Wamenkes Sebut Super Flu Bukan Virus Baru, 62 Kasus Terdeteksi Sampai Desember 2025

Kemenkes memastikan belum ada kasus kematian akibat virus super flu.

Diterbitkan 08 Januari 2026, 23:33 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kesehatan mengidentifikasi sebanyak 62 kasus super flu atau influenza A (H3N2) di Indonesia hingga akhir Desember 2025. Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) dr. Benjamin Paulus Octavianus menyebut angka tersebut merupakan kasus yang terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium, namun kemungkinan belum sepenuhnya mencerminkan kondisi di lapangan.

“Hari ini kasus di Indonesia 62 yang ditemukan dan diperiksa di laboratorium, kemungkinan lebih dari 62 kasus,” ujar dr. Benjamin saat ditemui awak media di SMK Negeri 1 Jakarta, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Kamis (8/1/2026).

Pria yang karib disapa dr. Benny memastikan situasi masih terkendali dan tidak menunjukkan lonjakan yang mengkhawatirkan.

Tren Kasus Flu Menurun Signifikan

dr. Benny menjelaskan bahwa dalam dua bulan terakhir, khususnya dua pekan terakhir, jumlah kasus flu mengalami penurunan cukup tajam.

“Harus diingat, hari ini kasus flu sudah turun jauh. Dua bulan, dua minggu terakhir sudah makin turun. Jadi flu itu selalu memuncak di awal musim hujan,” katanya.

Ia juga menerangkan bahwa peningkatan kasus flu di Indonesia umumnya terjadi pada periode tertentu setiap tahun.

“Perhatikan saja, Agustus, September naik, Oktober naik. Sekarang kan Desember ke Januari mulai reda. Lihat saja orang flu sekarang kan berkurang jauh,” ujarnya.

 

 

Super Flu Bukan Virus Baru

Menanggapi istilah super flu yang beredar di masyarakat, dr. Benjamin menegaskan bahwa influenza A (H3N2) bukanlah ancaman baru. Influenza A (H3N2) merupakan virus yang sudah lama dikenal di dunia medis dan memiliki pola musiman yang relatif konsisten setiap tahunnya di Indonesia.

“Super flu aman, super flu itu H3N2, terjadi pertama kali di Amerika, influenza itu kan ada tipe ABCD, ini tipe A (H3N2) subclade K, ada genom khusus, karena flu itu setiap tahun dia berubah mengalami replikasi, jadi vaksin untuk flu setiap tahun itu berubah selalu baru,” jelasnya.

Menurutnya, karena virus influenza terus mengalami perubahan, vaksin flu memang disesuaikan setiap tahun. Namun, hal tersebut merupakan kondisi yang lazim dalam penanganan influenza secara global.

 

Kemenkes Terus Lakukan Pemantauan

Meski tren kasus menurun, pemerintah tetap melakukan pemantauan dan surveilans terhadap penyebaran influenza di masyarakat. Wamenkes dr. Benny mengingatkan agar masyarakat tetap waspada, namun tidak panik berlebihan.

Ia menegaskan bahwa sebagian besar kasus flu, termasuk H3N2, memiliki tingkat kesembuhan yang tinggi dan gejalanya menyerupai flu pada umumnya.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi juga telah menegaskan bahwa super flu bukanlah virus baru, virus ini telah dikenal dan beredar selama puluhan tahun, berbeda dengan COVID-19 yang merupakan virus baru dan belum dikenali sistem kekebalan tubuh manusia saat pertama kali muncul.

Menurut Menkes Budi, karena influenza A H3N2 bukan virus baru, sebagian besar masyarakat telah memiliki tingkat kekebalan dasar. Selama kondisi tubuh dalam keadaan sehat, risiko munculnya gejala berat relatif kecil.

Hingga saat ini, Kementerian Kesehatan juga mencatat belum ada laporan kematian akibat super flu. Gejala yang muncul umumnya berupa demam, batuk, pilek, dan pegal, dengan tingkat kesembuhan yang tinggi.

Kemenkes memastikan pihaknya akan terus memantau perkembangan kasus influenza di Indonesia, terutama di tengah perubahan cuaca, guna menjaga kesehatan masyarakat tetap terlindungi.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6