Jelang Libur Nataru, Ini Strategi Pemerintah Antisipasi Lonjakan Kendaraan dan Kenaikan Harga Pangan

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian memprediksi mobilitas masyarakat pada libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) akan tinggi.

Diterbitkan 01 Desember 2025, 11:17 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Mendagri prediksi mobilitas tinggi saat Nataru 2025/2026.
  • Nataru berpotensi kenaikan harga pangan dan ancaman keamanan.
  • Pemerintah sinergi antisipasi kerawanan Nataru cegah insiden fatal.

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian memprediksi mobilitas masyarakat pada libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) akan tinggi. Hal ini dikarenakan banyak masyarakat memanfaatkan libur Nataru untuk berlibur atau pulang ke kampung halaman.

"Baik untuk merayakan Natal, liburan pulang kampung, atau liburan ke tempat-tempat wisata. Ini perlu kita siapkan bersama," kata Tito dalam rapat bersama dengan sejumlah kementerian/lembaga terkait di Gedung C Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, Senin (1/12).

Selain itu, kata Tito, kenaikan harga bahan pangan juga diprediksi terjadi saat libur Nataru. "Kemudian yang kedua, Nataru ini juga akan mengandung potensi kenaikan harga bahan pangan, karena untuk perayaan atau untuk pesta dan lain-lain. Oleh karena itulah, kita mengundang stakeholder di bidang kesiapan pangan," ujarnya.

Tito melanjutkan, pada libur Nataru nantinya juga terjadi potensi ancaman keamanan baik lalu lintas, maupun keamanan-keamanan yang berhubungan dengan bencana alam, tempat-tempat wisata yang ombaknya besar, hingga udara yang buruk serta kepadatan di titik-titik untuk perayaan malam tahun baru seperti di Ancol Jakarta dan lain-lain.

"Kita tidak ingin terjadi peristiwa seperti di Seoul, Korea pada saat terjadi Halloween beberapa tahun yang lalu. Itu tidak diamankan dengan baik, tidak diantisipasi baik, sehingga akhirnya mengakibatkan cukup banyak korban yang meninggal, 151 hampir 500 termasuk yang hilang," ungkapnya.

"Itu sama di negara yang modern tapi persiapannya tidak dilakukan. Akibatnya apa? Akibatnya terjadi desak-desakan, meninggal ini, kemudian dilakukan pengusutan investigasi, Wali kotanya menjadi tersangka, Kepala Polisi daerah itu, Itaewon ini jadi tersangka semua," sambung Tito.

Langkah Pemerintah

Menurut Tito, perlu sinergi antar pemangku kepentingan untuk mengantisipasi kerawanan saat libur Nataru. "Kami melakukan rapat ini dengan antar stakeholder. Sekali lagi yang semula yang memimpin Bapak Menko Polkam tapi saya minta diberikan mandat untuk menjadi moderator," tambahnya.

Setelah rapat, Tito ingin agar seluruh kepala daerah melakukan rapat dengan Forkopimda plus yang berhubungan dengan stakeholder kebencanaan maupun Nataru. Dia berharap, pemerintah daerah bisa melakukan pemetaan kerawanan bencana dan gangguan keamanan yang bisa terjadi selama libur Nataru.

"Karena pasti polisi perlunya perlu buat rencana operasi, TNI juga perlu membuat rencana operasi, Basarnas, BIN, dan lain-lain. Termasuk daerah membuat rencana operasi untuk menghadapi Natal Tahun Baru dengan berbagai multidimensi," pungkasnya.

Reporter: Nur Habibie

Sumber: Merdeka.com

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6