TNI AD: Pembentukan Satgas ke Gaza Butuh Proses, Tidak Bisa Langsung Berangkat

TNI Angkatan Darat menegaskan bahwa persiapan pengiriman pasukan untuk Satgas misi perdamaian Gaza tidak dapat dilakukan secara tergesa-gesa.

Diterbitkan 27 November 2025, 20:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Kolonel Inf Donny Pramono mengatakan, pihaknya tidak terburu-buru dalam menyiapkan dan mengirimkan pasukan yang akan tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) misi perdamaian Gaza.

"Masih dalam penggodokan juga, semuanya butuh proses. Jadi tidak bisa langsung, ada proses, ada pembentukan, penyiapan pasukan, situasi di sana seperti apa, diplomasi antar negara," kata dia di Mabesad, Jakarta, Kamis (27/11/2025).

Donny menuturkan, keberangkatan menuju Gaza tidak sama seperti bepergian antarwilayah di Indonesia. Seluruh proses harus melalui berbagai tahapan.

"Kita tidak bisa langsung berangkat. Karena kalau dalam negara sendiri oke, ini kan kita keluar. Tetap harus ada prosesnya," jelas dia.

Sebelumnya, Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Mayjen TNI (Mar) Freddy Ardianzah mengatakan pihaknya sudah mengantongi beberapa nama perwira bintang tiga yang akan menjadi Komandan Pasukan Pemelihara Perdamaian di Gaza.

"TNI telah menyiapkan beberapa nama kandidat, namun penetapan resmi Komandan Pasukan Pemelihara Perdamaian masih menunggu keputusan pemerintah dan PBB," kata Freddy dilansir Antara, Selasa (25/11/2025).

Freddy pun tidak menjelaskan dari mana asal matra perwira tinggi yang menjadi calon pemimpin pasukan perdamaian TNI di Gaza.

"Yang jelas, komandan akan berasal dari perwira tinggi bintang tiga yang memiliki pengalaman memadai dalam operasi gabungan dan operasi multilateralisme," jelas Freddy.

 

Kriteria Komandan Perdamaian Gaza

Selain itu, Freddy mengatakan, Komandan Pasukan Pemelihara Perdamaian yang akan dikirim ke Gaza harus memiliki empat kriteria khusus. Freddy mengatakan kriteria pertama yang harus dimiliki yakni pengalaman operasi gabungan TNI.

Pengalaman ini, kata Freddy, harus dimiliki karena nantinya operasi pemelihara perdamaian akan melibatkan tiga brigade komposit yang terdiri dari pasukan gabungan lintas matra.

"Syarat selanjutnya pengalaman penugasan internasional atau pendidikan luar negeri, pemahaman mengenai operasi pemeliharaan perdamaian," ujar Freddy.

Dengan pengalaman penugasan di tingkat internasional terkhusus di bidang misi perdamaian, Freddy yakin sosok komandan tersebut akan lebih mudah menjalankan operasi dan koordinasi di Gaza.

Terakhir, syarat yang harus dimiliki calon Komandan Pasukan Pemelihara Perdamaian di Gaza adalah memiliki kemampuan melakukan diplomasi militer. "Syarat ke empat kemampuan diplomasi militer dan komunikasi strategis," kata Freddy.

Seleksi Komandan Pasukan perdamaian

Terpisah, Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto mengatakan pasukan perdamaian yang akan dikirim ke Gaza, Palestina dipimpin oleh pejabat TNI berpangkat bintang tiga.

"Untuk kontingen Pasukan Pemelihara Perdamaian sudah tahap seleksi. Kemudian rencana nanti dipimpin oleh jenderal bintang tiga," kata Agus usai menjalani rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi I di gedung DPR, Jakarta Pusat, Senin (24/11).

Dia sendiri tidak menjelaskan alasan khusus menunjuk pejabat bintang tiga untuk memimpin pasukan perdamaian ke Gaza.

Agus melanjutkan, pasukan yang dipimpin oleh pejabat bintang tiga ini akan membawahi tiga brigade komposit.

Setiap brigade komposit itu terdiri dari tiga batalyon utama yakni batalyon kesehatan, Batalyon Zeni Konstruksi dan Batalyon Bantuan.

"Ada lagi bantuan mekanis," kata Agus kepada awak media.

Agus mengatakan seluruh pasukan perdamaian itu akan dikirim setelah TNI mengirimkan tim aju terlebih dahulu ke wilayah Gaza. Pengiriman tim aju itu dilakukan agar TNI mengetahui gambaran situasi di Gaza dan lokasi yang tepat untuk pengiriman pasukan.

Namun demikian, Agus tidak merinci kapan pasukan tersebut akan dikirim. Dia hanya memastikan Mabes TNI menunggu perintah dari pemerintah pusat dalam mengirim pasukan.

 

 

 

Reporter: Nur Habibie/Merdeka.com

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6