Masuk 6 Besar Polusi Dunia, Masyarakat Jakarta Diminta Kembali Bermasker

Data IQAir mencatat kualitas udara Jakarta sebagai terburuk keenam di dunia dengan status tidak sehat. Warga diimbau kembali memakai masker dan membatasi kegiatan di luar ruangan untuk menghindari dampak buruk polusi.

Diterbitkan 06 Januari 2026, 11:19 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Kualitas udara Jakarta tidak sehat, peringkat ke-6 terburuk di dunia pada 2026.
  • Data IQAir menunjukkan AQI Jakarta 174 dengan polusi PM2.5 tinggi.
  • Jakarta memiliki 111 SPKU terintegrasi dan menyiapkan Early Warning System.

Liputan6.com, Jakarta - Kualitas di Jakarta saat memasuki tahun 2026 masuk ke dalam kategori tidak sehat dan menduduki peringkat ke-enam sebagai kota dengan kualitas udayanya yang terburuk di dunia.

Berdasarkan data situs pemantauan kualitas udara IQAir pada pukul 05.45 WIB, indeks kualitas udara (AQI) di Jakarta berada di angka 174 atau dapat disebutkan kategori tidak sehat dengan polusi udara PM2.5 dan nilai konsentrasi 79,5 mikrogram per meter kubik.

Dilansir dari Antara, pada hari Senin (5/12/2026), angka tersebut memiliki penjelasan tingkat kualitas udara yang tidak sehat bagi kelompok yang sensitif, karena bisa merugikan manusia ataupun kelompok hewan yang sensitif atau menimbulkan kerusakan bagi tumbuhan ataupun nilai estetika.

Sedangkan kategori yang baik tingkat kualitas udaranya adalah tidak memberikan efek bagi kesehatan manusia ataupun hewan, dan juga tidak mempengaruhi pada tumbuhan, bangunan atau nilai estetika dengan rentang PM2,5 sebesar 0-50.

Lalu, kategori sedang yaitu kualitas udaranya tidak berpengaruh pada kesehatan manusia ataupun hewan tetapi berpengaruh pada tumbuhan yang sensitif dan nilai estetika rentang PM2,5 sebesar 51-100.

Dan kategori yang sangat tidak sehat dengan rentang PM2,5 sebesar 200-299 atau kualitas udaranya dapat merugikan kesehatan pada segmen populasi yang terpapar. Terakhir, berbahaya (300-300) atau secara umum kualitas udaranya yang dapat merugikan kesahatan yang serius pada populasi.

Antisipasi Lonjakan Polusi, Sistem Peringatan Dini Tengah Disiapkan

Kota dengan kualitas udaranya yang terburuk di urutan pertama yaitu Karachi, Pakistan di angka 218, urutan keduanya Kolkata, India di angka 189, urutan untuk ketiganya Delhi, India di angka 187, dan urutan keempat Kinshasa, Demokratik Kongo (DR Kongo) di angka 177.

Jakarta menjadi salah satu kota dengan sistem pemantauan kualitas udaranya terintegrasi dan terluas di Indonesia, dengan 111 Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU) yang aktif di seluruh wilayah di Ibu Kota.

Asep Kuswanto sebagai Kepala Dinas Lingkungan (DLH) DKI Jakarta menjelaskan, sistem pemantauan tersebut merupakan kombinasi antara stasiun referensi dan sesnsor berbiaya rendah (Low-Cost Sensor atau LCS) yang dipasang di berbagai titik yang strategis.

“Melalui sistem yang terintegrasi ini, kami dapat memantau kondisi udara secara 'real-time' dan melakukan langkah mitigasi lebih cepat untuk melindungi kesehatan warga,” ujarnya, dikutip dari Antara.

Jaringan pemantauan tersebut merupakan hasil dari kolaborasi antara DLH DKI Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), organisasi masyarakat sipil, perguruan tinggi serta juga mitra dari sektor swasta.

Jakarta juga sudah menyiapkan “Erly Warning System” (EWS) untuk polusi udara sebagai langkah antisipasif dan responsif pada potensi tungkatan pencemaran.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6