732871477-fotor-ai-20241129161040.jpg)