Jembatan Bailey Rampung, 16 Desa di Aceh Tengah Kembali Bisa Diakses

Pembangunan Jembatan Bailey penghubung dua kecamatan yakni Silih Nara dan Rusip Antara, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh rampung.

Diterbitkan 20 Januari 2026, 19:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pembangunan Jembatan Bailey penghubung dua kecamatan yakni Silih Nara dan Rusip Antara, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh rampung. Dengan begitu, 16 desa yang sebelumnya terisolasi pasca-bencana sudah terakses kembali.

"Pasca-bencana daerah ini terisolir, ada sekitar 16 desa yang terdampak. Hari ini semuanya sudah bisa dilewati," ujar Bupati Aceh Tengah Haili Yoga di Aceh Tengah, Selasa (20/1/2026) melansir Antara.

Jembatan tersebut sejak lama dikenal oleh masyarakat setempat dengan sebutan Totor Pelang atau Jembatan Pelang. Perannya vital sebagai penghubung antar-wilayah dan urat nadi perekonomian masyarakat setempat.

"Namun, banjir bandang pada akhir November 2025 telah merobohkan jembatan tersebut. Dampaknya desa-desa di wilayah itu terisolasi total," ucap Haili.

Kini, lanjut dia, Totor Pelang sudah kembali difungsikan sehingga aktivitas ekonomi masyarakat mulai kembali pulih, distribusi hasil pertanian tak lagi terkendala, akses pendidikan, dan layanan kesehatan kembali dapat dijangkau.

"Hari ini masyarakat bahagia karena sudah bisa lewat. Ekonomi mulai bergerak kembali. Ini adalah harapan masyarakat sejak awal pasca-bencana dan hari ini mulai terwujud," terang Haili.

Pembangunan jembatan ini dilakukan atas kerja sama antara Kementerian PUPR, TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat setempat.

Masyarakat diimbau untuk mematuhi ketentuan penggunaan jembatan ini karena memiliki akses terbatas, yakni batas beban maksimum 15-20 ton.

"Untuk pembangunan jembatan permanen, kata dia, juga bakal segera dilakukan sebagai solusi jangka panjang," kata dia.

"Mohon ini dijaga bersama. Jika ada kendaraan yang melebihi tonase harus tegas. Ini jalan kita bersama. Pengawasan dari masyarakat sangat penting," tandas Haili Yoga.

 

Melihat Jembatan Berhasil Dibangun, Prajurit: Kami Bukan Bangga, tapi Tenang

Sebelumnya, bukan rasa bangga yang justru hadir dalam diri setiap prajurit TNI saat sejumlah jembatan sudah dibangun dan bisa digunakan di sejumlah lokasi terdampak bencana di Aceh.

Komandan Batalyon Zeni Tempur 16/Dhika Anoraga, Letkol Czi Rudy Haryanto, mengatakan para prajuritnya justru merasa lega.

Dia menyebut, para prajurit mengaku rasa lelah karena bekerja bergantian dalam 24 jam tanpa henti, rasanya terbayarkan. Apalagi saat warga terdampak bencana bisa menggunakan jembatan itu untuk memulai kembali aktivitas mereka.

"Lega. Letih, yang selama ini mungkin kurang tidur dan harus terus-terusan berjibaku menyelesaikan jembatan, begitu melihat jembatan itu bermanfaat buat mereka, kami hanya bisa terdiam dan melihat sambil mengucapkan syukur," kata Rudy dalam wawancara Sinergi Indonesia di YouTube Bakom, dikutip Senin 19 Januari 2026.

Menurutnya, alih-alih bangga, para prajurit Zipur yang berjibaku membangun jembatan justru merasa lebih tenang. Ketenangan itu timbul karena masyarakat bisa terbantu dengan jerih-payah yang sudah mereka lakukan.

"Bukan kebanggaan yang kami dapatkan, tapi rasa ketenangan karena melihat masyarakat bisa terbantu dengan jembatan yang dibangun. Yang sebelumnya mereka harus menuruni jurang, menyebrangi sungai, naik jurang lagi, namun dengan ada jembatan tersebut, mereka tidak perlu lagi harus turun dan naik jurang," jelas Rudy.

 

Tantangan di lapangan

Lebih lanjut, dia berharap masyarakat terdampak tak khawatir. Dia memastikan semua infrastruktur dasar seperti jembatan akan terus diperbaiki. Dia berharap masyarakat juga lebih bersabar dan mengerti jika membangun jembatan tak bisa cepat.

"Mudah-mudahan masyarakat bisa mengerti karena dengan segala keterbatasan yang ada, mau ditambah pun personelnya, kondisi yang ada memang membutuhkan waktu," ujar dia.

Rudy menjelaskan, tantangan di lapangan tidak hanya soal jembatan yang hilang atau rusak, tetapi juga material banjir yang menumpuk dan mengunci akses. Banyak jembatan tersumbat kayu, puing rumah, dan sampah banjir; sementara di beberapa titik, jalan menuju jembatan justru tergerus aliran sungai.

Ia mencontohkan kondisi di Teupin Mane, yang mengalami perubahan lebar sungai cukup drastis pascabanjir. Sebelum banjir, lebar sungai 120 meter, namun setelahnya menjadi 180 meter.

Alhasil, para prajurit harus membersihkan wilayah kerja dulu, kemudian menyiapkan pemasangan jembatan darurat untuk menghubungkan jalan yang terputus.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6