Liputan6.com, Jakarta - Malam Anugerah Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2025 yang diadakan di Teater Mini Taman Ismail Marzuki (TIM) pada Rabu (5/11/2025) menorehkan sejarah baru dalam dunia sastra Indonesia.
Tahun ini, panitia menerima sebanyak 1.162 naskah, jumlah terbanyak sepanjang sejarah penyelenggaraan sayembara sejak pertama kali digelar pada 1974. Dari total tersebut, 792 naskah berhasil lolos seleksi administrasi.
Yang menarik, lebih dari 350 naskah di antaranya ditulis oleh gen Z. Fenomena ini menunjukkan bahwa di tengah derasnya arus digital dan budaya instan, anak muda masih memiliki antusiasme tinggi terhadap dunia sastra. Mereka bukan hanya aktif membaca, tetapi juga menulis, bereksperimen dengan bentuk dan bahasa, serta membawa warna baru bagi wajah sastra Indonesia.
Advertisement
“Secara keseluruhan, yang paling menarik adalah, bagi kami dewan juri adalah menikmati atas regulasi penulis muda, dan keberdayaan dalam eksplorasi tema. Tema kompleks dan bentuk naratif eksperimen diiringi catatan kritis mengenai kebutuhan peningkatan keterampilan, tidak hanya keterampilan bahasa, tetapi kerajinan mereka untuk mengeksplorasi, melakukan beragama eksperimen” ujar Ida Ayu Oka Rusmini, salah satu dewan juri yang ikut menilai ratusan naskah secara ‘buta’ tanpa mengetahui identitas penulisnya.
Oka juga berharap bahwa pemenang tahun ini berasal dari generasi muda dan nama baru bagi sastra Indonesia.
“mudah-mudahan sih nama baru. Bagi saya kalau nama baru itu lebih menarik. Karena seperti tadi yang diomongkan Minanto (pemenang DKJ tahun 2019), bagaimana dia sulit mendapatkan penerbit, kan? Begitu dia menang, orang pada pengen.” Tambah Oka.
Tantangan Besar Tahun Ini
Dewan juri Sayembara Novel DKJ 2025 menghadapi tantangan besar tahun ini. Dari 1.162 naskah yang masuk, hanya 792 yang lolos seleksi administrasi, menjadikannya rekor peserta terbanyak sepanjang sejarah sayembara sejak 1974.
Seluruh naskah dinilai melalui sistem “baca buta”, di mana juri tidak mengetahui identitas penulis, termasuk nama, usia, atau gendernya.
“Kami hanya membaca berdasarkan nomor naskah, tanpa tahu siapa penulisnya. Bisa saja ditulis oleh anak 16 tahun, atau ibu berusia 60 tahun,” ujar Ida Ayu Oka Rusmini, salah satu dewan juri.
Metode ini diterapkan untuk menjaga objektivitas dan menghindari bias, sekaligus memperlihatkan keragaman karya sastra Indonesia saat ini. Dari hasil pembacaan, juri mencatat penulis perempuan mencapai 49,1 persen, laki-laki 47 persen, dan sisanya tidak menyebutkan gender.
“Data ini saya dapatkan dari Panitia. Jadi data itu Panitia tahu namanya. Mereka yang memberitahu kami dewan juri, memberikan demografi tentang urutan gender, misalnya. Dari gender penulis perempuan berapa. Kemudian komposisi generasinya. Lalu peta sebaran geografis. Jadi ada gender penulis, ada komposisi generasinya, lalu ada peta sebaran geografis.” Jelas Oka
Selain itu, juri menyoroti keberanian para penulis muda dalam bereksperimen dengan bentuk dan bahasa, termasuk karya yang menantang struktur novel tradisional.
“Bagi kami, ini wajah sastra Indonesia hari ini beragam, eksperimental, dan penuh semangat eksplorasi,” tambahnya
Advertisement
Di Tengah Dunia Digital, Gen Z Ternyata Masih Suka Menulis
Dalam sesi diskusi publik bersama para pemenang terdahulu, pemenang DKJ Tahun 2012 dengan novel Semusim dan Semusim Lagi, Andina Dwifatma, menilai bahwa generasi muda saat ini memiliki cara baru untuk berinteraksi dengan dunia literasi.
“Saya sekarang banyak ngajar anak-anak Gen Z. Mereka mungkin nggak semuanya paham istilah ‘sastra’, tapi mereka ngerti banget soal dunia perbukuan,” ujar Andina.
Menurutnya, tren booktok di TikTok dan berbagai komunitas baca menjadi jembatan yang membuat anak muda kembali dekat dengan buku. Fenomena seperti “kencan buta membaca buku” hingga kegiatan baca di taman menunjukkan bahwa sastra kini hadir dalam bentuk pengalaman, bukan sekadar bacaan.
“Gen Z ini banyak positifnya. Mereka suka bereksperimen, penasaran sama sejarah, dan ingin tahu kenapa Indonesia bisa jadi seperti sekarang,” tambahnya.
Andina menyebut, rasa ingin tahu itulah yang membuat mereka tetap menulis dan membaca, bahkan terhadap karya-karya berat seperti novel Pramoedya Ananta Toer atau buku bertema sejarah dan media.
” Dan ada saya ngobrol dengan seorang editor dari sebuah penerbit. Dia juga bilang bahwa buku-buku yang dikiranya susah, mungkin buku-buku soreto fiction atau buku-buku tentang teknologi, media, segala macam, itu laris dan yang beli anak muda.”
Baginya, antusiasme generasi Z terhadap literasi adalah bukti bahwa sastra masih punya tempat di tengah gempuran dunia digital.
Soroti Peran Pemerintah
Dalam diskusi publik perayaan 50 tahun Sayembara Novel DKJ, Zen Hae salah satu sastrawan yang menjadi narasumber di sesi diskusi ini menyoroti pentingnya peran pemerintah dalam memperluas jangkauan karya sastra Indonesia. Salah satu usulan yang mencuri perhatian yang menilai perlunya langkah konkret agar karya pemenang tidak berhenti di panggung penghargaan saja.
“Setiap buku pemenang bisa dibeli seribu eksemplar oleh pemerintah, lalu disebarkan ke sekolah, perpustakaan, atau kampus. Dengan begitu, buku-buku sastra bisa hidup di ruang publik dan dikenal lebih luas,” ujar Zen Hae.
Menurutnya, langkah itu bukan hanya bentuk apresiasi, tapi juga promosi kebudayaan yang efektif. Pemerintah daerah, khususnya Pemprov DKI Jakarta, disebut punya potensi besar untuk mendukung upaya ini.
“Buku bisa jadi buah tangan dari Jakarta untuk tamu kota lain, atau bahkan diterjemahkan untuk promosi internasional. Biayanya tidak besar, tapi dampaknya luar biasa,” tambahnya.
Selain soal distribusi, para anggota DKJ juga menyinggung perlunya peningkatan nilai hadiah bagi pemenang sayembara agar setara dengan penghargaan bergengsi lainnya. Mereka berharap ke depan, pemerintah dan lembaga seni bisa bekerja sama memastikan karya sastra Indonesia tidak hanya diakui, tapi juga dibaca.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300009/original/089493000_1784283677-Untitled_design.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297860/original/099954200_1784109220-cek_fakta_-_purbaya_kuis_tebak_nama_kota.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5380981/original/046199200_1760441878-klaim_link_magang_kemnaker.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299864/original/085658400_1784277079-pupuk_subsidi_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5404599/original/050625800_1762411263-DKJ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262483/original/075097700_1781805987-Argentina_s_Lionel_Messi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9295935/original/031909000_1783995386-063_2285696199.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4256899/original/040579900_1670717208-Inggris_vs_Prancis_di_Laga_Perempat_Final_Piala_Dunia_2022-AP__11_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4205869/original/033832800_1666872124-000_32G277K.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260364/original/000638100_1781588460-spanyol_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4682019/original/069510400_1702289989-20231211-Javier_Milei-AFP_6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299963/original/007789300_1784281017-mainoo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298217/original/010036300_1784154923-Argentina_s_Lautaro_Martinez_england.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297036/original/087342800_1784067028-fran2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299157/original/011157800_1784196356-prancis.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299934/original/041038100_1784279853-cincin.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298567/original/084606300_1784174337-000_C2B89X9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5319153/original/007607300_1755506626-bansos.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9111093/original/069973500_1783058485-ChatGPT_Image_Jul_3__2026__12_59_48_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8461824/original/084186200_1782361638-Gemini_Generated_Image_xtqjjwxtqjjwxtqj.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262607/original/041916400_1781839479-Depositphotos_301815044_L.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8409910/original/019381400_1782293451-pexels-silverkblack-36729921.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8331358/original/056747700_1782201481-hl.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264373/original/052303700_1782108905-6342f6fd-d4dd-4bee-904b-316eebee200b.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8324992/original/077464500_1782194449-hl2.jpg)