Pemerintah Tegaskan Gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto Bentuk Penghormatan Negara

Keputusan pemerintah memberikan gelar pahlawan nasional bagi Soeharto disambut hangat dan berjalan kondusif di berbagai daerah.

Diterbitkan 10 November 2025, 15:55 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Suasana khidmat mewarnai peringatan Hari Pahlawan 10 November 2025, yang tahun ini menjadi momentum bersejarah dengan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto.

Keputusan tersebut disambut hangat dan berjalan kondusif di berbagai daerah. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan bahwa keputusan Presiden Prabowo Subianto memberikan gelar tersebut merupakan bentuk penghormatan negara atas kontribusi besar Soeharto terhadap pembangunan nasional.

“Pemerintah memberikan gelar pahlawan kepada mantan Presiden Soeharto untuk menghormati tokoh pendahulu,” ujar Prasetyo di Jakarta, Sabtu (8/11/2025).

Anggota DPR RI Fraksi NasDem Rachmat Gobel menilai langkah pemerintah ini dapat memperkuat persatuan bangsa dengan menempatkan jasa pemimpin masa lalu secara proporsional.

"Setiap orang pasti punya kelemahan dan kekurangan, namun kontribusi Pak Harto sangat besar bagi bangsa dan negara ini,” kata Rachmat.

Dukungan juga datang dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Tokoh muda Nahdliyin Jawa Timur, KH Achmad Syamsul Askandar (Gus Aan), menyebut bahwa bangsa besar adalah bangsa yang menghormati sejarah dan tokohnya.

“Sebagai manusia biasa tentu beliau tidak luput dari salah dan khilaf. Bahkan Presiden Gus Dur pun pernah mengatakan bahwa Presiden Soeharto adalah orang yang memiliki jasa sangat besar bagi bangsa ini, walaupun dosanya juga besar,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW), TGKH Muhammad Zainuddin Atsani, menyoroti kiprah Soeharto dalam perjuangan mempertahankan kedaulatan bangsa.

“Soeharto dikenal karena perannya dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, yang sangat penting dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia dari Belanda,” katanya.

Dari kalangan Muhammadiyah, Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menyebut penganugerahan ini tepat sebagai bentuk penghormatan terhadap dedikasi panjang Soeharto.

“Karena selama 30 tahun dari kepemimpinan beliau sebagai presiden, saya tahu pasti beliau adalah seorang pemimpin yang mempunyai komitmen untuk membangun bangsa dan negara,” ujar Din.

Dukungan juga datang dari kalangan muda. Presidium Nasional BEM PTNU se-Nusantara, Achmad Baha’ur Rifqi, menilai Soeharto memiliki peran besar dalam menciptakan stabilitas nasional.

“Soeharto dikenal sebagai pemimpin yang berperan penting dalam menciptakan stabilitas nasional dan kemajuan pembangunan,” tegasnya.

 

 

Simbol Kedewasaan Demokrasi

Direktur Eksekutif ToBe Institute, Mochamad Imamudinussalam, menilai penganugerahan gelar pahlawan kepada Soeharto mencerminkan objektivitas dan kematangan demokrasi Indonesia.

“Soeharto hadir melalui program seperti swasembada pangan, pembangunan infrastruktur desa, teknologi, peningkatan kesejahteraan petani, hingga kebijakan ekonomi yang pro-rakyat. Soeharto adalah bagian penting dari perjalanan republik ini,” jelasnya.

Ia menambahkan, penghargaan ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia telah mampu menempatkan sejarah secara proporsional, tidak untuk mengultuskan, tetapi untuk menghargai jasa dan belajar dari masa lalu.

Di tengah suasana Hari Pahlawan yang berlangsung damai dan tertib, masyarakat menilai keputusan pemerintah sebagai wujud kedewasaan politik dan rekonsiliasi sejarah bangsa. Peringatan tahun ini menjadi pengingat bahwa perjuangan dan pengabdian tidak hanya dihargai di masa lalu, tetapi juga menjadi inspirasi untuk melanjutkan cita-cita kemerdekaan.

Hari Pahlawan 2025 menegaskan bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar — karena mampu menghormati sejarah, menghargai jasa, dan bersatu dalam perbedaan demi masa depan yang lebih baik.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6