Gelar Pahlawan untuk Soeharto Dinilai Momentum Bangsa Berdamai dengan Masa Lalu

Menurutnya, jasa Soeharto dalam menjaga stabilitas nasional, membangun pertanian, dan memperkuat fondasi ekonomi Indonesia selama puluhan tahun tak bisa dihapus hanya karena perbedaan pandangan politik.

Diterbitkan 08 November 2025, 04:12 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Emanuel Kota mendukung gelar pahlawan nasional untuk Presiden Soeharto.
  • Jasa Soeharto dalam stabilitas, pertanian, dan ekonomi tak bisa diabaikan.
  • Gelar pahlawan adalah wujud kedewasaan bangsa untuk berdamai dengan sejarah.

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Aliansi Indonesia Timur, Emanuel Mikael Kota, mendukung pemberian gelar pahlawan nasional kepada almarhum Presiden Soeharto.

Menurutnya, jasa Soeharto dalam menjaga stabilitas nasional, membangun pertanian, dan memperkuat fondasi ekonomi Indonesia selama puluhan tahun tak bisa dihapus hanya karena perbedaan pandangan politik.

Ia menilai, setiap pemimpin memiliki catatan, namun sejarah yang utuh harus diukur dari dampak perjuangannya terhadap negara, bukan dari sisi personal semata.

“Soeharto bukan tanpa cela, tapi beliau juga bukan tanpa jasa. Beliau pemimpin yang melanjutkan estafet sejarah dari Soekarno, bukan pemutusnya,” tuturnya.

Emanuel menilai, bangsa Indonesia seharusnya mampu bersikap dewasa terhadap perbedaan tafsir sejarah. Ia mengingatkan bahwa dendam politik yang diwariskan hanya akan menciptakan jarak antargenerasi, bukan kedewasaan bernegara.

“Kalau dendam terus dipelihara, nanti anak cucu kita belajar sakit hati, bukan belajar menghargai sejarah,” ujarnya.

 

Berdamai dengan Masa Lalu

Lebih lanjut, Emanuel mengajak seluruh elemen politik untuk menjadi contoh dalam memupuk semangat persatuan. Menurutnya, semua partai di Indonesia sering menyerukan damai dan persatuan, maka seharusnya juga mampu menunjukkan kedewasaan dalam menghadapi masa lalu bangsa.

“Rekonsiliasi jadi wujud kematangan politik, sedangkan retaliasi hanya menunjukkan kita belum tuntas memahami makna kebangsaan,” tegasnya.

Emanuel menaruh penghormatan terhadap tokoh bangsa seharusnya menjadi ruang edukatif bagi generasi muda untuk mengenal perjalanan panjang Indonesia secara objektif, bukan emosional.

“Bangsa besar bukan bangsa tanpa luka, tapi bangsa yang bisa memaafkan dan terus melangkah. Gelar pahlawan untuk Soeharto bukan tentang masa lalu, tapi tentang kemauan bangsa ini untuk berdamai,” pungkasnya.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6